REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap Ramadhan, umat Islam lebih aktif dalam melakukan ibadah-ibadah sunah. Di antara amalan itu adalah shalat malam atau yang diistilahkan sebagai shalat Tarawih.
Durasinya bisa bermacam-macam. Ada yang mendirikannya dengan delapan rakaat. Ada pula yang memilih 20 rakaat.
Baca Juga
Safety First Lebaran 2026: Pelni Tingkatkan Alat Evakuasi hingga 145 Persen dari Proyeksi Penumpang
Menpora: Negara Berpihak pada Korban Dugaan Kekerasan Seksual, Dukung FPTI Proses Hukum
Jetsport Dunia Berkumpul di Ancol Agustus 2026, Indonesia Siap Ukir Sejarah
Masjid-masjid menjadi lebih ramai pada waktu bakda Isya malam bulan suci ini. Jamaah memadati tempat ibadah. Mereka tidak hanya terdiri atas orang dewasa dan kaum tua, melainkan juga anak-anak.
Alim ulama dari generasi terdahulu (salaf) memiliki pola dalam mendidik putra-putri mereka agar gemar shalat malam. Hebatnya lagi, tidak sedikit di antara mereka yang memiliki buah hati dengan semangat tinggi dalam beribadah. Anak-anak itu justru yang ingin lebih mengenal dan menjalani shalat sunah tersebut.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Sebagai contoh, kisah yang disampaikan Syekh Ibnu Zhafar al-Makki berikut ini. Ulama tersebut menuturkan cerita masa kecil Abu Yazid Thaifur, yakni tatkala putra Isa al-Busthami itu menghafalkan Alquran.
Malam itu, bocah lelaki ini sampai pada ayat pertama dan kedua dari surah al-Muzzammil. Artinya, “Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil.”
Maka Abu Yazid Thaifur kecil lekas bertanya kepada bapaknya, “Wahai Ayah! Siapakah orang yang dimaksud Allah Ta’ala dalam ayat ini?”
“Wahai Ananda, yang dimaksud di sini adalah Nabi Muhammad SAW,” jawab sang ayah.