EtIndonesia. Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memasuki hari keempat pada Selasa, 3 Maret 2026, dengan intensitas serangan yang semakin meningkat. Serangkaian serangan udara presisi terus menghantam berbagai target strategis Iran, mulai dari fasilitas militer, instalasi rudal, hingga pusat komando kepemimpinan negara tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa setelah serangan besar-besaran yang melumpuhkan sebagian besar kemampuan militer Iran, pemerintah Teheran kini berusaha membuka jalur dialog dengan Washington. Namun menurut Trump, upaya tersebut datang terlalu terlambat.
Dalam sebuah unggahan di media sosial pada 3 Maret 2026, Trump menulis dengan nada tegas:
“Sistem pertahanan udara mereka sudah hilang. Angkatan udara mereka sudah hilang. Angkatan laut mereka juga sudah hilang. Kepemimpinan mereka pun sudah tidak ada. Sekarang mereka ingin berbicara. Saya katakan: sudah terlambat.”
Trump menambahkan bahwa sebenarnya ia sempat membuka kemungkinan dialog pada akhir pekan 28 Februari–1 Maret 2026, saat operasi militer terhadap Iran baru dimulai. Namun menurutnya, pemerintah Iran tidak memanfaatkan kesempatan tersebut.
“Jika mereka ingin berbicara, seharusnya itu dilakukan sebelum semuanya hancur,” ujar Trump dalam pernyataan lanjutan kepada media.
"100 Hours" of Operation Epic Fury. pic.twitter.com/XW5ZnRAJJL
— U.S. Central Command (@CENTCOM) March 4, 2026Tokoh Kuat Iran Diam-Diam Menghubungi Washington
Di tengah situasi militer yang semakin buruk bagi Iran, laporan diplomatik menunjukkan adanya upaya komunikasi rahasia antara Teheran dan Washington.
Menurut laporan Wall Street Journal pada 2 Maret 2026, tokoh paling berpengaruh di Iran setelah kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei—yakni Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran—secara diam-diam mengirimkan pesan kepada pemerintah Amerika Serikat melalui Oman, yang selama ini dikenal sebagai mediator diplomatik di kawasan Teluk.
Pesan tersebut disebut bertujuan untuk membuka kembali negosiasi terkait program nuklir Iran dan meredakan konflik militer yang sedang berlangsung.
Sejumlah pejabat Arab dan Amerika yang mengetahui komunikasi tersebut juga mengonfirmasi adanya kontak tidak langsung antara kedua pihak.
Trump sendiri mengatakan bahwa ia bersedia berbicara dengan kepemimpinan baru Iran, dan menyebut bahwa pihak Teheran telah menunjukkan minat untuk berunding.
Namun tidak lama setelah laporan tersebut muncul, Ali Larijani langsung memberikan bantahan melalui platform X (Twitter).
Ia menegaskan bahwa:
- Iran tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat selama serangan militer masih berlangsung
- Iran akan terus melakukan perlawanan
- Pemerintah AS, khususnya Trump, dituduh telah menciptakan kekacauan besar di kawasan Timur Tengah
Pernyataan yang saling bertolak belakang ini menunjukkan bahwa situasi politik internal Iran kemungkinan sedang berada dalam kondisi sangat tidak stabil.
Kerusakan Besar Militer Iran
Sementara itu, laporan militer menunjukkan bahwa Iran mengalami kerugian besar sejak konflik dimulai.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa dalam 48 jam pertama operasi militer, pasukan koalisi berhasil melancarkan serangan berskala besar terhadap berbagai fasilitas militer Iran.
Menurut data yang dirilis oleh militer AS:
- 11 kapal perang Iran ditenggelamkan di wilayah Teluk Oman
- 1.250 target militer Iran dihancurkan melalui serangan udara presisi
- 49 pejabat tinggi militer dan keamanan Iran tewas dalam operasi yang disebut sebagai decapitation strike atau “serangan pemenggalan kepemimpinan”
Serangan tidak hanya menyasar instalasi militer, tetapi juga pusat-pusat pengambilan keputusan strategis di Iran.
Pada 3 Maret 2026 pagi, militer Israel dilaporkan melakukan serangan udara terhadap gedung Majelis Ahli Iran di Teheran.
Gedung tersebut sedang digunakan untuk pertemuan penting yang bertujuan memilih pengganti Ayatollah Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Saat serangan terjadi, sekitar 88 anggota elite politik dan ulama Iran dilaporkan berada di dalam gedung tersebut.
Serangan itu menewaskan sejumlah tokoh penting Iran dan semakin memperburuk krisis kepemimpinan yang sedang terjadi.
