Kasus campak di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, merebak. Angkanya menembus ratusan kasus suspek.
Salah satu rumah sakit yang menangani kasus ini adalah RSUD dr Loekmono Hadi, Kabupaten Kudus. Tercatat pada November 2025 hingga Februari 2026 ada 113 kasus suspek campak di sana.
"Data kami pada November 2025 sampai Februari 2026 ada 113 kasus suspek campak. Dari jumlah 113 kasus (suspek) itu sebanyak 12 di antaranya positif campak," kata Plt Direktur RSUD dr Loekmono Hadi, dr Mustiko Wibowo saat ditemui, Kamis (5/3).
Ia menerangkan, selama periode tersebut tidak ada temuan pasien meninggal karena penyakit campak. Sementara itu, per hari ini masih ada satu pasien yang dirawat akibat campak di RSUD dr Loekmono Hadi.
Pasien Usia 0-9 BulanPihaknya menyebut pasien campak yang pernah dirawat di RSUD dr Loekmono Hadi memiliki usia yang berbeda-beda, berkisar 0 bulan hingga 9 bulan. Sementara kasus meninggal akibat campak nihil.
"Campak sebenarnya bisa menyerang usia berapa pun. Namun, memang rata-rata usia balita sampai anak-anak," ucapnya.
Menurutnya, ciri-ciri paling mudah untuk mengenali penyakit campak yakni panas dan muncul ruam berwarna merah pada tubuh. Ia menyarankan bagi para pengidap campak untuk mengonsumsi makanan yang bergizi.
"Asupan makanan harus baik seperti tinggi kalori dan protein. Minum airnya juga harus banyak," terangnya.
Bahaya CampakSementara itu, salah satu dokter spesialis anak di RSUD dr Loekmono Hadi, dr Susilo Adi menjelaskan, sebenarnya bayi sudah mendapatkan imunisasi pasif dari ibu selama berada di kandungan. Namun, seiring bertambahnya usia bayi, yakni pada tujuh sampai delapan bulan, imunitas bayi menurun.
"Berkaca dari itu, bayi usia sembilan bulan harus mendapatkan imunisasi campak yang pertama," ujarnya saat ditemui kumparan, Kamis (5/3).
Kemudian, pada usia 18 bulan, bayi harus melakukan imunisasi campak yang kedua. Lalu, pada usia sekolah atau lima tahun sampai tujuh tahun, harus mendapatkan imunisasi ketiga.
"Pada intinya harus mendapatkan imunisasi campak sampai tiga kali, semakin bagus," sambungnya.
Menurut dia, imunisasi campak harus didapatkan. Terlebih imunisasi campak merupakan imunisasi dasar anak yang diwajibkan oleh pemerintah.
"Imunisasi campak bisa didapatkan di puskesmas secara gratis," terangnya.
Efek samping yang ditimbulkan pascaimunisasi campak memang ada. Biasanya efek samping ringan berupa muncul kemerahan di bagian area suntik. Selain itu ada rasa nyeri atau kaku serta demam.
Balita maupun anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi, menurut dr Susilo Adi, bisa mudah terpapar campak. Biasanya ditandai dengan demam tinggi, kejang, muncul ruam merah di anggota tubuh seperti belakang telinga, wajah, leher, dan perut.
"Selain itu mata berwarna merah, batuk, dan efek paling berat yakni mengalami radang paru-paru," ungkapnya.
Apabila ada kejadian meninggal akibat campak, biasanya dikarenakan adanya demam dan kejang. Termasuk gejala radang paru-paru yang jika tidak segera tertangani bisa menyebabkan kematian.
Penularan penyakit campak, disampaikan oleh dr Susilo Adi, dapat terjadi melalui droplet. Ia menyarankan agar masyarakat menjaga diri sebagai langkah antisipasi.
"Saran kami masyarakat menjaga kebersihan diri, mengonsumsi makanan yang sehat serta jangan lupa imunisasi campak sebanyak tiga kali sesuai jadwal, yakni usia sembilan bulan, 18 bulan, dan usia sekolah," imbuhnya.
