EtIndonesia. Konflik bersenjata antara Iran dengan koalisi militer Amerika Serikat dan Israel terus meningkat tajam sejak dimulainya operasi militer besar pada 28 Februari 2026. Dalam beberapa hari terakhir, rangkaian serangan udara dan operasi militer gabungan telah menargetkan fasilitas strategis Iran, mulai dari instalasi nuklir hingga kekuatan angkatan lautnya.
Pada 3 Maret 2026, Pentagon mengonfirmasi bahwa serangan besar-besaran yang dilancarkan militer Amerika Serikat berhasil menghancurkan sejumlah target utama Iran. Operasi ini merupakan bagian dari strategi yang sejak awal ditekankan oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, yakni melakukan serangan cepat dan presisi tanpa terlibat dalam perang darat berkepanjangan.
Strategi Militer Amerika Serikat
Sejak konflik dimulai, Pentagon menegaskan tiga prinsip utama dalam operasi militer terhadap Iran:
- Menghindari perang darat jangka panjang seperti yang pernah terjadi di Irak dan Afghanistan.
- Menghancurkan kemampuan nuklir Iran agar tidak dapat mengembangkan senjata nuklir.
- Melumpuhkan kekuatan angkatan laut Iran yang selama ini menguasai jalur strategis Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Menurut laporan resmi Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada 3 Maret 2026, militer AS telah menyerang sedikitnya 1.250 target militer di seluruh Iran sejak operasi dimulai. Target tersebut mencakup pangkalan rudal, pusat komando militer, fasilitas pengembangan senjata, serta jaringan logistik milik Garda Revolusi Iran.
Angkatan Laut Iran Dilumpuhkan
Salah satu perkembangan paling signifikan terjadi di perairan Teluk Oman. Pentagon mengonfirmasi bahwa seluruh 11 kapal perang utama milik Angkatan Laut Iran yang beroperasi di wilayah tersebut telah dihancurkan.
Menurut pernyataan resmi CENTCOM, operasi laut dan udara gabungan yang dilakukan oleh kapal perang serta pesawat tempur Amerika berhasil menenggelamkan seluruh armada tersebut.
“Tidak ada satu pun kapal perang Iran yang tersisa di sektor operasi Teluk Oman,” demikian pernyataan militer AS.
Penghancuran armada ini dinilai sebagai pukulan besar bagi kemampuan Iran dalam mengontrol jalur pelayaran strategis di kawasan tersebut.
Fasilitas Nuklir dan Infrastruktur Militer Dibom
Serangan udara juga difokuskan pada fasilitas nuklir dan instalasi militer bawah tanah Iran.
Beberapa operasi militer terbaru yang dikonfirmasi antara lain:
- Isfahan – Fasilitas pengayaan uranium bawah tanah kembali dibom dalam serangan presisi.
- Bunker ilmuwan nuklir – Sedikitnya 24 ilmuwan nuklir Iran dilaporkan tewas dalam serangan terhadap bunker bawah tanah.
- Jannat Abad – Gudang drone bawah tanah milik Garda Revolusi dihancurkan menggunakan bom penembus bunker.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan ledakan kedua yang sangat besar setelah bom menembus fasilitas bawah tanah tersebut, menandakan kehancuran struktur yang berada jauh di bawah permukaan tanah.
Sementara Amerika Serikat fokus pada target bawah tanah dan fasilitas strategis, militer Israel melanjutkan operasi serangan terhadap target di permukaan.
Pada 3 Maret 2026, serangan udara Israel dilaporkan menghantam distrik Aftiar di Teheran, menyebabkan runtuhnya sebuah gedung pemerintah.
Koalisi Menguasai Langit Iran
Sumber militer Barat menyebutkan bahwa hingga awal Maret 2026, koalisi AS–Israel telah menguasai sebagian besar wilayah udara Iran.
Israel bahkan merilis rekaman dari kokpit pesawat tempur F-35 yang terbang di atas wilayah Teheran. Rekaman tersebut menunjukkan pesawat tempur Israel beroperasi dengan relatif bebas tanpa menghadapi perlawanan serius dari sistem pertahanan udara Iran.
Keunggulan udara ini dinilai menjadi faktor kunci dalam keberhasilan operasi militer koalisi.
Koordinasi Militer AS–Israel
Konflik ini juga memperlihatkan tingkat koordinasi militer yang sangat tinggi antara Amerika Serikat dan Israel.
Dalam operasi gabungan yang kompleks tersebut, kedua negara membagi peran secara jelas:
- Amerika Serikat berfokus pada target strategis dan fasilitas bawah tanah.
- Israel menyerang pusat pemerintahan, instalasi militer permukaan, serta sistem pertahanan udara.
