- Dubes Iran Mohammad Boroujerdi menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka untuk lalu lintas internasional meskipun ada ketegangan.
- Iran memberlakukan protokol lalu lintas khusus selama situasi perang, menjamin kelancaran bagi yang mematuhi aturan.
- Boroujerdi menyoroti kehadiran militer Amerika Serikat sebagai pengganggu stabilitas keamanan di kawasan tersebut.
Suara.com - Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menepis isu mengenai penutupan Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Boroujerdi menegaskan bahwa jalur pelayaran strategis tersebut tetap terbuka untuk lalu lintas internasional.
Dalam keterangannya, Boroujerdi menjelaskan bahwa Iran berperan sebagai penyelenggara keamanan di wilayah tersebut. Namun, ia menggarisbawahi adanya pemberlakuan aturan tambahan mengingat situasi kawasan saat ini.
"Selat Hormuz tidak ditutup, Selat Hormuz tetap terbuka. Kami hanya sebagai pihak yang menyelenggarakan keamanan, di selat ini hanya memberlakukan protokol lalu lintas yang khusus untuk saat-saat perang," ujar Boroujerdi kepada wartawan, pada Kamis (5/3/2026).
Menurutnya, protokol ini tidak bertujuan untuk menghambat perdagangan global. Ia menjamin bahwa pihak-pihak yang bersedia mematuhi aturan tersebut dapat melintasi selat dengan lancar.
"Pihak-pihak yang memang mematuhi protokol tersebut bisa dengan mudah melewati Selat Hormuz," tambahnya.
Boroujerdi juga menekankan peran historis Iran dalam menjaga stabilitas di Selat Hormuz yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Bagi Iran, keamanan di wilayah tersebut bersifat kolektif dan inklusif bagi semua negara yang berkepentingan.
Ia mengusung prinsip keadilan keamanan, di mana stabilitas harus dirasakan oleh semua pihak tanpa terkecuali.
Baca Juga: Iran Tutup Pintu Negosiasi, Dubes: Kami Bereskan Musuh di Medan Perang
"Kami sampaikan, keamanan di Selat Hormuz untuk semua negara di mana Iran juga termasuk di dalamnya, atau sama sekali tidak boleh ada negara yang memanfaatkan keamanan di sana," tegasnya.
Sentil Kehadiran Amerika Serikat
Lebih lanjut, Boroujerdi menyoroti kekhawatiran dunia internasional terkait potensi penutupan selat. Ia justru menunjuk kehadiran militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah sebagai faktor utama yang mengganggu stabilitas kawasan.
Ia menyarankan pihak-pihak yang khawatir untuk mempertanyakan peran AS yang datang dari luar kawasan namun justru dinilai memicu gangguan keamanan.
"Yang khawatir berkaitan dengan penutupan Selat Hormuz harus menanyakan kepada Amerika Serikat yang datang dari jauh sekali ke kawasan Timur Tengah kemudian mengganggu keamanan di Selat Hormuz," pungkasnya.
Selat Hormuz sendiri merupakan urat nadi penting bagi pasokan energi dunia, di mana hampir seperlima dari konsumsi minyak global melewati jalur tersebut setiap harinya. (Tsabita Aulia)




