China memangkas target pertumbuhan ekonominya menjadi 4,5 persen – 5 persen, lantaran berbagai tantangan dalam negeri dan global.
Target pertumbuhan ekonomi ini jadi yang terendah sejak 2023, yang dipangkas menjadi 5 persen karena dampak pandemi.
Negara yang dipimpin Xi Jinping itu berambisi memperbaiki ekonominya, khususnya dalam menghadapi berbagai masalah, seperti lemahnya tingkat konsumsi, penurunan populasi, krisis properti yang berkelanjutan, ketegangan perdagangan global, dan krisis energi akibat perang dengan Iran.
Li Qiang Perdana Menteri mengatakan, rencana lima tahun China mencakup investasi dalam inovasi, industri teknologi tinggi, penelitian ilmiah, dan upaya lebih lanjut untuk meningkatkan konsumsi rumah tangga.
Melansir BBC, Li Qiang menyoroti beberapa poin. Misalnya konsumsi domestik yang lemah membuat negara itu terlalu bergantung pada ekspor untuk pertumbuhan, serta ambisinya meningkatkan industri manufaktur negara tersebut.
Total ada 100 proyek besar selama lima tahun ke depan untuk memperluas kapasitas industri China, dengan fokus pada ilmu pengetahuan dan teknologi, transportasi, dan energi.
China ingin memimpin energi hijau, mengurangi emisi karbon, dan meningkatkan perlindungan lingkungan.
Pada bulan Januari, tercatat China mencapai target pertumbuhan ekonomi 5 persen di 2025. Namun ekspansi ekonomi melambat menjadi 4,5 persen dalam tiga bulan terakhir tahun ini, terbebani oleh lemahnya pengeluaran domestik dan krisis properti yang berkepanjangan.(lea/faz)




