Rantai pasokan global dapat menghadapi gangguan signifikan jika penutupan Selat Hormuz yang dilakukan oleh Iran terus berlanjut. Analis mengungkapkan kekhawatirannya terkait produksi tanaman dan ketahanan pangan.
Pelayaran melalui Selat Hormuz sebagian besar terhenti sejak AS dan Israel meluncurkan serangan ke Iran pada akhir pekan lalu. Sekitar seperempat hingga sepertiga perdagangan bahan baku pupuk dunia melewati Selat Hormuz. Seperlima minyak mentah dan gas juga melalui selat strategis itu.
Dikutip dari The Guardian, Jumat (6/3), penutupan Selat Hormuz secara de facto mempengaruhi pengangkutan amonia dan nitrogen yang merupakan bahan utama dalam banyak produk pupuk sintetis.
Sekitar setengah produksi pangan global tergantung pada nitrogen sintetis dan hasil panen akan menurun tanpa pupuk. Kekurangan itu akan mendorong kenaikan harga bahan pokok rumah tangga seperti roti, pasta dan kentang, dan membuat pakan ternak lebih mahal.
Kawasan Teluk jadi lokasi bagi beberapa lokasi pabrik pupuk terbesar di dunia. Penutupan transportasi yang berkepanjangan dapat mengganggu produksi dan menaikkan biaya.
Setelah Rusia, Mesir dan Arab Saudi, Iran merupakan eksportir urea terbesar keempat di dunia, yang merupakan pupuk nitrogen yang paling banyak digunakan.
Kemampuan untuk memproduksi pupuk dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku dan meningkatnya biaya energi yang digunakan dalam produksi. Gas fosil menyumbang antara 60 persen dan 80 persen dari biaya produksi pupuk nitrogen.
Pasokan pupuk nitrogen global kemungkinan akan semakin terganggu akibat penutupan pembangkit listrik tenaga gas fosil di Teluk. Qatar menutup fasilitas produksi terbesarnya setelah serangan drone.
Harga pupuk sudah naik, membangkitkan kembali kenangan lonjakan harga gas dan pupuk pada awal 2022 setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina.
Harga urea Mesir yang jadi patokan telah melonjak hingga lebih dari 25 persen. Harganya mencapai USD 625 per metrik ton, naik dari USD 484-USD 490 pekan lalu.
Timur Tengah juga menyumbang sekitar 45 persen perdagangan sulfur global, bahan baku utama untuk produksi pupuk, serta berbagai logam dan bahan kimia industri.
Chris Lawson dari perusahaan konsultan CRU Group mengatakan meski ada berbagai kesamaan dengan situasi pada 2022 lalu, implikasi pasokan dan permintaan dari konflik di Timur Tengah berpotensi jauh lebih parah dan lebih luas.
"Khususnya jika [jalur perdagangan lewat] Selat Hormuz dibatasi hingga lebih dari dua minggu," katanya.
Kekhawatiran soal pasokan pupuk muncul di saat yang menantang bagi petani di Inggris, Eropa, dan Amerika Utara yang memulai menanam di musim semi. Meski sebagian besar produser memiliki cukup pupuk untuk tahun depan, mereka biasanya sudah berencana membeli untuk tahun berikutnya. Sementara, Inggris diperkirakan memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan pokok pupuk nitrogen.
Pengurangan ketersediaan pupuk berarti petani akan menggunakan lebih sedikit pupuk, biasanya berujung pada penurunan hasil panen, yang kemudian mendorong harga pangan lebih tinggi.



