Lubuk Basung (ANTARA) - Sabtu (28/2) sekitar pukul 09.30 WIB, Dedi Saputra (35) mengendarai sepeda motornya menuju ke sawahnya dengan jarak sekitar satu kilometer dari rumahnya.
Warga Tabuah-Tabuah, Jorong Palupuh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, itu, memarkirkan sepeda motornya di pinggir jalan di dekat lokasi sawahnya.
Ia pun berjalan kaki menuju sawah. Dalam perjalanan, pria berambut panjang ini dikagetkan oleh seekor satwa liar jenis harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).
Satwa yang dilindungi Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, itu mencoba untuk mendekatinya.
Melihat satwa itu, Dedi mencoba memberitahukan kepada Syafril alias Cap (64) yang saat itu berada di kandang sapi tidak jauh dari lokasi.
Mereka mencoba untuk mengusir harimau itu, namun di raja hutan tidak mau pergi dan nampak kebingungan.
"Harimau kebingungan dan kami mencoba untuk mengusir dan tidak pergi. Harimau bertahan sekitar 20 menit di lokasi dengan jarak hanya sekitar 15 meter dari kandang dan harimau kemudian masuk ke lorong menuju semak-semak," kata Cap.
Ia menduga harimau tersebut dalam kondisi sakit dan seolah-olah memberitahukan kepada mereka kondisi kesehatannya atau minta diobati.
Harimau sumatera biasanya tidak pernah memperlihatkan belangnya, apalagi sampai masuk ke lokasi pertanian masyarakat atau perkebunan.
Sebelumnya, harimau sumatera juga mendekati warga saat sedang membersihkan lahan perkebunan pisang di Ladang Ateh, Jorong Palupuh, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kamis (26/2).
Pemilik lahan mengabadikan menggunakan telpon genggam miliknya dan kemunculan harimau itu sempat viral di media sosial.
Dengan kemunculan harimau tersebut, ia pun melaporkan ke Tim Patroli Anak Nagari (Pagari) Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh.
Pada Sabtu (28/2) siang, Tim Pagari Pasia Laweh beserta warga Tabuah-Tabuah melakukan penanganan interaksi negatif antara manusia dengan harimau.
Di lokasi, Tim Pagari Pasia Laweh mencari keberadaan satwa berupa jejak kaki dan memasang kamera trap atau jebak di lokasi kemunculan satwa dan perbukitan tidak jauh dari lokasi.
Tim Pagari Pasia Laweh beserta masyarakat Tabuah-Tabuah memasang dua kamera trap di lokasi munculnya harimau sumatera.
Kamera trap pertama, dipasang di lokasi kemunculan harimau sumatera di lahan sawah milik warga Tabuah-Tabuah, Jorong Palupuh, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam.
Untuk lokasi kedua, dipasang di daerah perbukitan atau punggungan dengan jarak sekitar 200 meter dari lokasi pertama.
Baca juga: Harimau masuk kebun, warga Agam halau dengan sirene ambulans
Didekati
Saat Tim Pagari Pasia Laweh dan masyarakat memasang kamera trap, mereka sempat didekati harimau dengan jarak sekitar lima meter. Namun, beberapa menit kemudian harimau langsung menghilang dan masuk ke kawasan hutan.
"Harimau mendekati kami hanya berjalan sekitar lima meter dan langsung menghindar dari kami dengan jumlah sembilan orang itu," kata Ketua Tim Pagari Pasia Laweh Bambang Purnama.
Ia merasa kaget dan takut melihat harimau sumatera secara langsung di alam dengan jarak tidak begitu jauh darinya.
Melihat kondisi itu, ia bergegas untuk memasang kamera trap di lokasi tersebut dan meminta anggota Pagari lainnya beserta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
Bambang mengakui baru pertama kali melihat harimau sumatera secara langsung di alam liar. Sebelumnya ia hanya melihat harimau hanya di kebun binatang dan siaran televisi.
"Ini pengalaman saya sangat luar biasa berteman secara langsung dengan harimau di alam. Selama ini, saya tidak pernah melihat apalagi saat melakukan patroli bersama anggota Tim Pagari Pasia Laweh," katanya.
Kemunculan harimau tersebut mendapatkan perhatian khusus dari Resor Konservasi Wilayah II Maninjau Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar.
