Warga Jabar Tewas Setelah Mencuri Labu Siam, Ironi Daerah dengan Laju Ekonomi Tertinggi

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Minta (56) tewas di bulan puasa. Ketahuan mencuri dua labu siam, dia meninggal setelah babak belur dipukuli UJ (41), tetangganya. Minta putus asa karena tidak punya uang. UJ emosi karena kerja kerasnya diambil tanpa izin. Lagi-lagi menjadi ironi di Jawa Barat, daerah dengan laju ekonomi tertinggi di negeri ini.

Labu di kebun UJ, warga Desa Talaga, Kecamatan Cugenang, Cianjur, Jawa Barat, itu warnanya hijau terang. Gemuk menggantung pada pohonnya, labu-labu itu mulus tanpa cacat. Dengan panjang 10-15 sentimeter, banyak labu di kebun itu siap panen.

Rupa labu itu juga menarik perhatian Minta, warga Talaga lainnya, Sabtu (28/2/2026) sore. Bingung hendak makan apa untuk berbuka puasa, Minta tergiur mengambilnya. Saat itu, Minta diduga putus asa.

Nasib Minta kontras dari wajah mengilap labu itu. Hidupnya suram.

Di usia senja, ia tak punya pekerjaan tetap. Tidak banyak yang bisa dikerjakan buruh serabutan itu di bulan puasa kali ini. Padahal, dia tidak hidup sendiri. Ada ibu berusia 99 tahun yang bergantung nafkah darinya.

Karena itu juga, Minta disebut nekat mengambil jalan pintas. Dia mencuri dua labu. Satu untuk dia. Satu lagi untuk ibunya. Rencananya, labu itu akan menjadi teman buka puasa.

Akan tetapi, sore yang tenang di kebun itu berubah tegang setelah Minta usai memetik labu siam. Perbuatan Minta dipergoki UJ.

Panik, Minta kabur. UJ yang emosi mengejarnya. Hingga akhirnya nafas tua Minta menyerah di depan rumahnya. Di sana, UJ membabi buta memukuli Minta.

Saking kesalnya, UJ bahkan sampai harus dilerai salah satu adik korban agar tidak melanjutkan aksinya. Namun, saat tinju UJ berhenti melayang, Minta sudah terlanjur babak belur.

Darah keluar dari hidungnya. Tidak hanya itu, Minta juga muntah-muntah.

Setelah luapan emosi ditumpahkan UJ, kasus ini sempat berujung damai. Namun, Minta tak kunjung pulih. Dengan alasan takut memakan biaya besar, keluarga hanya merawat Minta di rumah.

Dampaknya fatal. Minta meninggal dua hari setelah kejadian atau Senin (2/3/2026).

Kasus ini lantas dilaporkan ke polisi. Kepala Polisi Sektor Cugenang Komisaris Usep Nurdin mengatakan, dari hasil visum, ada benjolan pada kepala bagian belakang dan luka lecet di dahi. Selain itu, korban terluka memar di kelopak mata, leher hingga sikut.

Usep mengatakan, UJ telah diminati keterangan. Setelah sempat diperiksa di Polsek Cugenang, UJ kini menjalani pemeriksaan di Markas Kepolisian Resor Cianjur.

Wajah kemiskinan

Minta sudah berpulang. UJ juga berada di kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Namun, kasus ini lagi-lagi memicu ironi. Terjadi di Jabar, daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Jabar, ada nyawa yang harus hilang gara-gara dua labu.

Nandang Suherman, pengamat kebijakan publik dan peneliti dari Perkumpulan Inisiatif, menilai, kasus yang dialami Minta dan begitu emosialnya UJ menunjukkan wajah kemiskinan yang begitu dalam. Masalah ekonomi bisa dengan mudah membuat orang berbuat nekat, baik itu mencuri atau menghabisi nyawa tetangganya.

Kondisi ini jelas paradoks dengan kondisi Jabar. Sejauh ini, Jabar dikenal sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi dan investasi tertinggi di nasional.

Berdasarkan data dari Kementerian Investasi/BKPM RI, Jabar ada di puncak investasi Indonesia. Realisasi investasinya di tahun 2025 mencapai Rp 296,8 triliun, atau 109,9 persen dari target yang ditetapkan.

