EtIndonesia. Situasi di Iran terus memanas setelah rangkaian serangan militer besar-besaran yang dilakukan oleh koalisi Amerika Serikat dan Israel. Operasi militer yang dimulai pada 28 Februari 2026 kini memasuki fase yang semakin intens, dengan sasaran utama tidak hanya fasilitas militer Iran, tetapi juga jajaran pimpinan strategis negara tersebut.
Ketegangan semakin meningkat setelah laporan mengenai jatuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang memicu reaksi luas di dunia internasional.
Pemerintah Tiongkok menunjukkan sikap simpati dengan menyebut Khamenei sebagai korban pembunuhan dan bahkan menurunkan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung. Namun, di balik sikap tersebut, sejumlah analis menilai Beijing justru sangat khawatir terhadap pernyataan yang disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yakni dua kata yang dianggap mengguncang geopolitik dunia: “pergantian rezim.”
Beberapa pengamat bahkan berspekulasi bahwa perubahan politik global sedang bergerak sangat cepat. Mereka menyebut rangkaian peristiwa besar yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir:
- Januari 2026: Tekanan politik internasional meningkat terhadap pemerintahan Nicolás Maduro di Venezuela.
- Februari 2026: kepemimpinan tertinggi Iran diguncang oleh operasi militer besar.
- Maret 2026: muncul spekulasi bahwa tekanan geopolitik berikutnya bisa saja mengarah pada Beijing.
Meskipun spekulasi tersebut masih jauh dari kepastian, banyak pihak menilai bahwa dinamika global saat ini sedang memasuki fase yang sangat tidak stabil.
Elit Militer Iran Terus Menjadi Sasaran
Perkembangan terbaru di medan konflik terjadi pada 3 Maret 2026, ketika sejumlah laporan media menyebutkan bahwa Menteri Pertahanan sementara Iran, Majid Ebnelreza, tewas dalam sebuah serangan di Teheran.
Menurut pernyataan dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF), operasi tersebut merupakan bagian dari strategi untuk melumpuhkan struktur komando militer Iran. Sejak dimulainya ofensif militer pada akhir Februari, berbagai pejabat tinggi militer Iran dilaporkan menjadi target serangan presisi.
Akibatnya, struktur komando militer Iran disebut mengalami gangguan serius. Beberapa laporan bahkan menyebutkan bahwa pejabat baru yang ditunjuk untuk menggantikan pimpinan yang gugur sering kali hanya bertahan beberapa jam hingga setengah hari sebelum kembali menjadi sasaran operasi berikutnya.
Kondisi ini menimbulkan kekacauan dalam sistem pengambilan keputusan militer Iran dan memperlemah koordinasi pertahanan negara tersebut.
Dugaan Teknologi Rahasia Israel Hancurkan Bunker Nuklir
Salah satu peristiwa paling kontroversial terjadi pada pagi hari 3 Maret 2026, ketika sejumlah laporan menyebut Israel menggunakan teknologi militer yang belum pernah diungkap sebelumnya.
Serangan tersebut dikaitkan dengan munculnya gempa berkekuatan sekitar 4,3 magnitudo di wilayah Gerash, Provinsi Fars, Iran, dengan kedalaman sekitar 10 kilometer.
Beberapa analis menduga getaran tersebut bukan gempa alami, melainkan efek dari teknologi militer eksperimental yang dirancang untuk menghancurkan fasilitas bawah tanah.
Wilayah yang terdampak diketahui memiliki sejumlah bunker militer bawah tanah, termasuk fasilitas penyimpanan rudal strategis dan lokasi penelitian nuklir rahasia.
Menurut laporan intelijen yang beredar di media Barat, di dalam kompleks bawah tanah tersebut terdapat tim ilmuwan nuklir Iran yang sedang mengembangkan teknologi senjata nuklir. Serangan tersebut disebut menyebabkan kerusakan besar pada instalasi bawah tanah tersebut.
Namun hingga kini belum ada konfirmasi independen mengenai metode yang digunakan dalam serangan tersebut.
Iran Luncurkan 200 Rudal Hipersonik
Sebagai respons terhadap serangan tersebut, Iran pada 3 Maret 2026 dilaporkan meluncurkan sekitar 200 rudal hipersonik ke arah sejumlah negara Arab di kawasan Teluk.
Rudal-rudal tersebut disebut merupakan sistem persenjataan yang dikembangkan dengan teknologi dari Tiongkok.
Meski jumlahnya sangat besar, laporan militer menunjukkan bahwa sekitar 97% rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara gabungan negara-negara kawasan serta dukungan sistem pertahanan Amerika Serikat.
Di sisi lain, Iran juga dilaporkan kecewa terhadap performa sistem pertahanan udara HQ-9B buatan Tiongkok yang digunakan untuk melindungi wilayahnya.
Menurut laporan lapangan, sistem tersebut telah dihancurkan oleh serangan udara Amerika dan Israel dalam satu jam pertama perang.
Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat bahkan menyatakan bahwa dalam 40 detik pertama operasi militer, sebanyak 40 pejabat tinggi Iran berhasil dieliminasi dalam serangan presisi yang sangat terkoordinasi.
Tujuh Negara Arab Bersiap Terlibat
Serangan rudal Iran tidak hanya meningkatkan ketegangan regional, tetapi juga mendorong sejumlah negara Teluk untuk mempertimbangkan keterlibatan langsung dalam konflik.
