Bisnis.com, JAKARTA - Negara yang terletak di Teluk Persia meningkatkan kewaspadaannya menyusul serangan drone dan rudal Iran yang kian masif sebagai bentuk balasan atas operasi militer Amerika Serikat dan Israel.
Dilaporkan Al Jazeera, Jumat (6/3/2026), Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat berupaya melakukan serangkaian serangan Iran pada Kamis malam dengan mengaktifkan penghalau rudal dan drone agar tidak sampai ke lokasi yang dituju.
Kementerian Qatar lebih dulu melaporkan rangkaian serangan, termasuk 14 rudal balistik dan empat drone yang berasal dari Iran. Kendati demikian, serangan perdana Iran adalah pangkalan militer AS di Bahrain.
Sejak saat itu, negara di wilayah Teluk bersiaga menghadapi serangan udara Iran yang mengakibatkan sekitar 1.230 orang terbunuh. Selain pangkalan militer, Iran menargetkan infrastruktur energi dan telah mengirimkan enam anggota militer AS serta 11 orang ke Israel dan tiga orang ke Uni Emirat Arab.
Akibatnya, terjadi penghamburan harga minyak dan gas karena banyak kapal tanker di dekat Selat Hormuz terjebak di tengah pertempuran tersebut. Selat Hormuz memiliki peran penting terhadap perdagangan migas karena sekitar 20% minyak mentah dunia melewati selat tersebut.
Jurnalis Al Jazeera, Laura Khan, melaporkan dari Qatar bahwa pada malam hari langit diterangi oleh cahaya drone dan rudal, serta sistem perlindungan udara. Dia menyebut 131 drone dan 6 rudal balistik dikirim ke Uni Emirat Arab pada hari itu.
Baca Juga
- Perang Iran vs AS-Israel: Harga Minyak Menuju Kenaikan Mingguan Terbesar sejak 2022
- Ratusan Kamera Pengawas di Timur Tengah jadi Target Peretas Iran
- Jimly Minta Prabowo Tangguhkan Keanggotaan RI di Board of Peace di Tengah Konflik Iran-AS
“Uni Emirat Arab benar-benar telah diuji sistem perlindungan udaranya oleh rentetan serangan terus-menerus – terutama dari pesawat nirawak, tetapi juga rudal balistik dan rudal jelajah, yang terus menghantam negara itu dalam enam hari terakhir,” katanya, dikutip pada Jumat (6/3/2026).
Para pemimpin negara di Teluk Arab mengecam serangan Iran yang dinilai sebagai pelanggaran hukum internasional. Namun, Iran menentang pernyataan bahwa serangan yang dilakukan adalah bentuk membela pelestarian negara.
Meski begitu, baik AS maupun Israel sepakat untuk terus menggempur Iran beberapa hari ke depan. Keduanya telah menangguhkan kerja sama yang sama di kawasan tersebut yang telah diserang dalam beberapa hari terakhir.





