Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) diproyeksikan bakal memasuki fase pemulihan pada tahun buku 2026. Optimisme ini muncul setelah emiten jalan tol pelat merah tersebut melewati periode tekanan laba akibat tingginya beban keuangan sepanjang 2025.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, JSMR membukukan pendapatan sebesar Rp29,89 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut terkoreksi sebesar 5,88% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode sebelumnya.
Penurunan pendapatan secara konsolidasi tersebut utamanya dipicu oleh pendapatan konstruksi yang terkontraksi menjadi Rp10,07 triliun. Namun demikian, pendapatan tol tetap tumbuh positif sebesar 5,41% (YoY) menjadi Rp18,15 triliun, disusul pendapatan usaha lainnya sebesar Rp1,65 triliun.
Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, menyampaikan bahwa di tengah fluktuasi pendapatan konstruksi, fundamental bisnis emiten jalan tol pelat merah ini diyakini tetap resilien. Hal itu tecermin dari pertumbuhan EBITDA yang mencapai Rp13,3 triliun dengan margin pada level 67,0%.
Menurut Rivan, stabilitas laba inti atau core profit yang mencapai Rp3,7 triliun tidak terlepas dari kemampuan perseroan dalam menurunkan beban keuangan secara konsolidasi sebesar 10,5% secara tahunan. Langkah tersebut merupakan dampak positif dari aksi korporasi yang dilakukan pada akhir 2024.
“Core profit dan kinerja perseroan sepanjang 2025 terjaga stabil, didukung pertumbuhan pendapatan usaha dan EBITDA, serta penurunan beban keuangan secara konsolidasi sebagai dampak positif dari aksi korporasi equity financing di PT Jasamarga Transjawa Tol [JTT] pada kuartal IV/2024,” ujar Rivan.
Baca Juga
- Pendapatan Terkoreksi, Jasa Marga (JSMR) Catat Core Profit Rp3,7 Triliun
- Jasa Marga (JSMR) Terbitkan Obligasi Rp2,06 Triliun untuk Bangun Jalan Tol
- Pendapatan Jasa Marga (JSMR) Turun 5,88% jadi Rp29,89 Triliun pada 2025
Efek positif dari langkah strategis tersebut juga terlihat pada perbaikan rasio solvabilitas. Interest Coverage Ratio (ICR) JSMR meningkat menjadi 3,7 kali, sementara rasio utang terhadap ekuitas (DER) terjaga sehat di level 1,2 kali.
Meski demikian, laba yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk JSMR rontok 19,27% menjadi Rp3,65 triliun dari sebelumnya sebesar Rp4,53 triliun.
Saat ini, JSMR masih mengukuhkan posisi market leader dengan mengelola 1.294 km jalan tol beroperasi, atau setara 42% dari total jalan tol di Indonesia. Volume transaksi pun tumbuh menjadi 1,3 miliar kendaraan sepanjang 2025.
Sementara itu, menghadapi periode mudik Lebaran 2026, perseroan tengah menyiapkan empat ruas tol baru untuk beroperasi fungsional guna mendukung mobilitas masyarakat. Inisiatif strategis tersebut diharapkan manajemen perseroan dapat memperkuat kinerja operasional perseroan di tahun berjalan.
Rivan pun optimistis kinerja 2026 akan lebih baik melalui optimalisasi anggaran dan penyesuaian tarif tol sesuai rencana. Fokus perseroan tetap pada peningkatan pendapatan dan EBITDA secara berkelanjutan.
Sementara itu, kinerja Jasa Marga diyakini bakal melaju lebih kencang pada 2026. Analis memandang fase tekanan laba sepanjang 2025 telah terlewati, membuka ruang bagi efisiensi dan pertumbuhan laba bersih yang lebih solid.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa penurunan laba bersih JSMR sebesar 19,27% pada tahun lalu lebih disebabkan oleh siklus ekspansi yang masif. Namun, kondisi tersebut diprediksi akan berbalik arah seiring dengan langkah efisiensi perseroan.
"Tahun 2026 berpotensi menjadi fase pemulihan. Profitabilitas akan terdorong melalui optimalisasi ruas tol yang telah beroperasi penuh serta adanya perbaikan margin dan efisiensi pada beban pokok," ujar Wafi kepada Bisnis.