Dari total realisasi investasi, Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat mencapai Rp147,02 triliun, Sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp149,8 triliun.

Baca JugaAngka Kemiskinan di Jabar Menurun, tetapi Jumlah Pengangguran Meningkat, Ada Apa?
Baca JugaIroni Jabar, Didera 297 Kasus Korupsi di Tengah Kemiskinan Jutaan Warganya 

Badan Pusat Statistik pada 5 Februari 2026 juga menyebut, laju pertumbuhan ekonomi Jabar secara tahunan sebesar 5,85 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan angka nasional yang hanya tumbuh 5,39 persen.

“Saya sangat prihatin dengan kasus yang menimpa korban dan pelaku. Keduanya sama-sama masyarakat bawah yang terjerat kemiskinan. Hal ini kontradiktif dengan prestasi Jabar yang meraih investasi dan pertumbuhan ekonomi tertinggi di tingkat nasional,” kata Nandang.

Menurut Nandang, kasus tersebut menjadi pukulan besar kepada pemerintah daerah setempat dan Jabar. Investasi dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum menyentuh masyarakat yang terjerat kemiskinan dan pengangguran.

Berdasarkan publikasi BPS, angka kemiskinan Jabar hingga September 2025 tercatat sebesar 6,78 persen atau 3,55 juta jiwa. Sementara tingkat pengangguran di Jabar hingga akhir tahun 2025 mencapai 1,77 juta orang.

“Belum terlihat program ekonomi dan kegiatan padat karya yang memacu penyerapan banyak tenaga kerja yang masif di Jabar,” tuturnya.

Diakui

Sebelumnya, Sekretaris Daerah Jabar Herman Suryatman mengakui kesenjangan itu. Tingginya investasi dan pertumbuhan ekonomi belum berjalan ideal dengan kesejahteraan warga.

Oleh karena itu, di tengah berbagai indikator yang memuaskan, dia meminta semua pihak mesti ikut aktif menurunkan angka pengangguran dan kemiskinan.

Menilik masalah ini, Deputi Kepala Bank Indonesia Perwakilan Jabar Muslimin Anwar menyebut, sejauh ini investasi terbesar ke Jabar termasuk dalam padat modal dan memanfatkan teknologi tinggi. Hal itu membuat banyak teknologi baru diterapkan di sana.

Ia mencontohkan penggunaan robot untuk industri otomotif ketimbang merekrut tenaga kerja baru. Hal itu membuat serapan tenaga kerja juga tidak sebesar sebelumnya.

Akan tetapi, hal itu tidak lantas menghilangkan peluang pekerjaan. Tenaga kerja tetap dibutuhkan, tetapi yang memiliki kemampuan penguasaan teknologi ideal. Dia melihat sektor ini masih perlu dikembangkan.

”Kita harus memacu link and match antara kurikulum pendidikan dengan kebutuhan di lapangan, terutama teknologi tinggi. Apabila tidak dipenuhi, peluang yang ada bakal dimanfaatkan tenaga kerja lain, baik dari luar Jabar atau bahkan luar negeri,” kata Muslimin.

Lesatan pertumbuhan ekonomi jelas sangat menggembirakan. Klaim angka-angka fantastis adalah kabar baik untuk masa depan. Namun, di balik itu semua, kisah-kisah warga yang berharap sejahtera kerap tidak terdengar. Ujungnya kerap menyakitkan. Nyawa, harta yang paling berharga pun mesti melayang.

Baca JugaMencari Peluang di Antara Anomali Lesatan Ekonomi dan Tingginya Pengangguran di Jabar 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dua Alat Berat Dikerahkan untuk Buka Jalur Trenggalek–Ponorogo yang Tertutup Longsor Batu Raksasa
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
JSM Targetkan Perbaikan Tol Rampung H-10 Idulfitri
• 10 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kronologi Terungkapnya Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling di Tanjung Priok
• 22 jam lalukompas.com
thumb
Iran Klaim 500 Tentara AS Tewas dalam Lima Hari Perang
• 7 jam laluokezone.com
thumb
Reksa Dana Ini Sabtu 6 Penghargaan Sekaligus pada Ajang Best Mutual Fund Awards 2026
• 15 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.