JAKARTA, KOMPAS.com - Sejak perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS) meletus pada Jumat (28/2/2026), eskalasi konflik semakin meningkat.
Israel dan AS menyerang Iran. Desing rudal dan drone diarahkan Iran ke Israel, tetapi juga ke sejumlah pangkalan udara milik AS di beberapa negara di Timur Tengah.
Ketegangan perang ini belum terlihat titik akhirnya, terlebih pada hari ini, Rabu (4/3/2026) Iran mengumumkan pemimpin barunya, Mojtaba Khamenei yang menggantikan ayahnya yang gugur dalam serangan pertama Israel.
Saat ini ada ratusan ribu, baik jemaah umrah maupun pekerja migran Indonesia (PMI) yang bermukim di negara sekitar konflik. Ada juga WNI yang berstatus sebagai pelajar yang sedang menimba ilmu di Timur Tengah.
Baca juga: Menlu RI Minta KBRI Tangani 160 WNI di Yordania yang Minta Dievakuasi
Plt Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah, mengatakan, pada 28 Februari 2026, tercatat jumlah WNI yang berada di kawasan Timur Tengah mencapai 519.042 orang.
Karena eskalasi konflik ini tak bisa dikalkulasi kapan akan berakhir, muncul desakan agar pemerintah Indonesia memprioritaskan keselamatan warganya di Timur Tengah.
Pemerintah harus gerak cepatPimpinan Advokat Integritas Justitia Madani Indonesia (IJMI) Yunety Tarigan mengatakan, meski konflik terus memanas, pemerintah Indonesia dinilai bergerak lambat dalam prioritas evakuasi WNI di daerah konflik.
Khususnya untuk WNI yang menjadi pekerja migran di Timur Tengah sesuai dengan domain isu yang didalami IJMI.
"Pertama yang kami sangat sesalkan itu adalah kami tuh tidak melihat jumlah berapa banyak pekerja migran yang bekerja di Iran. Terlepas dari ada pekerja yang legal terdaftar ataupun unprocedural di sana," ucapnya.
Seharusnya, kata wanita yang akrab disapa Neti, perlindungan harus segera melekat dan menjadi kewajiban negara untuk melakukan evakuasi WNI di daerah konflik.
Baca juga: Perang AS-Israel vs Iran, 15 WNI Siap Dievakuasi dari Teheran
Dia juga menyoroti, risiko perang yang semakin besar karena tak hanya Israel yang diserang Iran, tetapi juga negara-negara yang terdapat pangkalan militer Amerika Serikat, seperti Persatuan Emirat Arab dan beberapa negara teluk lainnya.
"Kami minta itu dievakuasi sebenarnya ke daerah yang aman. Nah, proses evakuasinya sendiri pastikan bahwa tidak ada 'no one left behind', gitu. Bahwa semua itu bisa dievakuasi dengan selamat," ucapnya.
"Sebenarnya bukan di daerah Iran saja, tapi karena ini konfliknya sudah hampir seluruh Timur Tengah, maka kami berharap di daerah-daerah juga yang menjadi sasaran seperti Oman, terus daerah yang Emirates gitu ya," ucapnya.
Segera evakuasi untuk melindungi WNIHal senada diungkapkan Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana.
Dia menyarankan agar pemerintah Indonesia segera mengevakuasi para WNI seiring dengan meningkatkannya eskalasi di Timur Tengah. Menurut Hikmahanto, langkah tersebut penting untuk melindungi WNI dari kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.





