UKI sebut kolaborasi sektor kesehatan kunci pertumbuhan ekonomi

antaranews.com
18 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Universitas Kristen Indonesia (UKI) Cawang, Jakarta Timur, menilai kolaborasi lintas sektor antara bidang kesehatan dan ekonomi menjadi salah satu kunci penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Akademisi Fakultas Vokasi UKI Jisman Lubis menyebutkan sektor kesehatan dan ekonomi memiliki hubungan timbal balik yang saling memperkuat.

"Kondisi kesehatan masyarakat yang baik akan meningkatkan produktivitas, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi," kata Jisman di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, kolaborasi transdisipliner dan lintas sektoral sangat penting dalam mengurangi kesenjangan sosial sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Kolaborasi transdisipliner merupakan pendekatan kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu akademik dengan pengetahuan non-akademis (praktisi, masyarakat) untuk memecahkan masalah kompleks dunia nyata.

"Pendekatan preventif menjadi strategi ekonomi yang paling efisien. Oleh karena itu, literasi kesehatan dan literasi ekonomi harus berjalan secara berdampingan," ujar Jisman.

Selain itu, dia mengungkapkan saat ini, cakupan kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah mencapai lebih dari 90 persen populasi Indonesia.

Sementara itu, belanja kesehatan nasional tercatat sekitar tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik menunjukkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2025 mencapai angka 76, yang mencerminkan adanya kemajuan dalam pembangunan kualitas hidup masyarakat.

Baca juga: Sektor film punya peluang berkontribusi lebih besar pada ekonomi DKI

Melalui kolaborasi antara akademisi, pemangku kepentingan, dan pembuat kebijakan, Jisman menilai akses terhadap layanan kesehatan primer dapat semakin diperluas.

"Kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat meningkatkan akses layanan kesehatan primer dan menurunkan risiko kemiskinan akibat biaya kesehatan," ucap Jisman.

Dia juga menekankan peran mahasiswa sebagai calon profesional masa depan yang diharapkan mampu memfasilitasi kolaborasi lintas sektor serta menerapkan keterampilan praktis lintas disiplin dalam kehidupan nyata.

Menurut Jisman, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai peserta didik, tetapi juga agen perubahan (agent of change) yang dapat berkontribusi langsung dalam menjawab berbagai tantangan sosial dan kesehatan masyarakat.

"Mahasiswa diharapkan dapat langsung turun ke masyarakat, mengimplementasikan ilmu praktis (applied science) sehingga membantu masyarakat menghadapi permasalahan di era yang penuh ketidakpastian," tutur Jisman.

Lebih lanjut, dia menjelaskan tantangan saat ini ditandai dengan kondisi gabungan situasi (VUCA), yakni volatilitas (Volatility), ketidakpastian (Uncertainty), kompleksitas (Complexity), dan ambiguitas (Ambiguity).

Kondisi tersebut, kata dia, menggambarkan situasi dunia yang cepat berubah dan sulit diprediksi. Bahkan, kondisi global saat ini juga dinilai telah memasuki era Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible (BANI), yakni ketika hubungan sebab-akibat tidak lagi mudah dipahami.

"Dalam situasi seperti ini, mahasiswa Fakultas Vokasi UKI harus mampu menyeimbangkan antara kesehatan dan ekonomi agar dapat menghadapi dinamika perubahan yang semakin kompleks," tegas Jisman.

Baca juga: Anak muda butuh literasi keuangan

Sementara itu, Dekan Fakultas Vokasi UKI Maksimus menekankan pentingnya pendekatan transdisiplin dalam menghadapi berbagai persoalan kompleks, baik di tingkat lokal, regional, maupun global.

Pendekatan itu memungkinkan integrasi berbagai disiplin ilmu untuk menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap suatu masalah.

"Pendekatan transdisiplin memiliki konsep integrasi untuk meningkatkan pemahaman masalah. Kita juga perlu memanfaatkan teknologi untuk mempermudah kehidupan manusia," ungkap Maksimus.

Dia juga mengungkapkan pendekatan transdisiplin tidak hanya melibatkan berbagai disiplin ilmu, tetapi juga beragam aktor, termasuk akademisi, praktisi, serta pembuat kebijakan.

Tujuannya, yaitu menghasilkan pengetahuan yang kritis, informatif, dan aplikatif dalam menjawab persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat.

"Karena itu, diperlukan dialog untuk menghubungkan dan meningkatkan saling pengertian antardisiplin," terang Maksimus.

Seperti diketahui, Universitas Kristen Indonesia menggelar kuliah umum oleh sejumlah akademisi yang diselenggarakan oleh Badan Pekerja Senat Mahasiswa (BPSM) Fakultas Vokasi UKI pada Kamis (5/3).

Kegiatan yang digelar di Ruang Seminar UKI Jakarta itu bertajuk "Transdisciplinary and Transcollaborative Synergies Between Health and Economics".

Baca juga: Kepemimpinan kuat kepala daerah jadi kebangkitan ekonomi Jakarta

Baca juga: Ekonomi Jakarta tumbuh 5,21 persen di tahun pertama Pramono-Rano


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polisi Diduga Tembak Remaja di Makassar Hingga Tewas, Ibu Korban Minta Pelaku Ditindak Tegas
• 4 jam lalueranasional.com
thumb
Pemprov DKI Bakal Bangun Kandang Sapi di Ciangir, Bisa Tampung 1.000 Ekor
• 16 jam laludetik.com
thumb
Israel Bombardir Wilayah Lebanon Usai Peringatan Evakuasi
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
[FULL] Tok! Marcella Santoso Divonis 14 Tahun Penjara, Terbukti Suap Hakim Putusan Lepas CPO
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Doa Haru Reza Arap di 40 Harian Lula Lahfah, Minta Penggemar Ikut Kirim Al-Fatihah untuk Sang Kekasih
• 20 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.