Negara-negara yang menjadi sasaran serangan Iran antara lain:
- Qatar
- Uni Emirat Arab
- Yordania
- Kuwait
- Bahrain
- Arab Saudi
- Oman
Meski sebagian besar rudal berhasil dicegat, negara-negara tersebut kini meningkatkan koordinasi militer dengan Amerika Serikat.
Beberapa negara bahkan telah meminta dukungan intelijen Washington untuk membantu menentukan target militer di Iran jika konflik terus meningkat.
Senator Amerika Serikat Tom Cotton menyatakan bahwa kerja sama ini menunjukkan soliditas aliansi strategis di kawasan.
Menurutnya, perkembangan tersebut mencerminkan apa yang ia sebut sebagai “aliansi sejati dalam menghadapi ancaman bersama.”
Teknologi Militer Tiongkok Dipertanyakan
Perang Iran juga memunculkan pertanyaan serius mengenai efektivitas sejumlah sistem persenjataan buatan Tiongkok.
Sebelum konflik pecah, media resmi Tiongkok melaporkan bahwa Iran telah mengerahkan berbagai sistem radar dan pertahanan udara modern, termasuk:
- radar anti-stealth YLC-8B
- sistem pertahanan udara HQ-9B
- berbagai sistem radar jarak jauh lainnya
Sistem tersebut bahkan telah diaktifkan lebih dari 20 hari sebelum perang dimulai.
Namun dalam pertempuran nyata, banyak analis menilai sistem tersebut gagal memberikan perlindungan efektif terhadap serangan presisi Amerika Serikat dan Israel.
Situasi ini mulai memunculkan ketegangan dalam hubungan strategis antara Iran dan Tiongkok, yang selama ini dikenal sebagai mitra dekat dalam bidang militer dan energi.
Ancaman Penutupan Selat Hormuz Mengguncang Pasar Energi
Ketegangan meningkat lebih jauh pada 2 Maret 2026, ketika Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi penghubung utama ekspor minyak dari Teluk Persia ke pasar dunia.
Iran juga mengancam akan menyerang setiap kapal yang melintas di kawasan tersebut.
Menurut laporan Bloomberg, ancaman ini segera memicu kekhawatiran serius di Beijing, karena Tiongkok sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.
Pemerintah Tiongkok dilaporkan segera menekan Iran agar tidak mengganggu jalur pelayaran internasional.
Beijing juga meminta Iran untuk:
- menjaga jalur pelayaran tetap terbuka
- tidak menyerang kapal tanker minyak
- tidak mengganggu ekspor LNG dari Qatar
Pemerintah Tiongkok menegaskan bahwa stabilitas jalur energi merupakan kepentingan strategis nasional yang tidak dapat ditawar.
Serangan di Qom Tewaskan Dewan Ulama Iran
Peristiwa dramatis lainnya terjadi pada 3 Maret 2026 di kota suci Qom, Iran.
Media Israel melaporkan bahwa bangunan Dewan Ahli Iran, lembaga ulama yang bertanggung jawab memilih pemimpin tertinggi negara, menjadi sasaran serangan udara.
Gedung tersebut saat itu sedang digunakan untuk pertemuan 88 ulama anggota dewan yang tengah membahas proses suksesi kepemimpinan Iran.
Menurut laporan tersebut, seluruh peserta pertemuan dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.
Jika informasi ini terbukti benar, maka peristiwa tersebut akan menjadi pukulan besar bagi struktur politik dan keagamaan Iran.
Konflik Iran Dinilai Bisa Memicu Konfrontasi Global
Sejumlah analis menilai bahwa konflik Iran saat ini berpotensi berkembang menjadi bagian dari persaingan kekuatan besar dunia.
Pakar Tiongkok dari Hudson Institute, Zineb Riboua, menyatakan bahwa konflik Iran tidak bisa dipandang hanya sebagai konflik regional.
Menurutnya: “Masalah Iran tidak pernah hanya tentang Iran. Trump memahami bahwa jalan menuju Pasifik harus melewati Teheran.”
Pada 3 Maret 2026, Presiden Trump juga membahas isu Iran saat bertemu dengan Kanselir Jerman di Gedung Putih.
Dalam pernyataannya, Trump mengatakan:
“Hal terburuk bagi Iran adalah jika orang yang menggantikan kepemimpinan sekarang sama buruknya.
Orang-orang yang hidup di Iran mungkin lebih cocok memimpin negara mereka.”
Beberapa media Jerman, termasuk Sachsen Zeitung, menilai bahwa operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran bukan sekadar konflik regional, melainkan bagian dari persaingan geopolitik global.
Sementara Frankfurter Allgemeine Zeitung menulis bahwa kedekatan suatu negara dengan Beijing tidak selalu menjamin keamanan strategisnya.
Masa Depan Iran Masih Penuh Ketidakpastian
Banyak pengamat percaya bahwa jika Iran mengalami pergantian rezim dan memiliki pemerintahan yang lebih dekat dengan Barat, maka kemungkinan besar berbagai sanksi internasional akan dicabut.
Hal tersebut berpotensi membuka peluang bagi kebangkitan ekonomi Iran serta stabilitas kawasan Timur Tengah.
Namun hingga saat ini, masa depan politik Iran masih sangat tidak pasti.
Di tengah ketidakpastian tersebut, satu pertanyaan mulai muncul di berbagai kalangan pengamat geopolitik:
Jika Iran mengalami perubahan besar, apakah dinamika geopolitik berikutnya akan mengarah pada Tiongkok? (***)





