Kisah Warga Muara Angke: 40 Tahun Bertahan di Garis Bencana Banjir Rob Imbas Tekanan Ekonomi

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah semilir angin laut yang saling berlomba dengan terik matahari, sebagian warga Blok Empang Kerang Hijau, RW 22, Muara Angke, Jakarta Utara, terlihat sibuk mengupas kerang. 

Salah satunya Rokiyah (60) warga asli Indramayu, Jawa Barat, yang sudah bekerja sebagai pengupas kerang dan tinggal di Muara Angke selama 40 tahun.

"Saya jadi pengupas kerang, semenjak saya dari kampung pindah ke sini, itu ada 40 tahunan begini aja kerjaannya," ucap Rokiyah ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Rabu (4/3/2026).

Selama 40 tahun itu pula, Rokiyah dan keluarganya harus bertahan di garis bencana banjir rob.

Sebab, Blok Empang Kerang Hijau di RW 22 menjadi lokasi yang paling dekat dengan bibir laut, sehingga selalu terdampak banjir rob.

Hidup di garis bencana tentu bukan perkara yang mudah untuk Rokiyah dan keluarga.

Di tengah lokasinya yang rawan banjir, dulu rumah-rumah warga Blok Empang Kerang Hijau didominasi bangunan semipermanen yang sangat ringkih dan mudah roboh karena terus tergerus air laut dan angin.

Baca juga: KRL Kampung Bandan–Angke Sempat Terganggu, Kini Sudah Normal Lagi

Ketiadaan tanggul pengaman laut saat itu menyebabkan air bisa tumpah ke daratan kapan saja dalam jumlah besar.

Imbasnya, banjir rob yang terjadi kerap merendam setengah dari ketinggian rumah-rumah semipermanen warga. Hal itu membuat warga kesulitan beraktivitas, termasuk di dalam rumah.

Bukan hanya pagi hari, air laut bisa meluap kapan saja, termasuk ketika warga sedang tidur lelap di rumah.

"Banjir, kumuh, enggak bisa tidur, sampah banyak. Giliran lagi istirahat tidur, pas air datang, jadi, ya, udah duduk di bangku balai kayu nungguin air kering atau surut," ungkap Rokiyah.

Berharap bisa bangun rumah

Setiap ada ancaman banjir rob, warga berbondong-bondong melakukan antisipasi dengan menguruk rumah menggunakan kulit kerang hijau.

Namun, upaya tersebut seringkali gagal, air laut dengan lenggang tetap masuk ke rumah-rumah warga tanpa aba-aba.

"Sampai rumah saya abis diurukin terus saya sampai nunduk-nunduk masuk rumah, saya mikir ya Allah ini kapan bisa bangun rumah," ucap Rokiyah.

Selain menganggu waktu istirahat, banjir rob juga membahayakan warga karena sering mendatangkan binatang seperti ular dan biawak masuk ke rumah.

Oleh karena itu, Rokiyah selalu menggunakan sepatu boots ketika banjir rob melanda, untuk melindungi kakinya dari gigitan hewan berbahaya yang sering kali tak terlihat.

KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU Rokiyah (60) warga Muara Angke, Jakarta Utara, yang bertahan selama 40 tahun dari banjir rob. Rabu, (3/3/2026).

Tekanan ekonomi

Meski harus hidup dalam bayang-bayang banjir rob, Rokiyah mengaku tak bisa meninggalkan Muara Angke begitu saja.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Sebab, satu-satunya sumber mata pencaharian andalannya sebagai pengupas kerang hanya ada di Muara Angke.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Arab Saudi Emosi, Bersiap Balas Iran
• 23 jam laludetik.com
thumb
Bahlil: Konversi ke Motor Listrik Berlanjut, Disubsidi hingga Rp 6 Juta per Unit
• 45 menit lalukumparan.com
thumb
[FULL] AS-Israel Serang Iran, Indonesia Akan Mundur dari Board of Peace demi Palestina? | SATU MEJA
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Pelindo Pastikan Kesiapan Pelabuhan Makassar Jelang Mudik Lebaran
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Remaja Lamongan Dikeroyok Puluhan Pesilat Gara-gara Baju Perguruan Silat Lain
• 4 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.