Apalagi satwa tersebut sudah tiga kali ketemu dengan masyarakat di Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam.
Untuk menyikapi itu, BKSDA Sumbar menurunkan petugas beserta Tim Pagari Pasia Laweh dan Pagari Baringin untuk melakukan penanganan interaksi negatif antara manusia dengan satwa liar tersebut.
Penanganan interaksi negatif dengan mengumpulkan data dari warga yang melihat langsung harimau sumatera, mencari keberadaan satwa berupa jejak kaki, kotoran dan memasang kamera trap.
"Setidaknya ada enam kamera trap yang kita pasang di sejumlah titik lokasi kemunculan satwa di Tabuah-Tabuah dan Ladang Ateh," kata Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar Ade Putra.
Kamera trap dipasang untuk mengidentifikasi, jenis kelamin dan memantau pergerakan satwa liar, terutama merespons laporan warga mengenai kemunculan harimau sumatera di lahan perkebunan milik warga.
"Hasil kamera trap bisa mengidentifikasi apakah harimau dalam kondisi sakit atau tidak," katanya.
Ia menduga satwa tersebut mengalami sakit, karena kebiasaan harimau tidak pernah melihatkan wujud atau mendekati warga.
Untuk menyikapi itu, BKSDA Sumbar bakal memasang kandang jebak untuk mengevakuasi satwa itu dan apabila masuk kandang jebak, maka dibawa ke lokasi rehabilitasi untuk diobservasi kesehatannya.
"Ini untuk menentukan jenis kelamin, usia, kondisi kesehatan dan lainnya dari satwa tersebut. Apabila sakit, satwa itu bakal dirawat sampai kondisi membaik dan setelah itu dilepasliarkan ke kawasan hutan konservasi," katanya.
Untuk mengantisipasi kemungkinan buruk, Ia mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas dulu di sekitar lokasi kemunculan harimau sumatera, mengandangkan ternak, dan menghidupkan api sekitar kandang ternak.
Baca juga: BPBD Nagan Raya evakuasi potongan tubuh warga diduga dimangsa harimau
Baca juga: BKSDA Bengkulu telusuri kemunculan harimau sumatra di Kabupaten Lebong
Warga Tabuah-Tabuah, Jorong Palupuh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, itu, memarkirkan sepeda motornya di pinggir jalan di dekat lokasi sawahnya.
Ia pun berjalan kaki menuju sawah. Dalam perjalanan, pria berambut panjang ini dikagetkan oleh seekor satwa liar jenis harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).
Satwa yang dilindungi Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, itu mencoba untuk mendekatinya.
Melihat satwa itu, Dedi mencoba memberitahukan kepada Syafril alias Cap (64) yang saat itu berada di kandang sapi tidak jauh dari lokasi.
Mereka mencoba untuk mengusir harimau itu, namun di raja hutan tidak mau pergi dan nampak kebingungan.
"Harimau kebingungan dan kami mencoba untuk mengusir dan tidak pergi. Harimau bertahan sekitar 20 menit di lokasi dengan jarak hanya sekitar 15 meter dari kandang dan harimau kemudian masuk ke lorong menuju semak-semak," kata Cap.
Ia menduga harimau tersebut dalam kondisi sakit dan seolah-olah memberitahukan kepada mereka kondisi kesehatannya atau minta diobati.
Harimau sumatera biasanya tidak pernah memperlihatkan belangnya, apalagi sampai masuk ke lokasi pertanian masyarakat atau perkebunan.
Sebelumnya, harimau sumatera juga mendekati warga saat sedang membersihkan lahan perkebunan pisang di Ladang Ateh, Jorong Palupuh, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kamis (26/2).
Pemilik lahan mengabadikan menggunakan telpon genggam miliknya dan kemunculan harimau itu sempat viral di media sosial.
Dengan kemunculan harimau tersebut, ia pun melaporkan ke Tim Patroli Anak Nagari (Pagari) Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh.
Pada Sabtu (28/2) siang, Tim Pagari Pasia Laweh beserta warga Tabuah-Tabuah melakukan penanganan interaksi negatif antara manusia dengan harimau.
