LPEI Kucurkan Rp2 Triliun, Ekspor Furnitur Diproyeksi Melesat

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki) menyambut dukungan pembiayaan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) senilai Rp2 triliun untuk mendorong kinerja ekspor furnitur nasional.

Ketua Umum Himki Abdul Sobur mengatakan fasilitas tersebut menjadi dorongan nyata bagi industri padat karya agar tetap ekspansif di tengah tantangan global.

“LPEI yang sekarang memberikan support ke kami Rp2 triliun untuk diserap sebagai dukungan nyata dari pemerintah untuk mengembangkan industri kita. Kami optimistis itu terserap pak,” kata Sobur dalam agenda Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2026, Kamis (5/3/2026).

Dia menjelaskan pembiayaan dari LPEI difokuskan untuk modal kerja berbasis pesanan (order). Skema ini memungkinkan pelaku usaha mengajukan pembiayaan saat menerima kontrak dari pembeli luar negeri.

Bunga yang ditawarkan sebesar 6%, jauh di bawah bunga komersial yang berkisar 10%–12%, serta sudah termasuk perlindungan asuransi gagal bayar.

“Jadi itu skema pembiayaannya itu untuk modal kerja sebenarnya. Jadi kalau kami di sini nanti ada dapat order dari konsumen, nah itu bisa diusulkan ke LPEI,” jelasnya.

Baca Juga

  • LPEI Siapkan Skema Export Credit Agency untuk Kerek Ekspor
  • LPEI Cetak Ribuan Desa Devisa dan Eksportir Baru pada Semester I/2025
  • LPEI Catat Peningkatan Signifikan Penyaluran Pembiayaan Program PKE

Sobur menambahkan LPEI menyediakan dua skema utama, yakni Kredit Modal Kerja (KMA) yang fleksibel dan Trade Finance dengan fasilitas pre-shipment serta post-shipment.

Skema tersebut dinilai membantu arus kas eksportir, terutama ketika pembeli menerapkan tempo pembayaran 30 hingga 90 hari setelah pengiriman barang.

“Nah, mungkin untuk pengusaha kan itu dengan adanya program ini kan bisa terbantu karena ada pre dan post-shipment itu tadi ininya,” tuturnya.

Selain LPEI, dukungan juga datang dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui program Kredit Investasi Padat Karya (KIPK). Fasilitas ini memberikan subsidi bunga sekitar 5% untuk investasi teknologi dan mesin produksi.

Program tersebut diarahkan untuk mendorong modernisasi industri agar lebih efisien dan berdaya saing tinggi, dengan plafon maksimal sekitar Rp10 miliar per perusahaan.

“Ini juga menarik ya karena arahannya lebih kepada investasi teknologi, alat produksi supaya kita naik kelas,” jelasnya.

Di sisi pasar, Himki terus mengupayakan diversifikasi ekspor, termasuk ke emerging market di Timur Tengah, meski situasi geopolitik masih menjadi tantangan.

Saat ini, Amerika Serikat masih menjadi pasar terbesar dengan porsi sekitar 54%–58% ekspor furnitur nasional. Namun, tarif bea masuk ke AS tercatat 19%, sesuai kesepakatan yang berlaku.

“Mudah-mudahan saya nanti dapat kabar ini bisa menjadi nol barangkali. Kalau jadi nol nanti investor masukannya ke sini,” ujarnya.

Himki optimistis stabilitas ekonomi Indonesia menjadi daya tarik bagi investor dan pembeli global. Dalam lima tahun ke depan, industri furnitur menargetkan ekspor menembus US$6 miliar atau sekitar Rp90 triliun, seiring dukungan pembiayaan dan perluasan pasar.

Adapun, data Kementerian Perindustrian menyebut, nilai ekspor furnitur (HS 9401-9403) tahun 2024 tercatat mencapai US$1,91 miliar dan tahun 2025 mencapai US$1,85 miliar atau turun sekitar 3%.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Fadia Arafiq Manfaatkan Kuasanya: Bikin Perusahaan, Paksa Menang Proyek, Uang Kembali ke Lingkar Bupati
• 15 jam lalukompas.com
thumb
CFX Proyeksikan Industri Kripto Indonesia Tetap Tumbuh pada 2026
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Sinopsis Drama China Game for Peace 2026, Jiwa Dua Pemimpin yang Tertukar
• 14 jam lalugrid.id
thumb
Mau Bangun Storage Minyak Baru, Bahlil: Investornya Sudah Ada
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Iran Masuk Masa Transisi Kekuasaan Setelah Wafatnya Ali Khamenei
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.