JAKARTA, KOMPAS.TV — Potensi dukungan Inggris dan Spanyol terhadap Amerika Serikat dalam konflik militer melawan Iran diperkirakan tidak hanya memperbesar eskalasi perang, tetapi juga berdampak langsung pada perekonomian global.
Salah satu dampak paling terasa adalah kemungkinan lonjakan harga energi dunia.
Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurohman mengatakan, keterlibatan negara sekutu dalam operasi militer akan memperluas konflik dan meningkatkan ketidakpastian di pasar energi internasional.
“Yang pasti dampaknya tentu ke harga energi akan semakin tinggi. Terutama bagi negara-negara yang net importer energi akan terdampak cukup besar,” kata Rizal dalam diskusi di program Sapa Indonesia Malam KompasTV, Kamis (5/3/2026).
Baca Juga: Terbaru! Detik-Detik Iran Luncurkan Drone Targetkan Instalasi Radar Israel
Menurutnya, kenaikan harga energi berpotensi memicu tekanan ekonomi, terutama bagi negara yang sangat bergantung pada impor minyak dan gas.
Rizal menjelaskan, lonjakan harga energi tidak hanya berdampak pada sektor energi semata, tetapi juga berpotensi memicu inflasi global.
Hal ini karena komoditas energi menjadi komponen penting dalam biaya produksi dan distribusi berbagai sektor ekonomi.
Ketika harga minyak dan gas naik tajam, biaya transportasi, logistik, serta produksi industri juga ikut meningkat.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga barang dan jasa di berbagai negara.
Di sisi lain, negara-negara produsen energi justru dapat memperoleh keuntungan dari situasi tersebut.
Lonjakan harga minyak dan gas biasanya meningkatkan pendapatan negara yang memiliki cadangan energi besar.
Baca Juga: Saling Balas Rudal & Drone Iran vs AS-Israel: F-35 Ditumbangkan, Iron Dome Kelabakan!
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Deni-Muliya
Sumber : Kompas TV
- harga energi dunia naik
- perang AS Iran dampak ekonomi
- Inggris Spanyol bantu AS Iran
- INDEF Rizal Taufikurohman
- konflik Iran energi global
- inflasi akibat perang Timur Tengah





