EtIndonesia. Sejak koalisi militer Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Iran pada akhir Februari 2026, perhatian dunia internasional tertuju pada setiap pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang bertindak sebagai panglima tertinggi operasi tersebut.
Pada 3 Maret 2026, Trump kembali menyampaikan pidato nasional ketiga mengenai perkembangan perang terhadap Iran. Dalam pidato tersebut, ia memberikan penjelasan paling tegas sejauh ini mengenai tujuan utama operasi militer yang disebut sebagai “Operasi Epic Fury.”
Jika pada dua hari sebelumnya dunia masih memperdebatkan arah dan skala konflik yang sedang berlangsung, kali ini Trump menegaskan bahwa tujuan operasi tersebut hanya satu: mengakhiri sepenuhnya kekuasaan rezim teokrasi yang telah memerintah Iran selama hampir setengah abad dan menjadikannya bagian dari sejarah.
Trump menggambarkan operasi ini sebagai salah satu serangan militer terbesar, paling kompleks, dan paling menghancurkan dalam sejarah modern.
Ia menyatakan bahwa hanya dalam waktu 36 jam pertama sejak dimulai pada 28 Februari 2026, pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel telah menghantam ratusan target strategis di seluruh wilayah Iran, termasuk:
- pangkalan rudal balistik
- fasilitas komando militer
- pusat komunikasi Garda Revolusi
- sistem pertahanan udara
- fasilitas logistik militer
Namun menurut banyak pengamat, target paling krusial dalam operasi tersebut adalah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Sejumlah analis menilai bahwa kematian Khamenei—yang dilaporkan terjadi dalam salah satu serangan awal—memiliki dampak strategis sangat besar bagi struktur kekuasaan Iran.
Seorang analis militer menggambarkannya dengan analogi sederhana:
“Ibarat sebuah pohon besar: akar utamanya sudah dicabut. Walaupun batangnya masih tampak kokoh dan cabangnya masih rimbun, sebenarnya pohon itu sudah mati.”
Operasi Eliminasi Khamenei: Rencana Intelijen yang Disusun Bertahun-tahun
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak detail mengenai operasi yang menewaskan Khamenei mulai terungkap.
Sekilas, serangan tersebut tampak seperti operasi “decapitation strike” atau serangan pemenggalan kepala yang dilakukan secara mendadak. Namun laporan sejumlah media dan analis keamanan menyebutkan bahwa operasi itu sebenarnya merupakan hasil perencanaan intelijen yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Badan intelijen Israel, Mossad, dilaporkan telah lama melakukan infiltrasi digital terhadap sistem pengawasan kota Teheran.
Menurut sumber intelijen, Mossad berhasil meretas sistem kamera lalu lintas dan jaringan pengawasan kota beberapa tahun sebelumnya. Melalui jaringan video terenkripsi tersebut, mereka dapat memantau pergerakan harian Khamenei dan lingkaran kekuasaan inti di sekitarnya selama 24 jam.
Informasi yang dikumpulkan bahkan sangat rinci, termasuk hal-hal yang tampak sepele seperti:
- jadwal pergantian sopir konvoi Khamenei
- lokasi para pengawal biasanya beristirahat atau merokok
- posisi kendaraan dalam konvoi keamanan
- pola parkir kendaraan di kompleks kediaman
Semua data tersebut kemudian disusun dalam basis data pola kehidupan yang sangat kompleks, menyerupai puzzle tiga dimensi raksasa yang terus diperbarui dari waktu ke waktu.
Namun pengamat menilai bahwa peran penentu pada tahap akhir operasi justru dimainkan oleh badan intelijen Amerika Serikat, CIA.
Peran CIA dalam Tahap Akhir Operasi
Meskipun militer Amerika Serikat memiliki sistem pengawasan satelit paling canggih di dunia, menentukan lokasi pasti bunker bawah tanah tempat Khamenei berlindung tetap membutuhkan informasi dari dalam Iran.
Dalam dua tahun terakhir, CIA dilaporkan berhasil merekrut sejumlah sumber intelijen penting di dalam struktur kekuasaan Iran, termasuk :
- pejabat aparat penegak hukum
- anggota elite Garda Revolusi Iran (IRGC)
- individu yang memiliki akses ke jaringan komunikasi militer
Beberapa jam sebelum operasi dimulai, unit perang siber CIA dilaporkan telah menguasai sebagian besar jaringan komunikasi militer Iran.
Melalui infiltrasi malware ke dalam sistem komunikasi terenkripsi Iran, CIA diduga berhasil mengirim perintah palsu yang tampak seolah-olah berasal dari otoritas tertinggi Iran.
Perintah tersebut membuat konvoi keamanan Khamenei bergerak menuju wilayah yang sebenarnya telah berada dalam zona pengawasan militer Amerika Serikat.