Kasus Campak di KudusSementara itu, ditemui terpisah, Fungsional Epidemiolog Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, Jawa Tengah, Aniq Fuad mengatakan jumlah kasus campak di Kabupaten Kudus pada tahun 2025 menembus 238 kasus suspek. Dari jumlah 238 kasus suspek campak itu, sebanyak 68 orang dinyatakan positif campak.
Diketahui, pemeriksaan laboratorium dilakukan Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Yogyakarta. Hal itu dikarenakan di Kabupaten Kudus belum memiliki fasilitas cek laboratorium bagi penyakit campak. Sehingga pengecekan lab dilakukan di luar Kota Kretek.
Beranjak pada tahun 2026 ini, jumlah kasus suspek akibat campak di Kabupaten Kudus bertambah banyak dari tahun sebelumnya. Pada tahun ini jumlah suspek campak tercatat mencapai 414 kasus terhitung pada Januari 2026 sampai Maret 2026. Mereka berusia 0 bulan hingga usia dewasa. Dari jumlah 414 suspek campak tersebut, tidak ada temuan meninggal.
Perihal kasus positif campak di Kabupaten Kudus tahun 2026, Aniq menjelaskan pihak DKK Kudus tidak dapat memeriksakan keseluruhan 414 orang yang suspek campak untuk dicek laboratorium. Kondisi ini berbeda dengan tahun 2025 ketika pengecekan laboratorium untuk penyakit campak masih dicover pemerintah pusat.
"Di tahun 2026 ini pengecekan penyakit campak tidak lagi dicover APBN. Makanya di tahun ini kami tidak bisa mengecek lab untuk semua kasus suspek campak karena terkendala anggaran," katanya saat ditemui di kantor DKK Kudus, Kamis (5/3).
Berkaca dari itu, pihaknya hanya mengambil sampel sejumlah kasus untuk dilakukan cek laboratorium guna mengetahui kasus positif campak. Dari total 414 kasus suspek campak di Kabupaten Kudus pada 2026, diambil 60 sampel untuk dilab.
Ia menjelaskan pihaknya hanya mengambil 60 sampel. Hal itu karena menyesuaikan dengan jumlah reagen yang digunakan untuk memeriksa campak.
"Hasilnya, dari 60 sampel suspek campak, sebanyak 31 orang dinyatakan positif campak usai dilab di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Yogyakarta," sambungnya.
Aniq menjelaskan keterbatasan anggaran memang dialami. Ia menyampaikan biaya cek laboratorium untuk penyakit campak berkisar Rp 330 ribu per orang.
"Di tahun 2025 kami terbantu oleh anggaran dari pusat untuk cek laboratorium penyakit campak supaya bisa tahu positif atau negatif. Tetapi semenjak 2026 sudah tidak dicover anggaran dari pusat," ujarnya.
Sementara itu, perihal capaian vaksin imunisasi campak pada 2026, pihaknya belum memiliki data tersebut. Ia menjelaskan data yang ada berupa akumulasi cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL). IDL ini mencakup imunisasi hepatitis B, polio, BCG, DPT-HB-Hib, PCV, rotavirus, campak, dan lainnya.
"Kalau data capaian imunisasi campak di tahun ini belum ada. Data yang ada yakni capaian IDL dengan imunisasi campak di dalamnya. Capaian IDL tahun ini yang terdata di kami baru bulan Januari 2026 dengan capaian 10 persen. Artinya, untuk capaian imunisasi campaknya saja perkiraannya belum sampai 10 persen," jelasnya.
Melihat perkiraan capaian imunisasi campak yang kemungkinan belum mencapai 10 persen, menurut Aniq belum dapat dikatakan rendah. Terlebih masih ada beberapa bulan hingga akhir tahun 2026 untuk meningkatkan capaian imunisasi campak.
"Untuk capaian imunisasi campak belum bisa dikatakan rendah. Karena ketercapaian IDL kami 10 persen sudah di atas target yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah sebesar 8,3 persen untuk bulan Januari," terang dia.
Pihaknya menyarankan masyarakat untuk tetap melakukan imunisasi campak. Selain itu juga menyarankan pola hidup sehat.
"Solusi kami tetap lakukan imunisasi campak di puskesmas, rumah sakit dan klinik. Selain itu terapkan kualitas pola hidup sehat dan makan bergizi," imbuhnya.




