JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menargetkan proyek normalisasi Kali Ciliwung rampung pada 2029.
Proyek ini diharapkan menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk mengurangi banjir yang selama puluhan tahun menghantui area bantaran sungai, termasuk wilayah Kebon Pala, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur.
Kepala Unit Pengadaan Tanah Sumber Daya Air Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Ibnu Affan mengatakan, wilayah Kebon Pala merupakan bagian dari rencana normalisasi Kali Ciliwung di Kelurahan Kampung Melayu.
Baca juga: Dalam 3 Hari, Dua Bayi Dibuang di Jakarta Selatan
Menurut dia, saat ini proyek tersebut masih berada dalam tahap administrasi sebelum pelaksanaan fisik dilakukan.
“Wilayah Kebon Pala termasuk bagian dari normalisasi Kali Ciliwung di Kelurahan Kampung Melayu dan saat ini dalam rangkaian proses penerbitan Penetapan Lokasi (Penlok), di mana telah dibentuk Tim Verifikasi Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah oleh Gubernur,” ujar Ibnu dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Kamis (5/3/2026).
Selain normalisasi, pembangunan tanggul juga menjadi bagian dari rencana pengendalian banjir di kawasan tersebut.
Ia menjelaskan, sebagian wilayah Kampung Melayu sudah memiliki tanggul yang dibangun oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Kementerian Pekerjaan Umum. Namun, pembangunan itu belum sepenuhnya selesai.
“Akan dilakukan lanjutan proses pengadaan tanah untuk mendukung pembangunan tanggul,” kata dia.
Ibnu menyebut pembangunan infrastruktur pengendalian banjir di Kali Ciliwung dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan pada lokasi prioritas penanganan.
Dalam prosesnya, koordinasi antara pemerintah daerah dan masyarakat disebut terus dilakukan.
Ia menyebut komunikasi dengan pengurus lingkungan, di antaranya RT dan RW difasilitasi oleh pemerintah setempat.
“Koordinasi dan komunikasi dengan RT/RW terbangun dengan baik yang juga difasilitasi oleh kelurahan, kecamatan, dan Wali Kota Jakarta Timur serta bekerja sama dengan BPBD DKI Jakarta,” kata Ibnu.
Meski demikian, warga yang tinggal di sekitar bantaran Kali Ciliwung masih harus menunggu beberapa tahun lagi hingga proyek tersebut benar-benar selesai.
“Proyek normalisasi dan pembangunan diharapkan selesai pada tahun 2029,” ujar dia.
Banjir sejak 1996Bagi warga Kebon Pala, cerita banjir bukan hal baru. Ketua RT 13 RW 04 Kebon Pala, Sanusi, mengatakan banjir besar mulai sering terjadi sejak pertengahan 1990-an.
“Kalau banjir yang paling besar itu mulai tahun 1996. Sebelum 1996 sebenarnya sudah ada banjir, tapi tidak sebesar itu,” kata Sanusi saat ditemui Kompas.com di rumahnya, Selasa (3/3/2026).
Baca juga: Titik-titik Tanggul Bolong di Kali Bekasi Terungkap, Disebut Picu Banjir
Setelah itu, banjir besar kembali terjadi beberapa kali dan meninggalkan pengalaman pahit bagi warga.
Menurut Sanusi, tahun 2007 menjadi salah satu peristiwa paling parah yang pernah terjadi di Kebon Pala.
Banjir besar juga tercatat terjadi pada 2002, kemudian 2013, dan kembali melanda wilayah itu pada 2020.
Beberapa tahun terakhir, kata dia, frekuensi banjir justru semakin meningkat.
“Kalau sekarang malah lebih sering. Di sini kadang hampir setiap bulan bisa banjir kalau hujan lama di Bogor atau di sini juga hujannya terus. Air di jalan bisa sampai dua meter,” kata Sanusi.
Kondisi itu membuat warga secara perlahan beradaptasi dengan keadaan. Banyak dari mereka yang menganggap banjir kecil sebagai hal biasa.
“Kadang kalau air naik sedikit, warga sudah anggap biasa saja. Kalau cuma sepinggang orang dewasa, mereka bilang masih kecil,” ujar dia.
Rumah bertingkat sebagai strategi bertahanRT 13 merupakan kawasan padat penduduk. Di lingkungan tersebut terdapat sekitar 96 kepala keluarga yang tinggal dalam 53 bangunan rumah.
Menurut Sanusi, banyak rumah kini dibangun dua hingga tiga lantai. Pembangunan rumah bertingkat tidak hanya dipicu oleh ancaman banjir, tetapi juga kepadatan penduduk di wilayah tersebut.
“Dalam satu rumah bisa dua sampai empat kepala keluarga, karena anak yang sudah menikah biasanya tetap tinggal di sini,” ujar Sanusi.
Meski begitu, keberadaan lantai tambahan juga menjadi cara bertahan ketika air mulai meluap.
Ketika banjir datang, warga biasanya memindahkan barang ke lantai atas. Bagi mereka yang memiliki rumah dua atau tiga lantai, lantai dasar sering kali rela dibiarkan tergenang.
Baca juga: Warga Antre Sembako Murah di Ciganjur, Paket Rp 150.000 Dijual Rp 100.000
Banjir tetap membawa kerugian, terutama bagi warga yang menggantungkan penghasilan dari usaha rumahan.
“Banyak warga di sini pedagang rumahan. Kalau banjir, otomatis mereka tidak bisa jualan,” kata Sanusi.
Selain kehilangan pendapatan, kerusakan barang rumah tangga juga kerap terjadi.
“Kasur, pakaian, lemari sering rusak karena terendam,” ujar dia.
Dalam beberapa kasus, banjir datang begitu cepat sehingga warga tidak sempat menyelamatkan barang-barang mereka.
“Kalau banjir datang tiba-tiba tanpa kabar, banyak lemari sampai terbalik. Barang-barang warga habis terendam,” kata Sanusi.
Kehidupan sehari-hari di tengah ancaman banjirLangkah kaki menyusuri gang sempit di RT 13 RW 04 Kebon Pala segera disambut oleh pemandangan kontras antara aktivitas warga dan ancaman yang mengintai dari aliran Kali Ciliwung.
Sudah lebih dari tiga dekade, banjir bukan lagi sekadar tamu tak diundang, melainkan bagian dari siklus hidup yang memaksa mereka untuk terus beradaptasi di tengah ketidakpastian.
Pemandangan mencolok terlihat pada tiang-tiang listrik dan dinding rumah yang dipasangi angka-angka pengukur ketinggian air.
Garis merah di angka 200 sentimeter menjadi saksi bisu betapa seringnya wilayah ini tenggelam ketika banjir datang.
Strategi bertahan hidup tampak dari arsitektur rumah-rumah warga. Hampir setiap bangunan di wilayah ini memiliki dua hingga tiga lantai.
Bagi sebagian warga, lantai dasar bukan lagi ruang utama untuk beraktivitas saat musim hujan.
Baca juga: Pemotor Tewas Terlindas Bus Transjakarta di Gunung Sahari, Bermula dari Terobos Busway





