Bisnis.com, JAKARTA - Arus dana ke reksa dana pasar uang di Amerika Serikat melonjak tajam di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat perang di Iran. Investor berbondong-bondong memindahkan dana ke instrumen yang dinilai lebih aman, mendorong total aset industri tersebut menembus rekor baru.
Berdasarkan data terbaru Crane Data LLC, sekitar US$49 miliar mengalir ke reksa dana pasar uang pada pekan yang berakhir 3 Maret. Dari jumlah tersebut, sekitar US$18,5 miliar masuk hanya pada hari Selasa waktu setempat, seiring dampak serangan AS-Israel terhadap Iran yang mengguncang pasar keuangan global.
Tambahan dana tersebut membuat total arus masuk sepanjang tahun ini melampaui US$162 miliar. Secara keseluruhan, aset reksa dana pasar uang AS kini mencapai rekor US$8,27 triliun.
Ahli strategi TD Securities Jan Nevruzi menilai arus kas yang masuk mencerminkan respons investor terhadap meningkatnya ketidakpastian. “Jelas ada arus kas yang deras,” ujarnya dikutip dari Bloomberg, Kamis (5/3/2026).
Jan juga mencatat dana masuk seiring penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dalam beberapa pekan terakhir. Ia menambahkan, pasar masih akan mencermati apakah arus masuk ini berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Konflik yang berkembang di Timur Tengah dinilai memperkuat preferensi investor terhadap aset safe haven. Kepala investasi Federated Hermes untuk pasar likuiditas global Deborah Cunningham mengatakan ketidakpastian terkait arah kebijakan bank sentral AS, prospek ekonomi, serta situasi geopolitik menciptakan suasana negatif yang mendorong investor mencari instrumen lebih aman.
Baca Juga
- BEI Ungkap Penyebab IHSG Turun hingga 4% Saat Sesi I Hari Ini (4/3)
- Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Hari Ini (4/3) Makin Tertekan, Sentuh Rp16.916
- OJK Setujui 29 Entitas Kripto, Empat Perusahaan Lulus Sandbox
Menurut ahli strategi Morgan Stanley Martin Tobias reksa dana pasar uang menjadi pilihan saat gejolak meningkat karena menawarkan volatilitas rendah, menjaga modal pokok, likuiditas tinggi, serta memberi diversifikasi dari aset yang lebih fluktuatif dalam portofolio.
Arus masuk diperkirakan berlanjut sepanjang 2026, seiring kebijakan suku bunga Federal Reserve yang masih ditahan pada level saat ini serta meningkatnya pengembalian pajak pada musim pelaporan pajak AS. Namun, laju pertumbuhan diprediksi melambat setelah dampak pemotongan suku bunga bank sentral tahun lalu sepenuhnya tercermin di pasar uang.
Ahli strategi Deutsche Bank Steven Zeng menyebut penghindaran risiko menjadi salah satu pendorong utama arus masuk. “Saya yakin sebagian dari itu dapat dikaitkan dengan penghindaran risiko dan perpindahan ke aset yang lebih aman,” katanya.
Ia juga menekankan faktor musiman, yakni musim pajak, yang biasanya menguntungkan dana pasar uang. Menurut perhitungan Deutsche Bank, nilai pengembalian pajak tahun ini sekitar 10% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Wajib pajak yang mengharapkan pengembalian cenderung mengajukan laporan lebih awal, sehingga dana yang diterima beredar kembali ke pasar uang. Arus keluar biasanya baru muncul pada Maret dan April, ketika wajib pajak yang memiliki kewajiban pembayaran menunggu mendekati tenggat 15 April.





