Para ilmuwan di Jepang berhasil mengidentifikasi spesies semut langka yang tidak memiliki jantan maupun semut pekerja: ya cuma ada ratu. Lebih unik lagi, para ratu ini hidup sebagai parasit di sarang spesies semut lain dan berkembang biak secara aseksual untuk menghasilkan klon ratu baru yang kemudian mengambil alih sarang lain.
Spesies tersebut bernama Temnothorax kinomurai. Menurut Jürgen Heinze, ahli biologi dari University of Regensburg di Jerman sekaligus salah satu penulis studi terbaru ini, T. kinomurai merupakan spesies pertama yang diketahui hanya memiliki ratu.
Dalam kebanyakan koloni semut, struktur sosial sangat teratur. Ratu menyimpan sperma dari hasil perkawinan sebelum mendirikan koloni. Sperma tersebut digunakan secara selektif untuk menghasilkan telur yang dibuahi yang akan menjadi semut pekerja atau ratu atau telur tak dibuahi dan berkembang menjadi semut jantan berumur pendek.
Namun, ada pula ratu parasit yang menyusup ke koloni spesies lain dan mengambil alihnya. Biasanya, mereka memanfaatkan semut pekerja dari koloni inang untuk merawat keturunan mereka sampai generasi baru mendominasi sarang tersebut.
Penelitian terhadap T. kinomurai dilakukan oleh Keiko Hamaguchi dan timnya dari Pusat Riset Kansai di Kyoto. Spesies tersebut sejauh ini hanya ditemukan di sembilan lokasi di Jepang dan diduga memiliki pola reproduksi berbeda, yakni hanya menghasilkan ratu tanpa pekerja atau jantan.
Ratu muda T. kinomurai menyerbu sarang spesies kerabatnya, Temnothorax makora. Mereka menyengat ratu inang serta pekerja paling agresif yang mencoba menggagalkan kudeta. Jika berhasil, para pekerja yang tersisa akan membesarkan keturunan ratu “asing” tersebut.
“T. kinomurai membutuhkan pekerja inang untuk mencari makan dan merawat larva. Mereka tidak dapat menghasilkan keturunan tanpa bantuan itu,” jelas Heinze.
Diterbitkan di jurnal Current Biology pada 23 Februari 2026, untuk memahami lebih jauh, tim Hamaguchi mengumpulkan enam koloni yang dikuasai ratu T. kinomurai dan memeliharanya di laboratorium. Dari koloni tersebut, lahir 43 keturunan, dan tidak satu pun merupakan jantan atau pekerja. Semuanya adalah ratu.
Ketika diperkenalkan ke koloni T. makora baru, tujuh dari 43 ratu yang belum pernah kawin berhasil melakukan kudeta. Angka ini sesuai dengan tingkat kegagalan tinggi yang lazim dalam pendirian koloni parasit. Tujuh ratu itu kemudian menghasilkan total 57 keturunan, dan lagi-lagi semuanya ratu.
Pada sejumlah spesies semut lain, ratu dapat mengkloning diri melalui reproduksi aseksual yang dikenal sebagai partenogenesis. Ada pula semut yang mempraktikkan parasitisme sosial dengan membajak tenaga kerja koloni lain untuk membesarkan keturunan mereka sendiri.
Namun, menurut Jonathan Romiguier, ahli biologi evolusi dari University of Montpellier yang tidak terlibat dalam studi ini, belum pernah ada spesies yang diketahui menggabungkan kedua strategi tersebut sekaligus hingga kini.
“Padahal secara logika evolusi, kombinasi ini masuk akal,” ujarnya.
Daniel Kronauer dari Rockefeller University menambahkan, di antara lebih dari 15.000 spesies semut yang telah diketahui, kasus ini tergolong sangat tidak biasa.
Secara umum, reproduksi seksual dan aseksual memiliki keuntungan masing-masing. Reproduksi aseksual memungkinkan organisme memaksimalkan kontribusi genetiknya ke generasi berikutnya karena menghasilkan keturunan identik secara genetik. Spesies aseksual juga tak perlu menghabiskan energi untuk mencari pasangan atau menghasilkan jantan.
Namun, reproduksi seksual menghasilkan keragaman genetik pada semut pekerja, yang penting untuk pertahanan terhadap patogen dan pembagian tugas dalam koloni. Dalam kasus T. kinomurai, karena ratu tak lagi menghasilkan pekerja sendiri, manfaat keragaman genetik itu menjadi tak relevan.
“Ini bisa menggeser keseimbangan ke arah reproduksi aseksual dan pada akhirnya menyebabkan hilangnya jantan sepenuhnya,” kata Kronauer.
Penemuan ini membuka bab baru dalam studi evolusi serangga sosial. Dari sudut pandang ilmiah, T. kinomurai bukan sekadar spesies langka, tetapi contoh ekstrem bagaimana strategi bertahan hidup dapat berkembang jauh melampaui pola yang selama ini dipahami.





