REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Pendakwah terkenal, Mamah Dedeh, mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pandangannya mengenai kondisi geopolitik dan perang kepada para ulama dalam acara silaturahmi dan buka puasa bersama di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/3) malam.
Mamah Dedeh hadir sebagai salah satu tokoh yang diundang oleh Presiden Prabowo dalam acara yang juga dihadiri oleh pimpinan organisasi masyarakat dan pimpinan pondok pesantren. "Beliau menerangkan tentang luar negeri, kondisi luar negeri, tentang negara kita, tentang bagaimana sekarang peperangan yang terjadi, itu yang disampaikan," kata Mamah Dedeh saat memberikan keterangan di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis malam.
Di tengah paparan yang disampaikan oleh Prabowo, Mamah Dedeh pamit untuk meninggalkan acara lebih awal karena harus menjalani syuting di salah satu stasiun televisi swasta.
Pertemuan yang dimulai sejak pukul 20.00 WIB tersebut menggarisbawahi pandangan Prabowo mengenai kondisi perang hingga krisis yang dihadapi bangsa. "Jadi, Mamah pamit duluan. Kebetulan (beliau) masih bercerita tentang kondisi sekarang di luar negeri dan ada peperangan tadi. Abis ini kata dia menyampaikan tentang krisis bangsa," ujarnya.
Acara silaturahmi ini digelar di halaman tengah Istana Kepresidenan dan dihadiri oleh sejumlah kiai dan ulama dari berbagai organisasi Islam, yang didahului dengan acara berbuka puasa. Hadir pula dalam acara tersebut tokoh-tokoh seperti Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Miftachul Akhyar, Ketua Umum Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir, dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) K.H. Anwar Iskandar.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Sejumlah menteri dari Kabinet Merah Putih turut menghadiri acara tersebut, antara lain Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, dan Menteri Agama Nasaruddin Umar. Pertemuan tersebut berlangsung hingga sekitar pukul 23.00 WIB.