Batam Waspadai Dampak Konflik Iran-Israel-AS, Harga Minyak & Investasi Terancam

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, BATAM – Pelaku usaha di Batam tengah memantau ketat ketegangan bersenjata antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, yang dinilai berpotensi mengguncang ekonomi daerah melalui lonjakan harga minyak dunia dan gangguan logistik.

Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid, mengatakan konflik yang berpusat di Selat Hormuz, jalur strategis distribusi energi global, dapat mendorong kenaikan harga minyak karena jalur ini dilalui sekitar 80% minyak dari kawasan Teluk.

“Kenaikan harga minyak akan langsung memengaruhi biaya transportasi dan logistik. Saat transportasi naik, harga barang dan jasa juga ikut terdorong, sehingga tekanan inflasi sulit dihindari,” ujar Rafki, Rabu (4/3).

Ia menambahkan arus investasi ke Batam juga berpotensi tertahan karena investor cenderung mengambil posisi menunggu kondisi geopolitik stabil sebelum menambah ekspansi. Dunia usaha pun mulai menyusun mitigasi risiko, termasuk potensi penurunan permintaan ekspor akibat gangguan ekonomi global.

“Kalau permintaan turun, perusahaan biasanya menyesuaikan operasional. Kita tentu berharap hal ini tidak sampai berdampak pada pengurangan tenaga kerja,” kata Rafki.

Sementara itu, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Batam, Suyono Saputra, menekankan bahwa dampak jangka pendek konflik terhadap kinerja ekspor-impor Indonesia, khususnya minyak mentah, masih terbatas. Namun, penutupan Selat Hormuz telah mendorong harga Brent Crude naik sekitar dua persen per 3 Maret.

Baca Juga

  • Arah Saham MEDC (Medco Energi) saat Konflik AS-Iran Memanas
  • Medco (MEDC) Konfirmasi Operasional di Oman Belum Terdampak Konflik AS-Iran

“Sekitar 20% arus minyak dunia melewati Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama distribusi energi dari Arab Saudi, Irak, Qatar, Kuwait, dan Iran. Jika konflik meluas, harga energi global diproyeksikan terus meningkat,” ujar Suyono.

Selain minyak, hubungan dagang Indonesia dengan beberapa negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Iran, dan Oman juga berpotensi terdampak. Komoditas ekspor-impor utama mencakup logam mulia dan perhiasan, dengan nilai transaksi diperkirakan mencapai 5–6 miliar dolar AS.

Suyono menambahkan lonjakan harga minyak dan gas alam cair (LNG) berisiko menekan biaya produksi sektor manufaktur global. Kenaikan biaya ini berpotensi diteruskan ke harga barang, menurunkan daya beli masyarakat, dan mengurangi utilisasi pabrik manufaktur.

“Dinamika ini perlu dipantau secara berkala karena Batam merupakan kawasan industri dan perdagangan yang terhubung langsung dengan rantai pasok internasional,” kata Suyono.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Muzani Sebut Indonesia Bisa Kapan Saja Keluar BoP, Tapi Ini Syaratnya
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Trump Berlakukan Tarif Global 15% Mulai Pekan Ini, Bagaimana Nasib RI?
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
Jadwal Buka Puasa di Jakarta Pusat Hari Ini 5 Maret 2026
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Mengenal Cara Kerja Skrining Pendengaran Anak Sejak Dini untuk Cegah Gangguan Tuli Sejak Lahir
• 23 jam lalupantau.com
thumb
Salat Gerhana Bulan Unismuh Makassar: Menguatkan Spiritualitas dan Edukasi Astronomi di Ramadan
• 19 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.