Saris duduk termenung di atas sebuah batu di Sungai Senowo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sambil menatap nanar endapan pasir dan batu dari Gunung Merapi yang melenyapkan Hasyim, saudaranya, Rabu (4/3/2026) pagi. Puluhan anggota Tim SAR dari jajaran Polri, TNI, sejumlah instansi sukarelawan, dan seekor pelacak dari Polresta Magelang, masih terus berjibaku mencari dua orang korban yang belum ditemukan pascaperistiwa banjir lahar hujan, sehari sebelumnya.
Ketika matahari mulai meninggi, harapan Saris untuk menemukan saudaranya itu dalam keadaan hidup kian pudar. Ia pun bersiap menerima kenyataan bahwa Hasyim akan segera menyusul masuk ke dalam daftar korban tewas bersama ketiga korban lainnya yang telah ditemukan.
Dukungan moral berupa pelukan diberikan kepada Saris oleh sejumlah sukarelawan yang turut terlibat dalam operasi pencarian korban. Tulus (40), seorang sukarelawan dari organisasi Guruh Merapi, adalah salah satunya.
Pagi itu Tulus turut mengevakuasi korban yang terjepit di bawah sebuah batu besar. Pria yang sehari-hari juga berprofesi sebagai penambang pasir itu masih merasa ngeri setelah ikut dalam proses evakuasi rekan seprofesinya itu.
"Saya beruntung kemarin memilih libur menambang sejak pagi. Pada malam hari sebelumnya saya sudah memiliki firasat buruk bahwa akan terjadi sesuatu sehingga saya memilih meliburkan diri," kata Tulus sembari mengais pasir dengan menggunakan sebilah tongkat dari potongan kayu. Tulus dan puluhan anggota sukarelawan lainnya terus berusaha keras mencari sejumlah jenazah yang belum ditemukan agar mereka dapat dimakamkan dengan layak.
Banjir lahar hujan yang terjadi sehari sebelumnya pascahujan deras selama sekitar empat jam di kawasan puncak Gunung Merapi membawa dampak destruktif di sejumlah sungai yang berhulu di Merapi. Sungai Senowo adalah salah satu yang mengalami dampak paling parah.
Sedikitnya tiga korban telah ditemukan tewas akibat peristiwa itu dan dua korban lainnya masih dalam pencarian. Sebanyak enam warga juga mengalami luka-luka.
Banjir itu juga mengakibatkan sekitar 12 truk milik penambang rusak akibat terjebak endapan. Sebanyak tiga truk lainnya bahkan hanyut terseret banjir hingga nyaris tidak berbentuk.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat guyuran hujan di puncak Merapi pada pukul 15.00 itu total curah hujannya mencapai sekitar 144 milimeter atau melampaui ambang batas aman potensi banjir lahar hujan. Sistem pemantauan curah hujan Gunung Merapi secara otomatis mengirimkan informasi kejadian hujan serta peringatan dini bahaya lahar dan awan panas kepada masyarakat dan para penambang mulai pukul 15.15.
Meski telah mendapat peringatan, namun sebagian penambang tetap melanjutkan aktivitas mereka di sejumlah sungai. Hal tersebut sangat disayangkan karena berujung pada jatuhnya sejumlah korban jiwa akibat sapuan banjir lahar hujan.
Banjir lahar hujan adalah suatu peristiwa yang kerap terulang dalam berbagai skala. Jika peringatan ancaman bahaya diindahkan, maka risiko banjir yang memakan korban jiwa tentu dapat diminimalkan.





