Warga Bogor Tak Terganggu Pengemis Musiman: Mungkin Lagi Susah dan Butuh Uang

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

BOGOR, KOMPAS.com — Fenomena kemunculan pengemis musiman kembali terlihat di sejumlah ruas jalan di Kota Bogor selama Ramadhan.

Di beberapa titik jalan utama, orang-orang yang meminta uang duduk di trotoar, berdiri di pinggir jalan, hingga berjalan di antara kendaraan yang berhenti di lampu merah.

Pantauan Kompas.com pada Rabu (4/3/2026) sejumlah pengemis terlihat di beberapa titik seperti di Jalan Panduraya, Jalan Dadali hingga Jalan Pajajaran.

Pemandangan ini biasanya mulai terlihat menjelang sore hari, terutama di jalur yang ramai dilalui kendaraan.

Namun, ada juga beberapa dari mereka yang sudah bermunculan sejak menjelang siang hari.

Baca juga: Kala Budaya Sedekah Jadi Magnet Pengemis Musiman di Bogor

Beberapa dari mereka membawa karung atau gerobak, sementara lainnya hanya duduk menunggu belas kasih dari pengendara yang melintas.

Bagi sebagian warga sekitar, kehadiran para pengemis musiman tersebut bukan hal baru.

Fenomena ini disebut-sebut hampir selalu muncul setiap tahun ketika Ramadhan tiba.

Warga Tak Merasa Terganggu

Salah seorang warga, Rudi (41), mengaku tidak terlalu terganggu dengan keberadaan pengemis musiman selama mereka tidak memaksa atau mengganggu pengguna jalan.

Menurut dia, sebagian warga justru merasa iba ketika melihat orang-orang yang meminta-minta di jalan.

“Enggak sih. Kalau kita kan berpikirnya bagaimana ya, dia juga mungkin lagi susah yang penting kan enggak memaksa, enggak terganggu. Kasihan juga,” kata Rudi saat ditemui di kawasan Panduraya, Rabu.

Baca juga: Mengapa Banyak Pengemis Musiman di Bogor yang Baru Muncul Saat Ramadhan?

Ia mengatakan, banyak orang yang memilih untuk memaklumi keberadaan para pengemis tersebut karena tidak mengetahui kondisi ekonomi yang mereka hadapi.

“Kan kita namanya, sama-sama manusia kan enggak tahu dia orang sini atau enggak, Kan kalau misalkan kebetulan dia memang lagi membutuhkan,” ujarnya.

Asal Tidak Meresahkan

Meski demikian, Rudi menilai keberadaan pengemis di jalan tetap perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.

Menurut dia, selama para pengemis tidak mengganggu pengguna jalan atau membuat situasi menjadi tidak nyaman, warga cenderung tidak mempermasalahkan keberadaan mereka.

“Belum sih, kalau ini yang penting kan enggak mengganggu, asal enggak meresahkan. Kita sebagai warga juga kalau benar dia orang enggak punya, ikut tenanglah membantu juga,” kata dia.

Baca juga: Ramadhan di Jalanan Bogor, Potret Pengemis Musiman Menunggu Belas Kasih Pengendara

Ia menambahkan, banyak warga yang tetap memilih membantu para pengemis tersebut, terutama selama bulan Ramadhan ketika semangat berbagi kepada sesama meningkat.

Bagi sebagian orang, memberikan sedekah kepada mereka dianggap sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Fenomena yang Terjadi Setiap Tahun

Rudi menyebut pola kemunculan pengemis musiman tersebut hampir selalu terjadi setiap tahun ketika Ramadhan tiba.

Titik-titik yang ramai biasanya berada di jalur yang menghubungkan kawasan Jambu Dua hingga Pakuan.

“Iya, setiap tahun. Pokoknya jalur ini banyak dari jalur Jambu Dua sana ya, sepanjang jalur,” ujarnya.

Dalam beberapa kesempatan, Rudi mengaku pernah diminta oleh orang yang melintas untuk membantu menyalurkan makanan kepada para pemulung atau pengemis yang berada di sekitar jalan.

Baca juga: Bayi Ditinggalkan Kakak di Gerobak, Rano Karno: Kalau Lapor Kelurahan Pasti Ditangani

Menurut Rudi, banyak pengendara yang sengaja berhenti untuk memberikan sedekah, mulai dari uang hingga makanan.

“Kadang yang suka lewat mobil suka menanyakan kalau yang banyak pemulung di mana, dia mencari. Kadang-kadang kita juga diminta, tolong titipkan nasi bungkus kalau ada yang lewat atau apa, tolong diberikan,” ujarnya.

Banyak Muncul Menjelang Sore

Rudi menuturkan, para pengemis biasanya mulai terlihat sore hari menjelang waktu berbuka puasa.

Namun, tidak jarang beberapa di antaranya sudah terlihat sejak pagi hari meski jumlahnya tidak terlalu banyak.

Ia mengatakan jam-jam tertentu jumlah mereka bisa semakin bertambah hingga malam hari, terutama di lokasi yang ramai dilalui kendaraan.

“Kalau ini sih biasanya sore. Kadang kalau jam-jam pagi ini ada satu-dua gitu, tapi banyak juga sih kadang sampai malam,” ujarnya.

Menurut dia, sebagian dari orang yang terlihat di jalan tidak semuanya benar-benar pengemis.

Baca juga: Bahar bin Smith Tawarkan Rp 272 Juta untuk Damai, tapi Korban Minta Rp 2 Miliar

Ada juga yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung, namun memanfaatkan momentum Ramadhan untuk mencari tambahan penghasilan.

“Memang ada juga yang kerjanya pemulung ada, Ada juga yang tadinya enggak memulung jadi memulung ada. Momenan gitu,” kata dia.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
Sedekah dari Pengendara Kerap Jadi Rebutan

Sementara itu Denis (35) salah seorang warga lainnya, mengatakan bahwa dirinya kerap melihat orang-orang yang sengaja datang untuk membagikan makanan kepada pengemis saat bulan Ramadhan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sidang Praperadilan Yaqut, Pakar Hukum Kesulitan Maknai Kedudukan Pimpinan KPK dalam UU KPK Baru
• 22 jam lalusuara.com
thumb
Khofifah Lakukan Revitalisasi 51 Sekolah di Gresik dan Lamongan
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Penerimaan Pajak Naik Tajam di Awal Tahun, DJP Yakin Target 2026 Tercapai
• 7 jam lalueranasional.com
thumb
BTS Tiba-Tiba Rilis Tracklist Album ARIRANG, ARMY Heboh
• 23 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Kiper Semen Padang Minta Suporter Lebih Dewasa: Kami Butuh Dukungan, Bukan Cacian!
• 15 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.