Tawaran Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator konflik Iran-Amerika Serikat mendapat sambutan hangat secara protokoler, tapi dingin secara substansi.
Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi mengapresiasi niat Jakarta, namun dalam kalimat berikutnya langsung menutup pintu Teheran tidak akan duduk di meja perundingan mana pun yang melibatkan Washington.
"Usulan dari pemerintah Indonesia, kami ingin menyampaikan bahwa kami tidak ada negosiasi dalam bentuk apa pun dengan kaum musuh, dikarenakan kami sudah tidak percaya dengan yang namanya negosiasi," kata Dubes Boroujerdi dikutip dari ANTARA, Kamis (5/3/2026).
Penolakan Iran bukan sikap impulsif, melainkan akumulasi dari tiga pengalaman diplomatik yang berakhir buruk. Boroujerdi merinci satu per satu: pertama, Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang ditandatangani pada 2015 sebagai kesepakatan nuklir internasional, lalu dilanggar sepihak ketika AS menarik diri dari perjanjian tersebut.
"Negosiasi kedua adalah lima putaran kami melakukan negosiasi dengan mereka dan di tengah-tengah negosiasi mereka telah menyerang negara kami," ucapnya.
Adapun negosiasi ketiga berlangsung dengan Oman sebagai mediator, delegasi kedua negara bahkan sudah berada di Jenewa, Swiss, menjalani putaran ketiga perundingan tidak langsung, sebelum operasi militer AS-Israel akhirnya dilancarkan dan menghancurkan seluruh proses tersebut.
Dari ketiga pengalaman itu, Boroujerdi menarik satu kesimpulan yang tidak menyisakan ruang tafsir.
"Ini berkaitan dengan komitmen terhadap sebuah negosiasi dan jaminan akan berlangsungnya sebuah negosiasi sampai pencapaian hasil. Untuk kali ini kami tidak akan menerima bentuk negosiasi apapun dan kami akan mengejar perang ini sampai kemenangan Iran," ucapnya.
Pernyataan itu disampaikan tepat di saat Indonesia secara resmi menawarkan diri sebagai fasilitator dialog. Kemlu RI sebelumnya menyatakan bahwa apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi. Jawaban Teheran kini sudah jelas.
Di dalam negeri, tawaran mediasi Prabowo menuai respons yang beragam. Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menilai mediasi belum diperlukan saat ini karena kedua pihak yang berkonflik masih merasa selangkah lagi menang, dan mediasi baru relevan ketika perang berkepanjangan dan pihak-pihak ingin mengakhirinya tanpa terlihat menyerah.
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla turut mempertanyakan kesetaraan posisi Indonesia di hadapan Amerika Serikat sebagai prasyarat mediasi yang efektif.
Baca Juga: Profesor Jiang Prediksi Amerika Serikat Kalah dalam Perang Melawan Iran
Indonesia bukan satu-satunya yang menawarkan jasa. Presiden Rusia Vladimir Putin turut menyatakan kesiapannya bertindak sebagai perantara, secara spesifik menyampaikan keluhan Uni Emirat Arab kepada Iran dalam sebuah panggilan telepon dengan Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan.
Namun dengan Iran yang menutup semua pintu negosiasi tanpa pengecualian, tawaran dari Jakarta maupun Moskow sama-sama menghadapi hambatan yang identik, tidak ada yang bisa berunding dengan pihak yang sudah memutuskan untuk tidak berunding.





