Pantau - Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan Kementerian Perdagangan membidik pasar Asia Tenggara dan Afrika sebagai tujuan ekspor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memanfaatkan peluang perdagangan di tengah gangguan rantai pasok global.
Ia mengatakan salah satu upaya pemerintah dalam memanfaatkan peluang dari gangguan rantai pasok global adalah dengan mendorong ekspor dari sektor UMKM.
Budi menyampaikan, "Nah salah satu contohnya yang kita lakukan memanfaatkan peluang gangguan rantai pasok global adalah terutama UMKM. UMKM itu sebenarnya lebih mudah untuk melakukan ekspor."
Menurutnya, dinamika geopolitik yang memengaruhi jalur logistik serta pasokan barang antarnegara dapat mengubah peta perdagangan dunia dan membuka peluang pasar baru bagi produk Indonesia.
Ia menilai pelaku UMKM memiliki fleksibilitas lebih tinggi dibandingkan perusahaan besar karena banyak dari mereka masih berada pada tahap awal ekspor.
Kondisi tersebut membuat pelaku UMKM lebih adaptif dalam menembus pasar baru dalam waktu yang relatif singkat.
UMKM Dinilai Lebih Fleksibel Menembus Pasar BaruBudi menjelaskan banyak pelaku UMKM belum terikat kontrak ekspor jangka panjang sehingga dapat dengan cepat menyesuaikan tujuan pasar ekspor mereka.
Ia mengatakan, "UMKM itu kan kebanyakan dia ekspor baru, sehingga jangka pendek tidak terikat kontrak ekspor jangka panjang. Mereka bisa lebih fleksibel melihat pasar-pasar mana yang bisa dijalani."
Kementerian Perdagangan memanfaatkan program business matching untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan calon pembeli dari berbagai negara.
Program tersebut juga bertujuan membuka akses pasar baru bagi produk UMKM Indonesia.
Melalui kegiatan business matching tersebut, transaksi ekspor UMKM mulai menunjukkan hasil yang positif.
Transaksi Ekspor UMKM Capai 4 Juta Dolar ASPada Januari 2026, nilai transaksi ekspor dari kegiatan business matching tercatat sekitar 4 juta dolar Amerika Serikat.
Budi mengatakan, "Januari kemarin juga sudah ada hasil ekspor UMKM, transaksinya sekitar 4 juta dolar AS."
Ia menjelaskan pemerintah melakukan pemetaan pasar agar produk UMKM dapat mengisi celah permintaan ketika pemasok dari negara lain mengalami hambatan akibat gangguan rantai pasok global.
Kawasan Asia Tenggara dan Afrika dipertimbangkan sebagai tujuan ekspor karena relatif tidak terdampak langsung oleh gangguan geopolitik tertentu, khususnya yang memengaruhi jalur logistik perdagangan.
Budi memberikan contoh wilayah tujuan ekspor dengan mengatakan, "Negara-negara Asia Tenggara, negara-negara Afrika."
Di sisi lain, pemerintah juga mengantisipasi potensi gangguan pada industri yang menggunakan bahan baku impor.
Pemerintah akan berkoordinasi dengan para eksportir untuk memetakan berbagai kendala teknis yang mungkin muncul di lapangan.
Sebelumnya, Kementerian Perdagangan mencatat program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor atau UMKM BISA Ekspor telah memfasilitasi 1.217 pelaku usaha sepanjang tahun 2025.
Nilai transaksi dari program tersebut mencapai 134,87 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp2,27 triliun selama tahun 2025.




