PT Pertamina Geothermal Energy Tbk terus mengoptimalkan pemanfaatan energi panas bumi di Area Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Beragam langkah strategis ditempuh, mulai dari optimalisasi kapasitas pembangkit, ekspansi wilayah kerja, hingga inovasi pengembangan hidrogen hijau guna mendukung transisi energi bersih di Tanah Air.
Mengutip data dari laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), hingga akhir 2024, total kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di Indonesia mencapai 2.638,8 megawatt (MW). Angka itu baru 11 persen dari total potensi panas bumi yang ada.
Pada akhir 2024, pemerintah telah mengidentifikasi 362 titik panas bumi dengan potensi 23,6 GW atau hampir 40 persen dari total potensi panas bumi dunia. Potensi itu tersebar di 62 wilayah kerja panas bumi, termasuk di kawasan Ulubelu.
Besarnya cadangan panas bumi ini tak lepas dari letak geografis Indonesia yang berada di jalur cincin api Pasifik atau ring of fire. Deretan gunung berapi aktif di Indonesia membentang mengelilingi Samudera Pasifik, menjadi sumber utama energi panas bumi.
Energi panas bumi sendiri memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan energi terbarukan lain karena tidak bergantung cuaca. Selain itu, produksi energi lebih besar dan tingkat kapasitas lebih tinggi.
General Manager PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Ulubelu Edy Sudarmadi mengatakan, energi panas bumi merupakan energi bersih yang selalu tersedia dan siap digunakan kapan pun. “Panas bumi didorong sebagai salah satu energi yang bisa masuk di dalam transisi energi untuk mencapai target Net Zero Emission pada tahun 2060,” kata Edy saat acara Media Gathering di Bandar Lampung, Rabu (4/3/2025) sore.
Tak hanya Indonesia, ujar Edy, berbagai negara di dunia juga tengah mempercepat transisi menuju energi bersih. Ke depan, pemanfaatan sumber energi rendah emisi akan ditingkatkan sebagai upaya menjaga keberlanjutan pasokan energi.
Dari data PGE, secara nasional, BUMN yang bergerak di bidang eksplorasi, eksploitasi, dan produksi panas bumi tersebut mengelola 15 wilayah kerja panas bumi dengan kapasitas terpasang sebesar 1.932 MW. Dari jumlah itu, 727 MW di antaranya dioperasikan dan dikelola langsung oleh PGE. Adapun 1.205 MW lainnya dikelola dengan skema kontrak operasi bersama.
Kapasitas terpasang panas bumi di wilayah kerja PGE berkontribusi sekitar 70 persen dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia. Adapun potensi pengurangan emisi CO2 mencapai sekitar 10 juta ton CO2 per tahun.
Maintenance Manager PGE Area Ulubelu Rizaldy mengatakan, saat ini sudah ada empat unit Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) Ulubelu yang beroperasi dengan kapasitas sebesar 220 megawatt (MW). Dengan empat pembangkit itu, PLTP Ulubelu memenuhi sekitar 20 persen dari total kebutuhan listrik di Lampung, sebesar 1.220 MW saat beban puncak.
Adapun total pasokan listrik dari seluruh unit pembangkit yang ada di Lampung sebesar 739 MW. Hingga saat ini, Lampung masih mengandalkan tambahan daya dari Sumatera Selatan. Karena itu, pengembangan energi panas bumi di Ulubelu mendesak dilakukan untuk meningkatkan pasokan listrik di Lampung.
Menurut Rizaldy, pihaknya terus mengoptimalkan pemanfaatan energi panas bumi melalui berbagai inisiatif, seperti Proyek Gunung Tiga, pengembangan teknologi binary unit dan low-pressure. Realisasi proyek-proyek itu diharapkan dapat meningkatkan kapasitas daya sekaligus memperkuat ketahanan energi bersih di Lampung.
“Secara umum, pengembangan di Ulubelu selama 5-10 tahun ke depan masih sangat agresif. Kami akan mengembangkan beberapa unit pembangkit, yaitu unit 5 dan unit 6 di Gunung Tiga, dan ada juga pengembangan binary unit,” kata Rizaldy.
Dengan berbagai langkah strategis itu, PGE memproyeksikan penambahan kapasitas daya 95 MW. Penambahan ini berasal dari potensi 55 MW pada Proyek Gunung Tiga, 30 MW dari pengembangan unit binary, serta 10 MW dari pembangkit bertekanan rendah (low-pressure) sebagai bagian dari optimalisasi teknologi.
Saat ini, proyek eksplorasi Gunung Tiga sudah mulai dijalankan. Lokasinya berada dalam Wilayah Kerja Panas Bumi Gunung Way Panas seluas 89.280 hektare. Proyek ini dirancang berkapasitas 2x27,5 MW atau total 55 MW.
Tak hanya itu, pengembangan energi bersih di Ulubelu juga memasuki babak baru dengan dimulainya pembangunan Pilot Plant Green Hydrogen Ulubelu pada September 2025. Proyek ini menjadi fasilitas pertama di dunia yang mengintegrasikan teknologi anion exchange membrane (AEM) electrolyzer dengan energi panas bumi sebagai sumber listrik. Dengan nilai investasi 3 juta dollar AS, proyek ini ditargetkan mulai beroperasi pada November 2026.
Teknologi itu diprediksi akan mampu menghasilkan hidrogen hijau dengan kapasitas sekitar 100 kilogram per hari dengan laju 50 kubik normal per jam. Adapun tingkat kemurnian hidrogen hijau diperkirakan mencapai 99,9 persen.
Sebelumnya, pada Jumat (20/2/2026), Komisi XII DPR melaksanakan kunjungan kerja ke Lampung. Salah satunya adalah untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, regulator, dan pelaku usaha dalam mendorong pengembangan energi panas bumi di Lampung.
Dalam forum tersebut dibahas berbagai potensi serta dukungan kebijakan dan percepatan yang diperlukan guna mengoptimalkan pengembangan panas bumi, khususnya di Tanggamus, Lampung.
Wakil Ketua Komisi XII DPR Putri Zulkifli Hasan mengatakan, Lampung memiliki kekayaan sumber daya panas bumi yang sangat signifikan dan strategis dalam mendukung bauran energi nasional. Ia menegaskan komitmen Komisi XII dalam mendukung kebijakan, regulasi, dan koordinasi lintas sektor untuk mempercepat peningkatan kapasitas dan keberlanjutan pengembangan panas bumi di Ulubelu.
“Komisi XII berkomitmen untuk mengawal dan memfasilitasi berbagai kebutuhan strategis, baik dari sisi regulasi, insentif, maupun dukungan kelembagaan agar pengembangan kapasitas dan nilai tambah geothermal dapat berjalan lebih progresif dan berkelanjutan,” kata Putri.





