Bisnis.com, BALIKPAPAN — Provinsi Kalimantan Timur mencatatkan laju inflasi 0,60% (month to month/MtM), sementara inflasi tahunan berada di level 4,64% (year on year/YoY).
Kondisi ini menjadi sinyal positif bahwa momentum Ramadan dan Idulfitri 1447 H tidak serta-merta mendorong lonjakan harga secara signifikan, meski permintaan masyarakat mengalami peningkatan menjelang hari raya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur Jajang Hermawan menyatakan tekanan inflasi di Kaltim pada bulan lalu terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menyumbang andil 0,97%.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut berkontribusi dengan angka 2,66%, dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan yang mencapai Rp3,08 juta per gram pada Februari.
"Inflasi bulan Februari utamanya disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau seiring meningkatnya permintaan komoditas pangan strategis menjelang dan selama Ramadan," ujarnya, dikutip pada Jumat (6/3/2026).
Kendati demikian, kelompok transportasi justru mencatatkan inflasi yang lebih tinggi, berkisar 3%—4%, akibat penurunan harga bahan bakar minyak non-subsidi pada awal Februari 2026.
Baca Juga
- Inflasi Tahunan Februari 2026 Melonjak 4,76%, Dipicu Diskon Listrik hingga Harga Emas
- BPS: Normalisasi Harga Listrik dan Inflasi Emas penyebab Utama Inflasi Februari 2026
Jajang mengungkapkan untuk menjaga agar stabilitas harga tetap terkendali, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kaltim menerapkan strategi terintegrasi yang disebut 4K, yaitu Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif.
Dalam aspek keterjangkauan harga, TPID telah melaksanakan lebih dari 75 kegiatan gerakan pangan murah, operasi pasar, serta kegiatan serupa di berbagai kabupaten dan kota se-Kaltim sepanjang Januari hingga Februari.
Langkah tersebut di antaranya meliputi pelaksanaan High Level Meeting (HLM) TPID di beberapa daerah menjelang Ramadan dan Idulfitri, koordinasi mingguan yang membahas perkembangan harga, progres program operasi pasar daerah, hingga evaluasi kebijakan.
Tidak hanya fokus pada intervensi pasar, TPID juga memperkuat kapasitas kelembagaan melalui serangkaian kegiatan capacity building yang digelar pada 14 Januari—15 Januari dan 5 Februari—6 Februari 2026.
Kegiatan ini bertujuan mempertahankan kinerja pengendalian inflasi daerah melalui pembekalan, penyegaran pengetahuan, dan penyusunan laporan yang lebih terstruktur.
Adapun, dia menuturkan ke depan tantangan terbesar bagi TPID adalah menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan mobilitas ekonomi masyarakat, terutama di tengah peningkatan aktivitas ekonomi pascapandemi dan di tengah dinamika harga komoditas global yang masih fluktuatif.