Saat operasi militer dimulai, CIA juga mengaktifkan serangan gangguan elektronik berskala besar.
Akibatnya:
- bunker tempat Khamenei berada terputus dari jaringan komunikasi eksternal
- sistem peringatan rudal Iran mengalami keterlambatan serius
- koordinasi pertahanan udara Iran menjadi kacau
Dalam situasi tersebut, 30 bom presisi tinggi kemudian dijatuhkan dari udara oleh pesawat tempur koalisi.
Ledakan tersebut menciptakan kawah raksasa di lokasi bunker, dan menurut laporan yang beredar, Khamenei bersama sejumlah anggota keluarga serta pejabat tinggi Iran tewas seketika dalam serangan itu.
Rekaman video dari lokasi ledakan yang mulai beredar pada 2–3 Maret 2026 menunjukkan kehancuran besar di area tersebut, bahkan lebih besar daripada yang terlihat sebelumnya dalam citra satelit.
Detail Psikologis dalam Operasi Militer
Selain aspek militer dan intelijen, sejumlah laporan juga mengungkap detail psikologis yang menarik dalam operasi tersebut.
Di antara pilot yang menjalankan misi pengeboman bunker Khamenei, disebutkan terdapat seorang pilot perempuan dari Angkatan Udara Amerika Serikat.
Pesawat yang diterbangkannya membawa bom penembus bunker tipe GBU, yang dirancang untuk menghancurkan fasilitas bawah tanah.
Beberapa laporan juga menyebut bahwa pilot perempuan dari Angkatan Udara Israel turut terlibat dalam operasi tersebut.
Bagi sebagian kalangan ulama garis keras di Iran, detail ini memiliki makna simbolis yang sensitif.
Dalam interpretasi ekstrem sebagian kelompok radikal, terdapat keyakinan bahwa seseorang yang tewas di tangan perempuan tidak akan memperoleh ganjaran “72 bidadari” di surga.
Sulit dipastikan apakah keterlibatan pilot perempuan merupakan kebetulan atau bagian dari strategi psikologis yang dirancang sejak awal.
Namun sejumlah analis menilai bahwa perang modern tidak hanya menargetkan penghancuran fisik musuh, tetapi juga kehancuran moral dan psikologis lawan.
Serangan Balasan Iran terhadap Kapal Induk AS
Di tengah gempuran militer koalisi, Iran juga mencoba melakukan serangan balasan.
Pada 1 Maret 2026, Iran menembakkan 52 rudal ke arah kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln yang berada di Teluk Oman.
Media Iran dan beberapa media Tiongkok sempat melaporkan bahwa empat rudal berhasil menghantam kapal induk tersebut, bahkan disertai video yang kemudian diketahui sebagai rekaman buatan AI.
Militer Amerika Serikat segera membantah laporan tersebut.
Menurut keterangan resmi pihak AS:
- pesawat peringatan dini E-2D Hawkeye mendeteksi peluncuran rudal sejak tahap awal
- dalam waktu sekitar 40 detik, sistem sudah menganalisis jalur ancaman
- data kemudian dikirim melalui jaringan militer Link-16
Kapal perusak kelas Arleigh Burke yang dilengkapi sistem pertahanan Aegis kemudian mengunci semua target.
Hasilnya, dalam waktu sekitar 8 menit, seluruh 52 rudal Iran berhasil dihancurkan sebelum mencapai target.
Seorang pejabat militer AS menggambarkan proses tersebut sebagai operasi yang berjalan sangat cepat dan terkoordinasi, bahkan ada yang menyamakannya dengan “permainan video game berteknologi tinggi.”
Gangguan Elektronik Misterius di Selat Hormuz
Sementara itu, muncul laporan menarik dari kawasan Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia.
Sebuah video yang diunggah oleh seorang pelaut asal Tiongkok menunjukkan fenomena aneh yang dialami kapal yang berada di sekitar perairan tersebut.
Dalam video itu ia mengatakan bahwa:
- kapal tiba-tiba kehilangan sinyal GPS
- sistem navigasi digital tidak berfungsi
- bahkan jam elektronik kapal berputar sangat cepat
Fenomena ini memicu spekulasi mengenai kemungkinan penggunaan teknologi perang elektronik canggih di wilayah tersebut.
Banyak pengamat kemudian mengingat kembali pernyataan Trump sebelumnya saat Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, ketika ia mengklaim bahwa militer AS memiliki senjata perang elektronik yang mampu melumpuhkan seluruh sistem komunikasi lawan.
Jika spekulasi tersebut benar, maka konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah bukan hanya perang konvensional, tetapi juga perang teknologi tingkat tinggi yang melibatkan kemampuan siber, satelit, dan dominasi elektronik. (***)





