Industri Mamin Tingkatkan Buffer Stock Sebulan Antisipasi Konflik Timur Tengah

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Industri makanan dan minuman nasional meningkatkan cadangan bahan baku (buffer stock) hingga 1 bulan atau lebih untuk mengantisipasi dampak perang geopolitik dan gangguan distribusi global, termasuk penutupan Selat Hormuz. 

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan, langkah ini dilakukan guna menjaga kelangsungan produksi di tengah risiko keterlambatan logistik dan lonjakan biaya pengiriman.

“Ini terus terang saya sedang menunggu laporan dari beberapa pihak ya, termasuk dari anggota, kemudian dari shipping line dan lain sebagainya,” kata Adhi kepada Bisnis, Kamis (5/3/2026). 

Dia menjelaskan, konflik dan penutupan jalur strategis pelayaran berdampak langsung pada rantai pasok industri. Dampak utama terlihat pada ketersediaan bahan baku serta pengiriman produk jadi yang berpotensi mengalami keterlambatan karena perubahan rute pelayaran.

Menurut Adhi, kapal yang harus memutar jalur membuat waktu tempuh lebih lama dan biaya logistik meningkat. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, kenaikan ongkos pengiriman bahkan bisa mencapai 30%—40%.

Gangguan juga terjadi pada pengiriman melalui jalur udara akibat penutupan sejumlah bandara di kawasan konflik. Kondisi ini memengaruhi pengiriman barang-barang kecil seperti sampel dan suku cadang yang biasanya dikirim lewat kargo udara.

Baca Juga

  • Permintaan Naik, Industri Makanan dan Minuman Pede Tumbuh 6% di 2025
  • Industri Furnitur-Mamin Diminta Cari Alternatif Pasar Kala Timur Tengah Memanas
  • Produsen Mamin Dapat Alternatif Sumber Bahan Baku Usai Kesepakatan Dagang RI-AS

“Beberapa kargo udara yang terkait dengan pengiriman barang-barang kecil seperti sampel, kemudian spare part dan lain sebagainya yang lewat kargo udara itu juga pasti akan terhambat,” tuturnya.

Apabila kondisi ini berlangsung lama, ketersediaan sejumlah komoditas bisa terganggu karena industri membutuhkan kepastian waktu kedatangan bahan baku untuk menjaga ritme produksi.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, industri memperkuat strategi buffer stock. Jika sebelumnya cadangan bahan baku rata-rata hanya cukup untuk beberapa hari atau satu minggu, kini banyak perusahaan menaikkannya menjadi satu bulan atau lebih.

“Banyak perusahaan yang sudah mengubah policy buffer stock-nya sehingga ada yang meningkatkan sampai 1 bulan atau bahkan sebulan lebih agar terjaga,” jelasnya. 

Selain meningkatkan cadangan, pelaku industri juga melakukan diversifikasi sumber pasokan dari berbagai negara guna mengurangi ketergantungan pada satu kawasan. Gapmmi berharap pemerintah turut membenahi regulasi domestik agar biaya usaha bisa ditekan sehingga tekanan global tidak berujung pada kenaikan harga dan inflasi di dalam negeri.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IHSG Dibuka Cerah, Bursa Asia Kompak Naik Semua
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Diduga Rem Blong, Truk Kontainer Picu Kecelakaan Beruntun di Tol Cipularang
• 6 menit laluokezone.com
thumb
Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan Perkuat Koordinasi Pengelolaan Keuangan Daerah dengan Kemendagri di Jakarta
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Tak Masalah Sedekah di Saat Puasa dengan Berdonor Darah
• 19 jam lalukompas.id
thumb
Kapal Selam AS Tenggelamkan Kapal Perang Iran Iris Dena di Samudra Hindia
• 20 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.