Penulis: Hesti D. Ameliasari
TVRINews, Kalsel
Perayaan Cap Go Meh di Klenteng Soetji Nurani, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, diwarnai pembagian seribu porsi lontong Cap Go Meh kepada masyarakat. Tradisi kuliner ini bukan sekadar hidangan khas, tetapi juga menjadi simbol toleransi dan kebersamaan warga dari beragam latar belakang.
Di tengah kesibukan persiapan, tampak Maisarah mengenakan hijab dan membantu melayani para tamu. Perempuan keturunan Tionghoa yang telah memeluk Islam selama tiga puluh tahun itu sengaja datang untuk membantu kelancaran perayaan.
Bagi Maisarah, yang juga seorang warga Tionghoa Muslim mengatakan kehadirannya menjadi bentuk menjaga silaturahmi dengan kerabat di klenteng sekaligus menunjukkan sikap saling menghargai antarumat beragama.
“Papahkan dulu Konghucu, ibadahnya dulu di sini juga. Terus kita kan jadi muslim. Walaupun kita muslim, tapi kita boleh sjaa masuk ke sini tapi tidak megikuti ibadahnya. Popoknya kita saling toleransi aja. Saya disini bantu-bantu sebagai karyawan. Membantunya seperti cuci piring, melayani tamu,” jelas Maisarh, Kamis, 5 Maret 2026.
Dalam perayaan tahun ini, Maisarah bersama pengurus klenteng menyiapkan sedikitnya seribu porsi lontong Cap Go Meh untuk masyarakat dan jemaat. Hidangan tersebut memiliki makna simbolis. Bentuk lontong yang panjang melambangkan doa panjang umur, sedangkan kuah santan berwarna kuning keemasan menggambarkan harapan akan kemakmuran.
Wakil Ketua Pengurus Klenteng Soetji Nurani, Djohan Jawonoe, menjelaskan filosofi hidangan tersebut.
Selanjutnya, Djohan Jawonoe, Wakil Ketua Pengurus Klenteng Soetji Nurani, memaparkan “ Kami menghidangkan makanan lontong Cap Go Meh karena lontong itu filosofinya merupakan simbolis yang mewakili daripada orang Tionghoa yaitu panjang rezekinya, padat kekeluargaannya dan kuah kuningnya melambangkan keagungan dan kedewasaan. Jad, setiap makanan dan sesajian yang di meja altar selalu ada filosofinya,” ujarnya pada Selasa, 3 Maret 2026.
Seribu porsi lontong Cap Go Meh tersebut ludes dinikmati warga dari berbagai etnis yang datang ke klenteng. Tradisi berbagi hidangan ini sekaligus menutup rangkaian perayaan Imlek di Kota Banjarmasin.
Editor: Redaksi TVRINews





