JAKARTA, KOMPAS.com - Deru ombak dan angin laut yang kencang bukan lagi sekedar suara alam, melainkan juga sebagai alarm peringatan bagi warga yang tinggal di garis bencana banjir rob, Muara Angke, Jakarta Utara
Setiap kali air pasang datang, kecemasan dan kekhawatiran langsung menggelayuti hati warga, karena air laut bisa masuk secara tiba-tiba ke rumahnya.
RW 22 Muara Angke, Jakarta Utara, menjadi titik paling parah yang terdampak banjir rob setiap kali air laut sedang pasang.
Baca juga: Menengok Pantai Marunda yang Terus Dihantui Rob, Mangrove Tak Selalu Jadi Penyelamat
Dari 12 RT di wilayah RW 22, 90 persennya memang menjadi langganan banjir rob.
Banjir rob yang terjadi di wilayah ini juga mengakibatkan lima RW di Muara Angke lainnya juga ikut terendam.
Ketua RT 06, RW 22, Warya mengatakan banjir rob di Muara Angke justru semakin parah sejak sembilan tahun terakhir.
"Saya perhatiin di tahun 2017 ke sini banjirnya justru setiap hari, sebelum tahun 2017 paling banjir tiga hari terjadi di bulan purnama," tutur Warya ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (4/3/2025).
Sedangkan dari tahun 2017 hingga saat ini, kawasan RT 06 justru hampir setiap harinya terendam banjir rob, karena berada paling dekat dengan laut.
Dalam satu bulan, kata Warya, wilayah RT 06 bisa benar-benar kering hanya hitungan hari saja, selebihnya selalu becek karena setiap pagi air laut meluap ke daratan.
Ia berpendapat, semakin parahnya banjir di Muara Angke dipicu oleh beberapa sebab, mulai dari cuaca yang ekstrem, penurunan tanah, hingga pemanasan global.
Baca juga: Terungkap Penyebab Jalan RE Martadinata Jakut Selalu Kena Banjir Rob
Tidur susahMeski sudah menjadi makanan sehari-hari, tinggal di garis bencana banjir rob tentu saja bukan perkara yang mudah untuk dilalui warga.
Rokiyah (60), warga yang sudah tinggal selama 40 tahun di Muara Angke, mengaku tidurnya selalu terganggu setiap kali banjir rob datang.
"Orang keadaannya mau tidur juga pada susah, karena hampir setiap hari banjir rob, air kalau datang malam, siang abis kerja malam enggak bisa tidur, bisa tidur paling jam 01.00 WIB – 02.00 WIB kalau udah surut," tutur dia ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Rabu (4/3/2026).
Selain tak bisa tidur, Rokiyah juga selalu was-was karena banjir rob yang datang seringkali membawa binatang seperti ular dan biawak.
Oleh karena itu, ia selalu menggunakan sepatu boots ketika banjir rob menggenang di rumahnya, untuk mencegah gigitan ular atau hewan lain yang sering tak terlihat di dalam air.
Rokiyah bilang, banjir rob yang datang ke rumah warga bisa pagi atau tengah malam, semua tergantung dari musimnya.
Namun, ia paling sedih jika rob datang ketika ia sedang tertidur lelap di malam hari.
Sambil menahan kantuk, ia pun terpaksa bangun dari kasur empuk dan pindah ke balai kayu yang keras di depan rumahnya untuk menunggu air surut.
Baca juga: Jerit Hati Pengendara yang Sering Terjebak Banjir Rob di Jalan RE Martadinata
Cara beradaptasiTinggal di garis bencana banjir rob, mau tidak mau membuat warga harus melakukan berbagai upaya adaptasi untuk menghadapi bencana alam itu setiap harinya.
Salah satu cara warga beradaptasi dengan banjir rob adalah dengan menguruk rumahnya agar lebih tinggi menggunakan kulit kerang, dengan harapan air laut tidak bisa masuk ke dalam rumahnya.
Namun, cara tersebut seringkali kurang efektif untuk mencegah air rob tidak masuk ke dalam rumah.