Salah satu rekaman operasi yang dirilis menunjukkan pesawat tanker Amerika KC-135 mengisi bahan bakar pesawat tempur Israel di udara sebelum menjalankan misi serangan ke Iran.
Pengisian bahan bakar di udara ini memungkinkan pesawat Israel terbang jauh lebih lama dan mencapai target jauh di dalam wilayah Iran.
Negara-Negara Teluk Mulai Terlibat
Perkembangan paling mengkhawatirkan dalam konflik ini adalah mulai terlibatnya negara-negara Teluk.
Setelah Iran meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, beberapa negara Islam akhirnya mengambil tindakan militer untuk mempertahankan wilayahnya.
Kementerian Pertahanan Qatar melaporkan bahwa angkatan udaranya berhasil:
- Menembak jatuh 2 pesawat tempur Iran jenis Su-24
- Mencegat 7 rudal balistik
- Menghancurkan 5 drone serang
Insiden ini dianggap sangat signifikan karena Qatar selama ini dikenal sebagai mediator diplomatik antara Iran dan negara-negara Barat.
Namun serangan Iran yang menyasar wilayah negara tersebut memaksa Doha mengambil langkah militer langsung.
Sistem Pertahanan Udara Teluk Menghadapi Gelombang Serangan
Menurut data militer terbaru hingga 3 Maret 2026, lima negara Teluk berhasil mencegat lebih dari 1.500 rudal dan drone Iran.
Negara-negara tersebut meliputi:
- Uni Emirat Arab
- Bahrain
- Kuwait
- Qatar
- Yordania
Dari jumlah tersebut, sekitar 400 di antaranya merupakan rudal balistik.
Uni Emirat Arab sendiri dilaporkan berhasil mencegat 161 rudal balistik dengan tingkat keberhasilan sekitar 93 persen.
Sementara tingkat keberhasilan mencegat rudal jelajah dan drone juga dilaporkan lebih dari 90 persen.
Sebagian besar sistem pertahanan udara yang digunakan negara-negara Teluk merupakan teknologi Amerika Serikat, seperti:
- Patriot
- THAAD (Terminal High Altitude Area Defense)
Keberhasilan sistem tersebut menunjukkan efektivitas jaringan pertahanan udara regional yang terintegrasi dengan militer Amerika Serikat.
Ancaman Pemberontakan di Dalam Iran
Selain tekanan militer dari luar, pemerintah Iran kini juga menghadapi ancaman ketidakstabilan dari dalam negeri.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa Angkatan Udara Israel mulai membombardir pos-pos militer di sepanjang perbatasan Iran–Irak.
Tujuan serangan ini diduga untuk melemahkan kontrol pemerintah Iran atas wilayah perbatasan.
Analis militer memperkirakan langkah tersebut dapat membuka jalur bagi kelompok oposisi Iran yang berbasis di Irak, khususnya milisi Kurdi, untuk memasuki wilayah Iran.
Jika skenario ini terjadi, Iran bisa menghadapi tekanan dari tiga arah sekaligus:
- Serangan udara intensif dari koalisi AS–Israel
- Pemberontakan sipil di kota-kota besar
- Serangan kelompok oposisi bersenjata dari wilayah perbatasan
Kombinasi tekanan ini berpotensi menempatkan pemerintah Iran dalam posisi yang sangat sulit.
Situasi di Mashhad Mulai Lepas Kendali
Indikasi melemahnya kontrol pemerintah Iran juga terlihat di kota Mashhad, kota terbesar kedua di negara tersebut.
Menurut informasi yang beredar pada 3 Maret 2026, situasi keamanan di Mashhad dilaporkan mulai tidak terkendali.
Pasukan keamanan Iran, termasuk anggota Garda Revolusi dan milisi pemerintah, disebut terpaksa mundur dan berlindung di beberapa gedung pemerintah.
Sementara itu, warga sipil dilaporkan mulai menguasai sejumlah wilayah kota.
Mashhad memiliki arti penting bagi rezim Iran.
Jika Teheran merupakan pusat administrasi negara, maka Mashhad adalah pusat spiritual yang sangat penting bagi legitimasi kekuasaan ulama Iran.
Karena itu, ketidakstabilan di kota tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa struktur kekuasaan Iran di berbagai wilayah mulai mengalami tekanan serius.
Konflik Berpotensi Meluas
Dengan meningkatnya intensitas serangan militer, keterlibatan negara-negara Teluk, serta munculnya ketegangan internal di Iran, sejumlah analis memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi berkembang menjadi krisis regional yang jauh lebih besar.
Jika situasi terus memburuk, perang ini tidak hanya akan menentukan masa depan pemerintahan Iran, tetapi juga dapat mengubah keseimbangan kekuatan di seluruh Timur Tengah. (***)





