Kisah Jemaah Umrah RI di Saudi Terimbas Perang: Susah Cari Tiket Pesawat Pulang

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah yang sedang memanas hingga dinamika penerbangan berdampak pada perjalanan umrah. Jemaah asal Indonesia dilaporkan tertahan dan harus memperpanjang masa tinggal di Makkah, Arab Saudi hingga beberapa hari ke depan.

Kisah ini juga datang dari Direktur NoorWay by Nurul Ashri, Ratu Fitriah. Sebanyak 10 jemaah umrah yang harusnya sudah tiba di Indonesia 4 Maret kemarin, baru bisa pulang ke Indonesia tanggal 8 Maret mendatang.

Mendapat kepastian pulang ini pun membutuhkan perjuangan panjang.

"Kita dijadwalkan pulang (jemaah rombongan berangkat) awal Ramadan itu pulang 4 Maret kemarin. Check-in dari malam tanggal 3-nya. Kami pakai maskapai Qatar Airways transitnya Doha," kata Ratu melalui sambungan telepon, Kamis (5/3).

Namun sejak tanggal 28 Februari situasi di Timur Tengah mulai memanas. Dimulai dari serangan Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran, dan Iran yang membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di sejumlah negara di Timur Tengah. Imbasnya, sejumlah penerbangan sempat dibatalkan.

Saat itu, Ratu berpikir untuk menunggu update dari maskapai langganannya. Mulai dari menunggu email hingga memantau media sosial.

"Qatar sendiri itu karena kami penerbangan pulang (transit) Qatar, Qatar sendiri itu dia update informasinya itu tiap jam 9 pagi waktu Qatar. Tanggal 1 Maret katanya masih suspend dan akan dikabari lagi tanggal 2 Maret apakah rute penerbangan Qatar dibuka," jelasnya.

Saat itu Ratu menunggu sembari terus menelepon call center maskapai tapi selama 24 jam tak bisa dihubungi. Email pun tidak berbalas. Update pun hanya bisa menunggu website dan medsos maskapai.

Sementara tanggal 3 Maret mereka seharusnya sudah mulai berangkat. Lantaran sampai tanggal 2 Maret tak ada kabar, Ratu mencoba mencari opsi penerbangan lainnya.

Tiket Langsung Habis

Penerbangan baru yang bisa saat itu adalah direct atau langsung. Banyak biro umrah yang membeli saat itu.

"Waktu itu masih ada di angka Rp 8 juta," jelasnya.

Ratu kemudian berdiskusi dengan tim dan jemaah. Namun, selang beberapa jam tiket sudah habis semua saat itu. Ada yang masih tersedia tapi harganya mencapai Rp 15 juta.

"Berkali-kali lipat," katanya.

Harga sudah tak masuk akal, maka Ratu memutuskan untuk mencari opsi tanggal lain. Akhirnya menemukan di tanggal 10 Maret. Dia kembali berdiskusi dengan jemaah karena di tanggal itu tiket sudah tinggi.

"Kami transparansi kepada jemaah. Akhirnya kami tawarkan ke jemaah hotel extend lima hari akan ditanggung NoorWay, makan ditanggung travel, dan kami harus reschedule bus. Akomodasi selama di sini kami yang tanggung tapi kami butuh bantuan jemaah untuk tambahan di tiketnya. Setelah diskusi, jemaah setuju," katanya

Tiket Dicancel

Kelegaan Ratu hanya berlangsung sebentar, dia mendapat kabar travel agen atau broker yang membantu mereka mencari tiket bahwa tiket mereka dicancel.

"Dihubungi mau refund tiket. Karena pesawatnya hampir seluruh seat di-book oleh travel yang jemaah yang lebih banyak. Travel dengan jemaah yang sedikit di-refund," katanya.

Cari penerbangan baru direct sampai tanggal 13 Maret ternyata masih full.

Cari Rute Lain

"Jadi akhirnya kami coba cari rute lain dari Jeddah," katanya.

Ratu mendapatkan maskapai Saudia ada penerbangan direct ke Kuala Lumpur, Malaysia dengan harga tiket di angka Rp 11 juta.

"Akhirnya kita pesan tiket kepulangan tanggal 8 Maret," katanya.

"Biaya transportasi hitungannya naik dua kali lipat," jelasnya.

Pihaknya juga memberikan fasilitas kepulangan jemaah dari Kuala Lumpur ke Jakarta. Para jemaahnya ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Secara bisnis, Ratu mengatakan kondisi ini membuat biro travelnya nombok atau merugi. Namun ini adalah bagian risiko dari force majeure.

"Ramadan itu high season di Makkah dan Madinah. Semua hotel di Makkah Madinah itu dua tiga bulan sebelumnya full booking. Ketika kami nambah booking empat sampai lima hari di sini itu harganya bisa tiga sampai empat kali lipat dari hari biasa," katanya.

Jemaah Sempat Panik

Kepanikan tak hanya dirasakan Ratu tetapi juga jemaah yang dia dampingi. Apalagi jemaah yang ia dampingi memiliki tanggung jawab pekerjaan di Indonesia.

"Ada ASN, ada dosen. Jadwalnya sudah diatur. Beberapa sudah beli tiket pulang misal dari Jakarta ke Medan dan semua itu harus di-refund," katanya.

Bersyukur, para jemaah mengerti dengan kondisi yang terjadi di Timur Tengah.

"Jemaah lalu menghubungi kantor masing-masing mengurus penambahan cuti. Kemudian menghubungi atasan untuk di kantor kampus dan sebagainya," ujarnya.

Ratu memilih extend di Makkah agar jemaah juga tetap bisa menjalani ibadah. "Insyaallah tanggal 8 Maret kita bertolak ke Jeddah dan flight dari Jeddah ke Kuala Lumpur," katanya.

Saat ini Ratu juga harus berpikir kepulangan jemaah di rombongan full Ramadan dan akhir Ramadan yang akan pulang di 23 Maret.

"Itu juga yang masih kami pantau terus. Kalau kami lihat Qatar penerbangan masih suspend sampai 7 Maret, terus Ettihad, Abu Dhabi sekitar 6-7 Maret," katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Misteri Bupati Pekalongan Fadia Arafiq, Publik Masih Soroti Harta Rp86 Miliar dan Proyek Bancakan di Lingkaran Keluarga
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Jenius Hadirkan Solusi Finansial untuk Liburan Musim Semi di Jepang
• 3 jam laluherstory.co.id
thumb
ITB Buka Beasiswa Media 2026 untuk Jurnalis, Kuliah S2 Gratis di Bandung: Simak Syarat, Kuota dan Jadwalnya
• 2 jam laludisway.id
thumb
Pendaftaran Lestari Awards 2026 Dibuka sampai 9 Mei, Circular Economy Jadi Kategori Baru
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Lawan 'Pasal Karet' KUHP Baru, Delpedro Marhaen Gugat Aturan Berita Bohong dan Penghasutan ke MK
• 1 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.