Kementerian Kesehatan mencatat per 28 Februari 2026, ada 572 kasus campak yang terkonfirmasi laboratorium. Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan data 1 Januari 2026 yang mencatat 50 kasus campak.
Kenaikan kasus tersebut membuat 11 provinsi menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin sebelumnya mengatakan maraknya hoaks dan disinformasi di media sosial menjadi penyebab utama rendahnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya campak dan pentingnya vaksinasi. Sehingga membuat sebagian orang ragu bahkan menolak vaksin, meski campak merupakan penyakit berbahaya yang dapat dicegah.
“Banyak hoaks dan DFK (Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian) di media sosial,” ujar Budi saat dihubungi kumparan, Rabu (4/3).
Terkait hal ini, Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI yang juga mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, mengatakan masalah masyarakat yang antivaksin bukan hanya terjadi pada campak, tetapi juga pada vaksin penyakit lain. Menurutnya, diperlukan penyuluhan masif untuk mengatasi masalah ini.
Dia menambahkan, saat ini vaksin campak yang beredar aman. Hanya saja, pemerintah harus menjamin bahwa cold chain (sistem manajemen, penyimpanan, dan distribusi logistik yang mengatur suhu vaksin secara ketat) berfungsi baik.
Sudah Vaksin Lengkap, Kenapa Masih Kena Campak?
Prof. Tjandra menjelaskan, data ilmiah menunjukkan efikasi vaksin campak lengkap (dua kali) adalah 97%, artinya seseorang yang sudah divaksinasi lengkap masih memiliki kemungkinan sekitar 3% untuk jatuh sakit. Namun, data Kementerian Kesehatan menunjukkan kenyataan berbeda.
Berdasarkan laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKD Kemenkes, laporan rutin provinsi MR-02) per 28 Februari 2026, dari 572 kasus campak yang terkonfirmasi laboratorium, 67% belum pernah menerima imunisasi sama sekali.
"Sehingga dapat dimengerti mereka amat rentan tertular dan terbukti memang sakit campak," ucapnya.
Namun, data juga menunjukkan bahwa 15% dari 572 kasus campak pada 2026 ternyata sudah mendapat vaksinasi dua kali atau lebih, sehingga seharusnya sudah terlindungi, tetapi tetap jatuh sakit.
Menurut Prof. Tjandra, ada lima penjelasan kenapa pasien yang sudah divaksinasi lengkap masih bisa terinfeksi:
Efikasi vaksin campak adalah 97%, sehingga wajar jika 3% dari yang sudah divaksin tetap jatuh sakit.
Penyusutan antibodi, terutama pada orang-orang tertentu. Bayi yang divaksinasi terlalu dini mungkin memiliki tingkat antibodi lebih rendah dan perlindungan lebih cepat memudar dibandingkan yang divaksinasi sesuai jadwal standar.
Paparan terus-menerus terhadap virus dalam waktu lama.
Mutasi virus yang menyebabkan penurunan sebagian imunitas yang didapat dari vaksinasi.
Mutu vaksin dan distribusinya. Vaksin harus disimpan dan didistribusikan sesuai cold chain. Bila mutu vaksin tidak dijaga atau proses distribusi tidak sesuai, efek perlindungan akan berkurang.
"Kalau mutu vaksinnya awalnya bagus tetapi penyimpanan dan proses distribusi tidak disertai cold chain yang sesuai aturan, maka mutu vaksin juga akan menurun dan efek perlindungannya berkurang," jelasnya.
"Jadi, tentu perlu dilakukan analisa mendalam tentang kenapa ada 15% kasus campak pada 2026 ini yang sudah divaksin lengkap tetapi masih sakit. Setelah ditemukan masalahnya, tentu harus diperbaiki agar tidak terulang lagi," tambah Prof. Tjandra..





