Menjelang arus mudik Lebaran, deretan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) kembali bersiap mengangkut penumpang lintas kota dan pulau. Moda ini menjadi tumpuan banyak orang untuk pulang kampung, terutama ke daerah yang tidak dilalui kereta api maupun pesawat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, bus juga kerap tercatat dalam rentetan kecelakaan lalu lintas yang menelan korban jiwa.
Mendekati arus mudik itu, Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah memeriksa sejumlah bus trayek jarak jauh di Terminal Penggaron, Kota Semarang, Kamis (5/3/2026). Belasan petugas disebar sejak pagi untuk memastikan setiap armada benar-benar layak beroperasi. Pemeriksaan dilakukan pada aspek teknis kendaraan sekaligus kelengkapan administrasi angkutan umum.
Di salah satu sudut terminal, dua petugas tampak memeriksa kabin bus milik PO Gunung Harta dengan trayek Semarang–Denpasar. Sambil membawa lembar catatan, mereka menyisir kursi penumpang, pintu darurat, hingga ruang kemudi. Sementara itu, petugas lain mengecek bagian luar kendaraan, mulai dari roda, sistem pengereman, hingga lampu penerangan.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah Arief Djatmiko mengatakan pemeriksaan angkutan umum tersebut merupakan bagian dari persiapan menghadapi arus mudik Lebaran. “Tujuannya agar masyarakat yang menggunakan kendaraan umum merasa aman dan perjalanan lebih selamat,” ujar Arief.
Di antrean pemeriksaan, Rizki, pengemudi bus PO Sinar Jaya, mempersilakan petugas memeriksa armadanya. Setelah melalui pengecekan, bus jurusan Semarang–Lampung itu ditempeli stiker sebagai penanda telah lolos uji kelaikan.
Rizki pengemudi bus PO Sinar Jaya trayek Semarang-Lampung saat menunggu penumpang di Terminal Penggaron, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/3/2026).
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Petugas di antara dua bus antarkota antarprovinsi saat pemeriksaan kondisi armada di Terminal Penggaron, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/3/2026).
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Salah satu penumpang menunggu keberangkatan dengan bus antarkota antarprovinsi Semarang-Denpasar di Terminal Penggaron, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/3/2026).
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Pengemudi yang telah lima tahun mengemudikan bus jarak jauh itu mengaku tantangan terbesar di jalan adalah menjaga stamina. “Yang paling berat menahan rasa lelah dan mengantuk di perjalanan,” kata Rizki. Selain itu, ia juga menyebut godaan untuk memacu kendaraan lebih cepat demi mengejar waktu kerap muncul saat di jalan.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mencatat sepanjang 2025 penyebab terbesar kecelakaan lalu lintas masih didominasi faktor manusia. Hasil investigasi juga menunjukkan persoalan teknis yang berulang pada angkutan umum dan barang, terutama kegagalan sistem pengereman.
Refleksi pengemudi bus antarkota antarprovinsi saat armadanya masuk ke dalam Terminal Penggaron, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/3/2026).
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Dokumen bus antarkota antarprovinsi yang turut dalam pengecekan petugas dari Dinas Perhubungan di Terminal Penggaron, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/3/2026).
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Petugas Dinas Perhubungan mencatat dan memeriksa setiap detail kondisi bus antarkota antarprovinsi di Terminal Penggaron, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/3/2026).
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Awak bus PO Gunung Harta memeriksa rutin mesin sebelum perjalanan dengan trayek Semarang-Denpasar di Terminal Penggaron, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/3/2026).
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Pada tahun yang sama, bus masih menjadi moda transportasi darat yang rawan kecelakaan hingga merenggut puluhan nyawa. Dua peristiwa besar terjadi pada Mei 2025 di Padang, Sumatera Barat, yang menewaskan 12 orang, serta pada Desember 2025 di Semarang dengan 16 korban meninggal.
Situasi itu membuat persiapan mudik tidak bisa hanya dimaknai sebagai penambahan armada dan pengaturan jadwal perjalanan. Pemeriksaan kelaikan kendaraan, pengawasan jam kerja pengemudi, serta penguatan budaya keselamatan menjadi hal penting di tengah lonjakan mobilitas masyarakat menjelang Lebaran.




