JAKRTA, KOMPAS.com - Paparan polusi udara jenis PM2.5 di Jakarta disebut berpotensi menurunkan usia harapan hidup masyarakat.
Partikel halus berbahaya ini tidak hanya berasal dari emisi kendaraan bermotor dan industri, tetapi juga dipicu oleh aktivitas pembakaran terbuka seperti membakar sampah hingga asap pembakaran makanan, termasuk sate.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Erni Pelita Fitratunnisa, menjelaskan, PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang mengandung berbagai zat beracun. Karena ukurannya yang mikroskopis, partikel ini mudah terhirup dan masuk hingga ke paru-paru.
“Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prof. Budi ya dari FKM UI, itu sudah seringkali beliau menyampaikan bahwa PM2.5 itu memang satu partikel yang di dalamnya itu banyak sekali sub-sub partikel yang sangat kecil dan itu ya beracun,” ujar Erni dalam acara Bincang Santai Polusi Udara Clean Air Asia di Jakarta Pusat, Rabu (4/3/2026).
Baca juga: 3 Jurus Pramono Tekan Polusi Udara Jakarta Lewat Transportasi dan Sampah
Menurut Erni, kelompok rentan seperti balita dan lanjut usia menjadi yang paling berisiko terdampak. Paparan PM2.5 dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), memperparah penyakit paru, serta meningkatkan risiko penyakit kronis.
Ia juga menyebut ada penelitian yang mengaitkan polusi udara dengan risiko kanker dan gangguan perkembangan anak.
“Teman-teman dari Kemenkes juga menyampaikan hal yang sama. Kena tuh ISPA, terutama usia-usia rentan. Usia rentan itu anak-anak balita, terus orangtua,” ujarnya.
DLH DKI memantau kualitas udara melalui Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang tersebar di sejumlah titik. Data tersebut dapat diakses publik melalui aplikasi JAKI dan kanal informasi udara Jakarta.
Jika kadar PM2.5 melebihi baku mutu, sistem akan memberikan peringatan agar masyarakat membatasi aktivitas luar ruangan.
Erni mencontohkan, dalam satu kasus pengukuran di lingkungan sekolah, kadar PM2.5 terdeteksi melampaui ambang batas.
DLH kemudian menyarankan agar aktivitas di luar kelas dikurangi untuk sementara waktu guna melindungi kesehatan siswa. Namun, imbauan tersebut sempat menuai keberatan karena berbenturan dengan agenda kegiatan sekolah.
Setelah ditelusuri, salah satu penyebabnya adalah banyaknya sepeda motor yang dinyalakan bersamaan saat jam pulang sekolah. Gas buang kendaraan tersebut langsung tertangkap alat pemantau.
Baca juga: Pramono Buka Peluang Pengadaan Truk Sampah Listrik untuk Kurangi Polusi Udara
“Kenapa PM2.5 tinggi? Karena banyak motor yang parkir di situ. Jadi pada saat dia nyalain motor, ngegas, itu PM2.5-nya tertangkap oleh stasiun kami,” katanya.
Selain emisi kendaraan, aktivitas pembakaran terbuka juga memberi kontribusi terhadap peningkatan PM2.5. Erni menyebut pembakaran sampah sebagai penyumbang paling besar dan paling berbahaya.
Namun, asap dari pembakaran lain seperti ikan atau sate di warung makan tetap memengaruhi konsentrasi partikel di udara.
“Kadang kami lihat di SPKU angkanya tinggi terus. Kami minta dicek ke lapangan, apakah ada yang bakar sampah, bakar ikan, atau bakar sate. Itu pasti ada pengaruhnya. Tapi yang paling fatal tetap pembakaran sampah,” katanya.
Erni menegaskan pengendalian polusi udara membutuhkan kolaborasi semua pihak, tidak hanya pemerintah sendiri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




