PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) buka suara setelah Iran resmi menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini menjadi nadi distribusi energi global. Penutupan itu diumumkan menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei.
Sebagai salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, Selat Hormuz mengalirkan sekitar seperlima konsumsi minyak global serta volume besar gas.
Namun, situasi perang yang memanas membuat pengiriman energi melalui kawasan tersebut dilaporkan nyaris terhenti akibat pertempuran yang berkecamuk. Iran bahkan mengancam akan menyerang kapal-kapal yang melintas, meningkatkan risiko di kawasan Teluk.
Di tengah eskalasi itu, MEDC memastikan operasionalnya di Timur Tengah, khususnya di Oman melalui Blok 60 dan Blok 48, masih berjalan normal. Sekretaris Perusahaan MEDC, Siendy K. Wisandana, menyampaikan bahwa hingga kini belum ada dampak langsung terhadap kegiatan produksi.
Baca Juga: Medco Energi (MEDC) Ditunjuk Jadi Operator PSC Cendramas oleh Petronas
"Situasi ini masih dalam tahap perkembangan lebih lanjut, namun hingga saat ini belum terdapat dampak langsung terhadap produksi dan operasional Perseroan di Oman," ujarnya, dikutip dari keterbukaan informasi, Kamis (5/3).
Ia menambahkan bahwa perusahaan terus memantau kondisi di wilayah tersebut secara ketat. Keselamatan personel dan perlindungan aset menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
"Perseroan bersama mitra lokal telah menetapkan rencana keberlangsungan usaha dan protokol untuk menghadapi situasi saat ini. Hingga saat ini belum terdapat dampak terhadap produksi dan operasional Perseroan di Oman," imbuh Siendy.
Di sisi lain, konflik yang memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, khususnya Brent, turut menjadi perhatian pasar. Terkait itu, MEDC telah mempublikasikan panduan sensitivitas EBITDA.
Baca Juga: Medco Energi (MEDC) Tarik Pinjaman Rp800 Miliar dari Bank ICBC, Buat Apa?
Dalam hal ini, setiap perubahan harga minyak sebesar USD10 per barel dalam satu tahun penuh diperkirakan berdampak sekitar +/- USD140 juta terhadap EBITDA tahun buku 2026. Perseroan juga tetap mempertahankan panduan efisiensi dengan menjaga biaya minyak dan gas di bawah USD10 per boe.
Terkait potensi lonjakan biaya asuransi pengiriman atau logistik akibat meningkatnya risiko di kawasan Teluk, MEDC menegaskan tidak memiliki paparan langsung terhadap biaya asuransi maritim.
"Tidak terdapat informasi material lainnya atau peristiwa signifikan yang dapat memengaruhi keberlangsungan usaha atau harga saham Perseroan yang belum diungkapkan kepada publik sebelumnya," tutup Siendy.