Dari sisi operasional, Wafi turut memproyeksikan tren trafik kendaraan pada 2026 akan tumbuh stabil. Hal ini didorong oleh mobilitas masyarakat yang tetap tinggi serta aktivitas logistik nasional yang terus merangkak naik.
Selain volume kendaraan, penyesuaian tarif tol berkala pada sejumlah ruas utama akan menjadi katalis positif. Ini diyakini bakal mendongkrak pendapatan secara organik tanpa memerlukan tambahan belanja modal yang signifikan.
"Penyesuaian tarif akan langsung mendorong margin dan pendapatan. Ini merupakan katalis utama yang menjaga pertumbuhan laba tanpa membebani struktur modal perseroan lebih dalam," pungkas Wafi.
Menilik dari sisi valuasi, Wafi memandang harga saham JSMR saat ini masih berada dalam posisi undervalued. Menurutnya, pasar telah mengantisipasi risiko tingginya liabilitas yang selama ini membayangi neraca perseroan.
Di sisi lain, fundamental JSMR dinilai tetap solid yang tecermin dari arus kas operasional yang kuat. Strategi perseroan dalam melakukan asset recycling atau divestasi untuk langkah penyehatan neraca akan menjadi faktor kunci.
“Potensi asset recycling ini akan menjadi katalis kuat untuk re-rating harga saham di masa depan. Dengan posisi kas yang terjaga, JSMR menjadi pilihan menarik untuk akumulasi di tengah fase konsolidasi saat ini,” pungkas Wafi.
Di sisi lain, Analis Panin Sekuritas, Aqil Triyadi, memperkirakan pendapatan JSMR pada 2026 berpotensi tumbuh sekitar 8% (YoY). Angka ini lebih tinggi dari estimasi pertumbuhan tahun 2025 yang berada di kisaran 6% (YoY).
“Kami memperkirakan pada tahun 2026 akan terjadi peningkatan pendapatan seiring dengan penerapan tarif yang tertunda. Dampaknya akan lebih terimplikasi pada tahun depan, ditambah rencana penyesuaian tarif rutin dua tahunan di beberapa ruas lainnya,” ujar Aqil dalam risetnya.
Meskipun pendapatan menunjukkan tren penguatan, Aqil memberikan catatan terkait operasional ruas tol baru. Pengalihan anggaran infrastruktur pemerintah dinilai memicu keterlambatan jadwal pengoperasian sejumlah proyek strategis.
Beberapa ruas seperti Prambanan—Purwomartani, Yogyakarta—Bawen, hingga Tol Probolinggo—Besuki tercatat mengalami kemunduran jadwal operasi ke akhir 2026. Kondisi ini berpotensi menekan laba bersih akibat munculnya beban operasi dan amortisasi utang sebelum pendapatan maksimal tercapai.
Dari sisi struktur modal, JSMR juga tengah menghadapi konsekuensi dari pengendalian penuh atas PT Jasa Marga Jogja Solo (JMJ). Meski meningkatkan konsolidasi pendapatan, aksi ini berdampak pada kenaikan beban keuangan (financing cost) yang mulai menggerus laba bersih sejak kuartal III/2025.
Panin memproyeksikan laba bersih JSMR pada 2026 berpotensi tumbuh 12% (YoY), didorong efek basis rendah pada tahun sebelumnya. Namun, tantangan trafik yang cenderung landai pada ruas-ruas matang masih perlu diwaspadai.
Selain itu, perseroan juga menghadapi tantangan eksternal berupa persaingan dari moda transportasi umum seperti kereta cepat, MRT, dan LRT yang menjadi risiko sisi bawah bagi volume lalu lintas jalan tol dalam jangka panjang.
Dari meja konsensus Bloomberg Terminal, sebagian besar atau sebanyak 15 dari 18 analis memberikan rekomendasi beli saham JSMR dengan target harga rata-rata dalam 12 bulan ke depan mencapai Rp4.772,22 per saham.
Adapun di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), saham JSMR berada di level Rp3.340 per saham hingga penutupan perdagangan Kamis (5/3). Banderol itu mencerminkan pelemahan sebesar 2,05% sepanjang tahun berjalan.
***
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