Menteri Pertahanan Iran Juga Tewas
Serangan udara yang terus berlangsung juga menyebabkan hilangnya beberapa pejabat penting di struktur militer Iran.
Menurut laporan militer dan media regional:
- Menteri Pertahanan Iran tewas dalam serangan udara pertama pada 28 Februari 2026 ketika operasi militer dimulai.
- Pada 2 Maret 2026, Iran menunjuk seorang jenderal bernama Reza sebagai menteri pertahanan yang baru.
- Namun pada 3 Maret 2026, media Israel melaporkan bahwa menteri pertahanan yang baru tersebut juga tewas dalam serangan udara di Teheran.
Rangkaian kejadian ini membuat sistem komando militer Iran hampir tidak dapat berfungsi.
Dalam waktu hanya beberapa hari:
- Pemimpin tertinggi negara tewas
- Menteri pertahanan tewas
- Pengganti yang baru ditunjuk juga terbunuh
Kondisi tersebut membuat struktur komando militer Iran praktis mengalami kelumpuhan total.
Trump: Iran Hampir Kehabisan Rudal
Di sisi lain, laporan dari Politico pada 3 Maret 2026 mengungkapkan bahwa Presiden Trump juga menyoroti kondisi persenjataan Iran yang semakin melemah.
Menurut Trump, kemampuan Iran untuk meluncurkan serangan balasan kini menurun drastis.
Ia mengatakan:
- Persediaan rudal balistik Iran hampir habis
- Banyak peluncur rudal telah dihancurkan
Pejabat militer Israel bahkan memperkirakan bahwa dalam waktu 24 jam ke depan, kemampuan Iran untuk melakukan peluncuran rudal jarak jauh bisa runtuh secara signifikan.
Trump juga menyebut bahwa di dalam Iran kini muncul persaingan untuk memperebutkan posisi kepemimpinan baru.
Dengan nada bercanda, Trump mengatakan:
“Gelombang pertama sudah hilang. Gelombang kedua juga mungkin hilang. Kalau begini terus, nanti kita bahkan tidak mengenal siapa pun lagi.”
Pernyataan ini merujuk pada banyaknya tokoh penting Iran yang tewas dalam serangan udara beberapa hari terakhir.
Iran Terancam Konflik Internal
Kematian Ayatollah Ali Khamenei telah menciptakan kekosongan kekuasaan yang serius di Iran.
Saat ini pemerintahan Iran dilaporkan dijalankan oleh sebuah komite darurat yang terdiri dari tiga tokoh utama.
Di dalam negeri Iran sendiri, terdapat tiga kekuatan utama yang saling bersaing:
1. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)
Organisasi militer paling kuat di Iran ini tidak hanya menguasai kekuatan militer, tetapi juga memiliki pengaruh besar dalam sektor ekonomi dan jaringan milisi regional di Timur Tengah.
IRGC dikenal memiliki sikap keras dan mendukung kelanjutan perang melawan Amerika Serikat dan Israel.
2. Presiden Masoud Pezeshkian
Presiden Iran yang dikenal sebagai tokoh reformis moderat memiliki legitimasi politik melalui pemilihan umum, namun kekuasaannya relatif terbatas dibandingkan Garda Revolusi.
Pezeshkian dilaporkan lebih condong pada jalur negosiasi diplomatik untuk mengakhiri konflik.
3. Dewan Ulama Konservatif
Kelompok ulama konservatif ini memiliki peran penting dalam sistem politik Iran, termasuk mengontrol sistem hukum dan menentukan siapa saja yang boleh mencalonkan diri dalam jabatan politik.
Selama puluhan tahun terakhir, ketiga kekuatan tersebut dipersatukan oleh kepemimpinan Ayatollah Khamenei.
Namun setelah kematiannya, keseimbangan kekuasaan itu mulai runtuh.
Putra Khamenei Diduga Naik Takhta
Di tengah kekacauan politik tersebut, muncul berbagai laporan mengenai siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi Iran berikutnya.
Media Iran melaporkan bahwa Mojtaba Khamenei, putra dari Ayatollah Khamenei, masih hidup dan disebut sebagai salah satu kandidat utama.
Beberapa laporan bahkan menyebut bahwa Majelis Ahli Iran telah memilih Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru, diduga di bawah tekanan dari Garda Revolusi.
Namun sumber lain menyebut bahwa Ali Larijani justru telah dipilih sebagai penerus Khamenei.
Perbedaan informasi ini semakin memperkuat dugaan bahwa perebutan kekuasaan sedang berlangsung di dalam elit politik Iran, yang berpotensi memicu konflik internal di tengah tekanan militer dari luar. (***)





