Pentagon: Ketentuan Pertahanan Bersama NATO Pasal 5 Kemungkinan Tidak Akan Diaktifkan
EtIndonesia. Pejabat Turkiye pada 4 Maret mengatakan bahwa sistem pertahanan NATO telah menghancurkan sebuah rudal Iran yang menuju wilayah udara Turkiye.
Rudal tersebut terdeteksi melintas di atas wilayah udara Irak dan Suriah sebelum akhirnya dihancurkan oleh sistem pertahanan udara NATO. Hal itu disampaikan Kepala Komunikasi Turkiye, Burhanettin Duran, dalam pernyataan yang diunggah di platform X.
“Tekad dan kemampuan Turkiye untuk menjamin keamanan negara dan bangsa kami tetap berada pada tingkat tertinggi. Semua langkah yang diperlukan untuk mempertahankan wilayah dan ruang udara Turkiye akan diambil tanpa ragu,” tulis Duran.
Ia menegaskan bahwa Turkiye akan merespons “setiap potensi tindakan permusuhan” sesuai dengan hukum internasional. Namun dari pernyataan tersebut belum jelas apakah Turki akan mengaktifkan ketentuan tertentu dalam NATO.
Meskipun tidak memberikan rincian tambahan, juru bicara itu mengatakan bahwa otoritas Turki “secara khusus meminta media dan pengguna media sosial untuk bertindak lebih hati-hati serta tidak menyebarkan laporan atau unggahan yang belum terverifikasi yang dapat menimbulkan kepanikan publik atau mengandung disinformasi.” Ia menekankan bahwa masyarakat harus berhati-hati terhadap informasi apa pun selain pernyataan resmi.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan kepada para wartawan di Pentagon pada Rabu pagi bahwa insiden tersebut kemungkinan tidak memenuhi syarat untuk mengaktifkan Pasal 5 NATO—ketentuan pertahanan kolektif yang menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota NATO dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota aliansi Atlantik.
“Kami mengetahui keterlibatan tersebut, tetapi tidak ada indikasi bahwa hal itu akan memicu sesuatu seperti Pasal 5,” katanya.
Sepanjang sejarah NATO, Pasal 5 hanya pernah diaktifkan satu kali, yaitu setelah serangan teroris 11 September 2001 yang menargetkan Amerika Serikat. Turkiye menjadi anggota NATO pertama yang wilayah udaranya didekati rudal Iran sejak dimulainya serangan udara pada 28 Februari.
Sebagai balasan atas serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel, Iran meluncurkan rudal dan drone ke berbagai negara Timur Tengah di sekitarnya, menyerang wilayah di Israel, Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Irak, dan sejumlah lokasi lainnya.
Departemen Luar Negeri AS telah memperingatkan warga Amerika agar tidak bepergian ke sekitar selusin negara di Timur Tengah, sementara ratusan penerbangan di kawasan itu dibatalkan. Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, mengatakan pada Rabu bahwa militer akan membantu mengevakuasi warga AS menggunakan pesawat militer.
Hegseth juga mengatakan bahwa lebih banyak pasukan Amerika akan tiba di Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat “akan mengambil waktu yang diperlukan untuk memastikan keberhasilan.”
Ia juga mengungkapkan bahwa sebuah torpedo dari kapal selam AS menenggelamkan kapal perang Iran pada Selasa malam, yang menjadi serangan pertama terhadap kapal musuh sejak Perang Dunia II.
“Angkatan laut Iran kini berada di dasar Teluk Persia,” kata Hegseth.
Gelombang pertama serangan pada 28 Februari menewaskan pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta puluhan pejabat tinggi rezim. Hingga kini belum ada tokoh yang ditunjuk untuk menggantikan Khamenei, yang telah memerintah negara itu sejak 1989.
The Associated Press turut berkontribusi dalam laporan ini.




