Hendri, Ketua RW 7 di Jalan Warakas 1, Gang 23, Papanggo, Jakarta Utara mengaku kaget setelah mendengar ada warganya yang begitu tidak mampu, hingga hanya makan dengan bumbu penyedap sebagai lauk.
Setahu Hendri, keluarga Abdul Jalil (39) dan Mardiyah (38), beserta keempat anaknya itu terlihat baik-baik saja.
"Kami tidak menyangka ada warga yang sampai separah itu kehidupannya. Karena benar-benar persis di belakang masjid sih tinggalnya. Karena kesehariannya juga kami lihat normal-normal saja gitu," ujar Hendri saat ditemui kumparan, Kamis (5/3).
Sayangnya, menurut Hendri, Abdul Jalil sejauh ini belum terdaftar sebagai penerima bantuan apa pun.
"Nah, itu setahu saya belum masuk. Belum masuk penerima bantuan. Cuma dalam waktu, begitu setelah viral ini, nah itu baru beberapa teman-teman dari kelurahan juga ya sudah mulai bergerak akhirnya untuk membantu," ujar Hendri.
Hendri kini tengah mengupayakan agar keluarga Abdul Jalil mendapat prioritas untuk menerima bantuan. Ia akan mengkoordinasikannya dengan Ketua RT setempat.
"Yang penting gimana caranya saya ke Pak RT, 'Pak ini setiap ada bantuan prioritas ini, prioritas ini.' Makanya ini pun masukin Ramadan ini dari kelurahan juga, dari Baznas terutama itu minta beberapa data terutama Duafa. Nah beliau itu saya masukkan sebagai salah satu penerima manfaat itu," sambungnya.
Sebetulnya, Hendri dan warga sekitar beberapa kali telah memberi bantuan pada Abdul Jalil. Namun, bantuan itu nyatanya belum cukup meringankan beban Abdul Jalil sehari-hari. Apa lagi keluarga tersebut memiliki 4 anak yang harus dipenuhi kebutuhannya.
"Dalam artian ada perhatian dari mungkin tetangga sekitarnya. Bahkan termasuk ya Pak RT dan saya pribadi pun beberapa kali kami kasih bingkisan juga untuk membantu meringankan kehidupan sehari-harinya. Mungkin memang enggak cukup ya artinya untuk kehidupan, tapi minimal mengurangi beban-beban makan sehari-hari dia," ucap Hendri.
Baru Tahu Kondisi Abdul Jalil Setelah ViralHendri menjelaskan, Abdul Jalil aktif dalam kesehariannya khususnya di Masjid Jami' Baitul Amiin yang tepat berada di depan kontrakannya. Bagi Hendri, miris rasanya menghitung uang pemasukan masjid, sementara di belakangnya ada warga yang untuk makan sehari-hari saja kesusahan.
"Memang kesehariannya aktif di masjid. Beliau aktif di masjid, bahkan beliau itu keponakannya Ketua DKM masjid sendiri," ujar Hendri.
"Makanya kalau kita bicara terkait informasi pelaporan-pelaporan pemasukan masjid, ya miris, ya kan. Di mana masjid mengumumkan gitu kan, pemerolehan keuangan masjid, tapi ada warga kita yang di situ sedang kelaparan di belakang masjid persis," sambungnya.
Selama bersinggungan dengan Abdul Jalil, Hendri mengatakan bahwa ia tak pernah bercerita mengenai kesulitannya. Hendri baru mengetahui kondisi Abdul Jalil dari RT setempat, setelah viral dikunjungi oleh konten kreator Abi Fatimah Fahira pada beberapa pekan yang lalu.
"Ya mungkin sekitar tiga minggu yang lalu atau satu bulan yang lalu lah. Itu pun saya dilaporkan sama Pak RT. 'Pak, ada warga kita,' saya kaget gitu kan," ungkap Hendri.
Hendri sekilas mengetahui latar belakang kesulitan keluarga tersebut kemudian. Menurutnya, kebutuhan keluarga memang lebih besar dibandingkan pemasukannya ditambah dengan utang yang menjeratnya.
"Karena waktu itu memang ada kejadian saat istrinya hamil mau melahirkan itu, dari situ awal mulanya. Beliau ceritanya itu ya meminjam uang ke perusahaan. Nah, terus mungkin untuk bayarnya juga oleh perusahaan ya tidak dikasih kelonggaran," ujar Hendri.
"Nah, ini perusahaan ini mungkin entah kenapa membebankan pinjaman itu ya di luar standar pemasukan dia. Akhirnya keteteran lah si warga ini. Sehingga yang beliau bawa pulang ke rumah itu mungkin di apa, dipas-pasin untuk kehidupan sehari-hari sama bayar kontrakan pun ngepres, akhirnya dia (ambil) side job," sambungnya.
Hendri tahu, Abdul Jalil mengambil pekerjaan sebagai tukang ojek pangkalan. Tapi, pemasukannya ternyata pemasukannya belum cukup.
"Jadi tukang ojek, malam, sepulang kerja itu. Ya, istilahnya jauh dari kata cukup gitu. Akhirnya keteteran lah dari situ. Nah, sehari-hari buat nutupin itu dia coba jadi ojek pangkalan. Akhirnya paling bawa pulang ke rumah itu semalam katanya ceritanya itu bisa Rp 20 ribu Rp 30 ribu. Nah, sedangkan buat makan sehari-hari anak empat itu kan repot," tutur Hendri.





