EtIndonesia. Suatu hari, seorang mahasiswa muda berjalan-jalan bersama profesornya. Sang profesor adalah pribadi yang baik hati, dan mahasiswa itu bukan hanya muridnya, tetapi juga sahabatnya.
Saat berjalan, mereka melihat sepasang sepatu tua tergeletak di pinggir jalan.
Ternyata sepatu itu milik seorang pekerja miskin yang setiap hari meninggalkannya di sana. Setelah selesai bekerja, ia akan kembali untuk mengambil barang-barangnya. Waktu pulang kerja sudah hampir tiba.
Mahasiswa itu tiba-tiba mendapat ide dan berkata kepada profesornya,
“Bagaimana kalau kita sembunyikan sepatu ini? Kita lihat bagaimana reaksinya saat ia tak menemukannya.”
Profesor itu tersenyum dan menjawab,
“Kita jangan menjadikan orang miskin sebagai bahan lelucon. Mengapa tidak kita lakukan sesuatu yang lebih baik? Masukkan beberapa koin ke dalam masing-masing sepatu, lalu kita lihat bagaimana reaksinya.”
Mahasiswa itu setuju. Ia memasukkan beberapa koin ke dalam kedua sepatu itu, lalu mereka berdua bersembunyi di balik pepohonan untuk mengamati.
Tak lama kemudian, pekerja miskin itu datang. Ia mengambil pakaiannya, lalu memasukkan kaki ke dalam sepatu pertama.
Tiba-tiba ia merasakan sesuatu. Ia membungkuk dan menemukan sebuah koin perak di dalam sepatu. Wajahnya langsung berubah penuh keterkejutan. Ia memegang koin itu, membolak-baliknya, memandang sekeliling—mungkin mengira ini lelucon.
Namun karena tak ada siapa pun di sekitar, ia pun menyimpan koin itu ke dalam sakunya.
Ia lalu mengenakan sepatu satunya lagi. Di dalamnya, ia kembali menemukan koin perak.
Kali ini wajahnya benar-benar berseri. Dengan penuh haru, ia berlutut dan berdoa.
Ia mengucap syukur karena istrinya sedang sakit dan di rumah hampir tak ada makanan. Ia berterima kasih kepada Tuhan yang mengetahui kesulitannya, dan melalui tangan seseorang yang tak dikenal, memberinya pertolongan di saat terdesak.
Setelah pria itu pergi, mahasiswa itu berdiri di samping profesornya. Matanya berkaca-kaca, hatinya tersentuh.
Profesor itu bertanya,
“Menurutmu, mana yang lebih bermakna—rencanamu yang tadi, atau apa yang baru saja kamu lakukan?”
Mahasiswa itu menjawab,
“Yang ini jauh lebih bermakna. Hari ini saya belajar pelajaran yang tak akan pernah saya lupakan. Saya memahami satu kebenaran yang dulu tak saya mengerti—memberi jauh lebih berbahagia daripada menerima.”
Hikmah Cerita
Hati manusia itu unik.
Ada orang yang merasa senang dengan mengerjai orang lain, tertawa atas penderitaan orang lain. Namun kebahagiaan seperti itu semu dan tidak bertahan lama. Bahkan seperti candu—semakin sering dilakukan, semakin membutuhkan sensasi yang lebih ekstrem untuk merasakan kesenangan yang sama.
Sebaliknya, membantu orang lain dan melihat senyum tulus di wajahnya menghadirkan kebahagiaan yang lebih dalam dan tahan lama. Kekosongan hati bisa terisi hanya dengan melihat kebahagiaan sederhana dari orang yang kita tolong.
Orang yang benar-benar humoris adalah mereka yang mampu menertawakan dirinya sendiri untuk menghibur orang lain.
Yang paling rendah adalah mereka yang menjadikan orang lain sebagai bahan tertawaan.
Dan yang paling menyentuh adalah melihat senyum seseorang yang baru saja kita bantu.
Mencari kesenangan tidak harus dengan menyakiti orang lain. Kebaikan yang dilakukan diam-diam sering kali justru membawa rasa puas yang lebih tulus dan mendalam.
Hikmah cerita
Meski kisah ini indah, kita juga hidup di dunia nyata. Dalam kehidupan sehari-hari, mengambil uang yang ditemukan bisa masuk dalam pelanggaran hukum jika bukan milik kita.
Jika menemukan uang atau barang berharga, sebaiknya serahkan kepada pihak berwenang agar tidak menimbulkan masalah hukum.
Dan jika ingin membantu seseorang dengan cara serupa, lebih baik sertakan pesan atau surat kecil agar orang yang menerima tahu bahwa ada seseorang yang tulus ingin menolongnya.
Karena pada akhirnya, yang paling indah bukan hanya pemberian itu sendiri—
melainkan niat baik yang menyertainya. (Jhon)





