Indef: Gonjang-ganjing Tarif AS hingga Perang Israel-Iran Bisa Picu Harga Pangan Naik

bisnis.com
15 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance atau Indef menilai terdapat risiko gejolak harga pangan seiring adanya kesepakatan tarif resiprokal atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS), di tengah eskalasi perang AS-Israel vs Iran yang semakin memanas.

Ekonom Senior Indef Tauhid Ahmad mengatakan perjanjian dagang AS dan konflik internasional dapat memicu kenaikan harga energi yang pada akhirnya menekan inflasi dalam negeri.

“Kita, kan, yang harus dipikirkan dari situasi perang ini, kan, dampak ke ekonomi kita. Harga minyak naik, kemungkinan inflasi juga naik, subsidi bisa naik dan sebagainya,” kata Tauhid saat ditemui usai konferensi pers Rilis Hasil Penelitian US–Indonesia Agreement on Reciprocal Tariff di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Menurutnya, pemerintah perlu memprioritaskan langkah antisipatif terhadap dampak ekonomi tersebut, sembari tetap membuka peluang negosiasi perdagangan secara paralel. Terlebih, dia memperkirakan gejolak global juga berpotensi mendorong kenaikan harga pangan, terutama komoditas yang masih bergantung pada impor.

Tauhid menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar dolar serta meningkatnya biaya logistik akibat gangguan rantai pasok dan kenaikan risk premium turut memberikan tekanan pada harga komoditas pangan tersebut.

“Iya pasti [harga pangan naik], kan sebagian misalnya ketika katakanlah kedelai impor, bawang putih, sebagian gula, beras tertentu. Kan harga dolar ini kan melemah begitu ya, dolar melemah. Apalagi yang biaya logistik, ya rantai pasok terganggu, kemudian juga risk premium naik dan sebagainya,” tuturnya.

Baca Juga

  • Zulhas Pastikan Stok Pangan Aman Meski Ada Konflik Iran Vs AS, Harga Dijamin Tidak Naik
  • Gejolak AS-Israel vs Iran, Mentan Ungkap Kondisi 'Benteng' Pangan RI

Dia menilai gangguan rantai pasok dan kenaikan biaya logistik akan ditransmisikan langsung ke harga produk pangan, terutama pada kontrak impor baru. Meski demikian, Tauhid mengatakan besaran potensi kenaikan harga pangan masih perlu dihitung lebih lanjut.

Untuk itu, Indef menilai pemerintah perlu menegosiasikan kembali sejumlah ketentuan tarif yang dinilai merugikan Indonesia.

Tauhid mengatakan pemerintah dapat mendorong penurunan tarif yang saat ini berlaku secara global sebesar 15%. Menurutnya, apabila tarif tersebut dapat ditekan menjadi 10%, hal itu akan membuka ruang perdagangan yang lebih kompetitif bagi Indonesia.

“Apalagi kan tarif globalnya 15%, kalau bisa 10% itu bisa dibuka. Tetapi yang harus dibahas bersama adalah hambatan nontarif. Itu harus lebih detail dan sebagainya,” terangnya.

Dia mengingatkan agar pembahasan hambatan nontarif dilakukan secara hati-hati karena berpotensi memengaruhi sejumlah regulasi domestik, termasuk terkait ketenagakerjaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Majukan Sektor Pariwisata, Dirut KAI Dukung Revitalisasi Kota Tua Padang
• 15 jam lalubisnis.com
thumb
  Konflik AS-Israel dan Iran, PP HIMMAH Minta Pemerintah Kencangkan Hilirisasi Minyak Mentah
• 7 jam lalujpnn.com
thumb
Imbas Petasan dan Ujaran Kebencian di Laga Vs Persib, Persebaya Resmi Tutup Tribun Penonton 
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Truk Gandeng Tertabrak KA Blambangan Ekspres, Masinis dan Asisten Terluka
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
PLN dan Kementerian Perdagangan Kolaborasi Hadirkan SPKLU Ultra Fast Charging
• 2 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.