YOGYAKARTA, KOMPAS - Paket Makan Bergizi Gratis yang didistribusikan di Provinsi DI Yogyakarta kini menyantumkan informasi tentang kadar gizi setiap menu beserta harganya. Hal ini untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang nilai paket dan kandungan gizinya.
Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Regional DIY Gagat Widyatmoko, melalui keterangan tertulis, Kamis (5/3/2026), menjelaskan, pihaknya telah menginstruksikan kepada seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah DIY untuk mencantumkan nilai item serta informasi angka kecukupan gizi pada paket MBG secara informatif dan proporsional. Kebijakan ini mulai diterapkan sejak 26 Februari 2026.
Gagat mengatakan, langkah ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada masyarakat mengenai komposisi dan nilai paket makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat.
Hal ini disebut Gagat menyikapi aspirasi masyarakat terkait pelaksanaan Program MBG, khususnya yang menyoroti angka kecukupan gizi serta kesesuaian nilai paket pada menu MBG. "BGN Regional DIY menegaskan komitmennya untuk mengedepankan transparansi dan akuntabilitas dalam layanan publik," ujarnya.
Gagat menegaskan bahwa transparansi ini tidak hanya bertujuan menjawab aspirasi publik, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan tata kelola program agar tetap berada pada koridor standar gizi, keamanan pangan, serta ketentuan administrasi yang berlaku.
Selain itu, BGN Regional DIY mengutamakan pemanfaatan bahan baku dari usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lokal dalam penyediaan menu MBG. Gagat mengatakan, pendekatan ini tidak hanya mendukung perekonomian lokal, tetapi juga memastikan bahan pangan yang digunakan lebih segar.
Selain itu, langkah ini kontekstual dengan kearifan pangan daerah serta tidak bergantung pada produk pangan olahan tertentu yang sering kali dibandingkan dengan kategori ultra-processed food (UPF).
Sebelumnya, Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan arahan terkait MBG pada 26 Februari 2026, seperti disiarkan Humas Pemda DIY. Saat itu, Sultan menanggapi banyaknya laporan protes dari orangtua siswa yang mengeluhkan menu MBG yang disajikan selama bulan Ramadhan didominasi roti. Hal itu dinilai tidak layak sebagai asupan gizi utama dan justru berujung mubazir.
Sultan pun menginstruksikan Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti untuk memanggil penanggung jawab program. Langkah ini sebagai respons atas ketidakpuasan masyarakat terkait kualitas makanan yang diterima siswa di lapangan.
Pemerintah DIY kemudian memberikan syarat mutlak kepada pihak pelaksana agar kualitas makanan benar-benar mencerminkan anggaran yang telah dialokasikan. Sultan tidak ingin ada kesan bahwa penyajian menu dilakukan secara serampangan tanpa perhitungan gizi yang matang.
Lebih lanjut, Sultan juga menekankan pentingnya rincian biaya yang masuk akal. Sultan pun berharap tidak ada lagi permainan harga yang mengakibatkan kualitas makanan menurun drastis saat sampai ke tangan siswa.
Sementara Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan, koordinasi darurat telah dilakukan bersama seluruh SPPG se-DIY untuk memastikan standar kualitas tetap terjaga. Ni Made menegaskan, kebijakan "menu kering" yang diterapkan selama bulan puasa bertujuan memudahkan siswa membawa pulang makanan untuk berbuka.
Namun, modifikasi tersebut sama sekali tidak boleh mengurangi standar nutrisi maupun nilai ekonomis dari paket yang telah dianggarkan. Sebagai bentuk transparansi, setiap paket MBG kini diwajibkan menyertakan rincian harga per komponen serta sertifikasi kandungan gizi dari ahli terkait.
"Kita tekankan pada kandungan gizi dalam satu paketnya, lengkap dengan keterangan harga per jenis makanan. Harus jelas kalorinya berapa, proteinnya berapa, dan harus ada surat dari ahli gizi untuk memastikan standar satu paket itu," ujar Ni Made, Jumat (27/2/2026).
Menurut dia, esensi program ini terletak pada pemenuhan nutrisi, bukan sekadar volume makanan. Meski formatnya berubah dari nasi menjadi paket menu kering selama Ramadhan, persyaratan gizi tetap menjadi acuan utama yang tidak bisa ditawar.
"Jika sebelum Ramadhan kita bicara nasi dan buah, sekarang di bulan puasa formatnya menyesuaikan, tetapi persyaratan gizinya tetap sama," ujar Made.





