Liputan6.com, Jakarta - Pakar Konservasi Satwa Liar sekaligus Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) University Ani Mardiastuti mengatakan, populasi Harimau Sumatera semakin menurun seiring dengan hilangnya mangsa dan lahan hutan sebagai habibat asli harimau.
Pulau Sumatera menjadi habitat terakhir bagi Harimau Sumatera, satu-satunya subspesies harimau yang masih bertahan di Indonesia. Namun, penyempitan hutan dan berkurangnya satwa mangsa membuat populasi predator puncak ini terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Advertisement
Ia menjelaskan, hilangnya habitat alami dan menurunnya populasi rusa sebagai mangsa utama menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup harimau.
"Jumlahnya malahan bukan nambah, bukan tetap, malah menurun. Harimau itu predator, cari makan susah. Hutannya juga sudah semakin sedikit," ujar Ani dilansir dari laman resmi Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Kamis 5 Maret 2026.
Menurut Ani, Harimau Sumatera memiliki posisi penting dalam ekosistem sebagai apex predator atau predator puncak.
Keberadaannya dinilai penting dalam menjaga keseimbangan rantai makanan sekaligus stabilitas keanekaragaman hayati di hutan.
Kelestarian Harimau Sumatera sangat bergantung pada upaya perlindungan habitat hutan dan ketersediaan satwa mangsa di alam liar.
Oleh karena itu, diperlukan langkah serius seperti penegakan hukum terhadap perburuan liar, pengendalian alih fungsi hutan, serta penguatan kawasan konservasi.
Selain itu, keterlibatan masyarakat sekitar hutan dalam menjaga satwa dan habitatnya penting untuk dilakukan dengan lebih masif.