Di lokasi, Tim Pagari Pasia Laweh mencari keberadaan satwa berupa jejak kaki dan memasang kamera trap atau jebak di lokasi kemunculan satwa dan perbukitan tidak jauh dari lokasi.
Tim Pagari Pasia Laweh beserta masyarakat Tabuah-Tabuah memasang dua kamera trap di lokasi munculnya harimau sumatera.
Kamera trap pertama, dipasang di lokasi kemunculan harimau sumatera di lahan sawah milik warga Tabuah-Tabuah, Jorong Palupuh, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam.
Untuk lokasi kedua, dipasang di daerah perbukitan atau punggungan dengan jarak sekitar 200 meter dari lokasi pertama.
Baca juga: Harimau masuk kebun, warga Agam halau dengan sirene ambulans
Didekati
Saat Tim Pagari Pasia Laweh dan masyarakat memasang kamera trap, mereka sempat didekati harimau dengan jarak sekitar lima meter. Namun, beberapa menit kemudian harimau langsung menghilang dan masuk ke kawasan hutan.
"Harimau mendekati kami hanya berjalan sekitar lima meter dan langsung menghindar dari kami dengan jumlah sembilan orang itu," kata Ketua Tim Pagari Pasia Laweh Bambang Purnama.
Ia merasa kaget dan takut melihat harimau sumatera secara langsung di alam dengan jarak tidak begitu jauh darinya.
Melihat kondisi itu, ia bergegas untuk memasang kamera trap di lokasi tersebut dan meminta anggota Pagari lainnya beserta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
Bambang mengakui baru pertama kali melihat harimau sumatera secara langsung di alam liar. Sebelumnya ia hanya melihat harimau hanya di kebun binatang dan siaran televisi.
"Ini pengalaman saya sangat luar biasa berteman secara langsung dengan harimau di alam. Selama ini, saya tidak pernah melihat apalagi saat melakukan patroli bersama anggota Tim Pagari Pasia Laweh," katanya.
Kemunculan harimau tersebut mendapatkan perhatian khusus dari Resor Konservasi Wilayah II Maninjau Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar.
Apalagi satwa tersebut sudah tiga kali ketemu dengan masyarakat di Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam.
Untuk menyikapi itu, BKSDA Sumbar menurunkan petugas beserta Tim Pagari Pasia Laweh dan Pagari Baringin untuk melakukan penanganan interaksi negatif antara manusia dengan satwa liar tersebut.
Penanganan interaksi negatif dengan mengumpulkan data dari warga yang melihat langsung harimau sumatera, mencari keberadaan satwa berupa jejak kaki, kotoran dan memasang kamera trap.
"Setidaknya ada enam kamera trap yang kita pasang di sejumlah titik lokasi kemunculan satwa di Tabuah-Tabuah dan Ladang Ateh," kata Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar Ade Putra.
Kamera trap dipasang untuk mengidentifikasi, jenis kelamin dan memantau pergerakan satwa liar, terutama merespons laporan warga mengenai kemunculan harimau sumatera di lahan perkebunan milik warga.
"Hasil kamera trap bisa mengidentifikasi apakah harimau dalam kondisi sakit atau tidak," katanya.
Ia menduga satwa tersebut mengalami sakit, karena kebiasaan harimau tidak pernah melihatkan wujud atau mendekati warga.
Untuk menyikapi itu, BKSDA Sumbar bakal memasang kandang jebak untuk mengevakuasi satwa itu dan apabila masuk kandang jebak, maka dibawa ke lokasi rehabilitasi untuk diobservasi kesehatannya.
"Ini untuk menentukan jenis kelamin, usia, kondisi kesehatan dan lainnya dari satwa tersebut. Apabila sakit, satwa itu bakal dirawat sampai kondisi membaik dan setelah itu dilepasliarkan ke kawasan hutan konservasi," katanya.
Untuk mengantisipasi kemungkinan buruk, Ia mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas dulu di sekitar lokasi kemunculan harimau sumatera, mengandangkan ternak, dan menghidupkan api sekitar kandang ternak.
Baca juga: BPBD Nagan Raya evakuasi potongan tubuh warga diduga dimangsa harimau
Baca juga: BKSDA Bengkulu telusuri kemunculan harimau sumatra di Kabupaten Lebong





