FAJAR, JAKARTA — Pemerintah memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia masih cukup kuat menghadapi potensi krisis global akibat konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pemerintah telah membahas berbagai skenario untuk menjaga ketahanan fiskal apabila konflik global tersebut berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Menurutnya, berdasarkan analisis sementara serta kondisi fiskal terkini, APBN Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif aman.
“Kalau analisa kami yang ada sekarang masih cukup baik, jadi tidak ada masalah,” kata Purbaya, Kamis (5/3).
Ia menjelaskan salah satu faktor yang memperkuat kondisi fiskal Indonesia adalah kinerja penerimaan negara yang meningkat signifikan pada awal tahun 2026.
Data menunjukkan penerimaan dari sektor pajak dan bea cukai pada periode Januari hingga Februari 2026 mengalami pertumbuhan sekitar 30 persen. Angka tersebut dinilai menjadi indikator positif terhadap perbaikan aktivitas ekonomi nasional.
Selain itu, pemerintah juga telah melakukan simulasi terhadap berbagai kemungkinan pergerakan harga minyak dunia sepanjang tahun anggaran berjalan, mengingat konflik di Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan harga energi global.
Meski demikian, pemerintah menegaskan akan terus memantau perkembangan geopolitik internasional, khususnya dampaknya terhadap stabilitas ekonomi, perdagangan global, serta harga energi yang dapat memengaruhi kondisi fiskal nasional.
Konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat sendiri disebut telah memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dunia, terutama setelah jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz berpotensi terganggu.
Namun, hingga saat ini pemerintah menilai fondasi APBN masih cukup kuat untuk menghadapi berbagai kemungkinan dampak dari ketegangan geopolitik tersebut. (jpnn/*)





