BANDAR LAMPUNG, KOMPAS - Kematian M Sultan Alfatih (8), siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Bengkulu Utara, Bengkulu, menjadi perbincangan di media sosial beberapa hari terakhir. Pelajar itu meninggal setelah menjalani operasi akibat pendarahan dan penggumpalan cairan di kepala. Badan Gizi Nasional (BGN) menepis isu penyebab kematian pelajar itu karena keracunan makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Kepolisian Resor Bengkulu Utara Ajun Komisaris Besar Bakti Kautsar Ali mengatakan, telah meminta hasil uji makanan MBG dari Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bengkulu.
“Hasil uji makan dari BPOM terhadap sampel makanan MBG yang dikonsumsi korban, tidak ditemukan zat-zat berbahaya dalam menu tersebut,” kata Bakti dalam keterangan resmi, dikutip pada Rabu (4/3/2026).
Sebelumnya, Polres Bengkulu Utara menggelar konferensi pers, Selasa (3/3/2026) malam. Turut hadir Direktur RS Tiara Sella Bengkulu Syella Ania dan Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wilayah Bengkulu Gloria EM Situmorang.
Bakti mengungkapkan, hasil pemeriksaan kesehatan terhadap Alfatih menyimpulkan, pelajar itu mengalami pendarahan dan penggumpalan cairan di kepala. Dia meninggal setelah sempat menjalani operasi di rumah sakit.
“Hasil medis menyatakan penyebab kematian korban murni karena pendarahan otak dan penggumpalan cairan di kepala yang memicu hentinya jantung,” tambah Bakti.
Kematian Alfatih menjadi perbincangan di media sosial beberapa hari terakhir. Sejumlah akun di media sosial menyebarkan informasi kematian pelajar itu akibat keracunan menu MBG.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Polres Bengkulu Utara, siswa itu pertama kali mengeluh pusing dan jatuh pingsan pada Kamis (26/2/2026).
Di hari yang sama, Alfatih baru saja mendapatkan menu makanan MBG berupa roti burger. Menu MBG itu didistribusikan oleh SPPG Giri Kencana.
Alfatih sempat dirawat di RS Lagita Ketahun. Ia muntah dan kejang di rumah sakit.
Pelajar itu kemudian dirujuk ke RS Bhayangkara Bengkulu karena mengalami penurunan kesadaran drastis. Hasil CT scan menunjukkan pendarahan dan penggumpalan cairan di kepala anak laki-laki itu.
Alfatih kemudian dirujuk ke RS Tiara Sella untuk menjalani operasi pada Sabtu (28/2/2026) pagi. Meski upaya medis telah dilakukan, kondisi korban terus menurun hingga dinyatakan meninggal pada Sabtu malam. Jenazah Alfatih kemudian dibawa ke rumah duka di Desa Giri Kencana dan dimakamkan pada Minggu (1/3/2026).
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik S Deyang menegaskan, penyebab meninggalnya Alfatih tidak berkaitan dengan konsumsi menu MBG.
Menurut dia, hasil uji laboratorium yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menunjukkan tidak ditemukan bakteri E. coli. Selain itu, tidak ditemukan juga adanya indikasi cemaran lain pada sampel makanan MBG yang telah diperiksa.
“Hasil uji BPOM menunjukkan seluruh sampel negatif, tidak ada bakteri E. coli, boraks, formalin, nitrit, arsen, sianida, ataupun temuan lain yang mengarah pada keracunan pangan,” kata Nanik.
Dia menjelaskan, ada sedikitnya 1.800 penerima manfaat MBG pada hari tersebut. Dari jumlah itu, hanya Fatih yang mengalami kondisi gangguan kesehatan. BGN tidak menerima laporan kejadian yang mengindikasikan adanya dugaan keracunan makanan.
Nanik menegaskan, informasi yang mengaitkan kematian korban dengan dugaan keracunan MBG tidak sesuai fakta di lapangan. “Hanya satu kasus ini, dan secara medis ditemukan adanya pendarahan otak,” ujarnya.
“BGN menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Fatih dan mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi serta menunggu informasi resmi berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan laboratorium yang dapat dipertanggungjawabkan,” tutup Nanik.




