Pondok pesantren kerap dipandang tertinggal dalam perkembangan teknologi, termasuk soal akal imitasi atau AI. Namun, melalui pelatihan, adopsi AI perlahan mengetuk gerbang ponpes. Meski menghadapi tantangan, guru dan santri kini mulai memanfaatkan AI.
”Harus diakui memang banyak gap (dalam adopsi teknologi di pesantren). Itu fakta,” ucap Sekretaris Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) Ulun Nuha dalam diskusi terkait AI di sela-sela temu media Microsoft di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
RMI merupakan asosiasi pondok pesantren di bawah naungan NU. Dari sekitar 42.000 ponpes yang tercatat di Kementerian Agama, menurut Ulun, lebih dari 28.000 berafiliasi dengan NU. Artinya, lebih dari 66 persen lembaga pendidikan Islam di Indonesia adalah pesantren NU.
Ulun menuturkan, masih banyak ponpes yang tertinggal dalam hal teknologi. Kondisi ini tidak terlepas dari rumusan fikih, dar’ul mafasid muqaddamun ’ala jalbil mashalih. Artinya, mencegah keburukan harus didahulukan dibandingkan dengan mengambil kemaslahatannya.
”Jadi, kalau ada suatu hukum, ulama akan mengkaji terlebih dulu. Apakah ini mendatangkan mudarat atau manfaat? Kalau ada dua-duanya, cegah mudaratnya dulu. Pandangan ini sudah berabad-abad lalu hingga tertanam di mindset (pola pikir) guru dan santri,” ungkapnya.
Begitu pula di ponpes, ketika ada sesuatu yang baru, pesantren cenderung khawatir hal itu membawa keburukan. ”Demikian juga dengan teknologi AI. Pesantren cenderung berpikir, ’entar dulu, jangan-jangan (AI) ada mudaratnya’. Ini jadi PR (pekerjaan rumah),” ujar Ulun.
Apalagi, katanya, sifat manusia itu an nasu a’daau maa jahilu. ”Artinya, manusia cenderung memusuhi apa yang belum diketahui. Jadi, sudah berpikir negatif. Dulu, di Arab, radio pernah dianggap haram karena ada suara, tapi tidak ada orangnya. Dikira jin atau setan,” ungkapnya.
Oleh karena itu, menurut Ulun, ada dua pendekatan dalam mengenalkan sesuatu yang baru, seperti AI, di pesantren. Pertama, pendekatan ideologis dengan mengajak bicara kiai atau pengasuh ponpes mengenai topik tersebut. Pandangan bahkan perdebatan di antara kiai juga harus didengarkan.
Selanjutnya, pendekatan teknis, yang lebih menekankan pada manfaat praktis dari pemanfaatan teknologi AI. Misalnya, dengan AI, proses belajar mengajar di pesantren bisa lebih mudah dan terukur. ”Begitu kiai sudah oke (setuju), baru kita masuk untuk mengajarkan AI,” ujar Ulun.
Upaya itulah, katanya, yang diterapkan Microsoft, perusahaan teknologi global, dalam menjalankan program AI Teaching Power. Program kolaborasi Microsoft Elevate dan NUCare Global by LazisNU ini melatih serta membekali guru dengan keterampilan praktis memanfaatkan AI dalam pembelajaran berbasis nilai.
Program yang didukung Kementerian Agama dan RMI PBNU ini menyasar 50.000 guru dan tenaga pendidik dari 512 ponpes di Tanah Air. Selain mendapatkan literasi terkait AI, peserta juga mencoba memanfaatkan AI secara langsung. Dimulai sejak November 2025, program ini ditargetkan selesai pada pertengahan 2026.
Menurut Ulun, sejauh ini, ponpes menyambut baik program pelatihan AI ini. Tidak sedikit yang menyatakan kekagumannya pada teknologi ini. ”Ada kiai yang sampai bilang, (AI) ini makhluk apa? Kenapa ada makhluk yang sepintar ini di akhir zaman,” ucapnya diiringi senyum.
Ia menilai, ponpes memiliki modal besar dalam mengadopsi AI. Selain santri yang berjumlah lebih dari 5 juta orang, ponpes juga memiliki basis keagamaan yang dapat menguatkan pengembangan teknologi. ”AI itu bisa menjadi elevator untuk mendorong transformasi,” ucap Ulun yang kerap memakai AI untuk riset hukum Islam.
Meka Shafa, Project Lead AI Teaching Power dan Chief Strategy NUCare Global-LazisNU, mengatakan, santri sebenarnya lebih mudah mengadopsi AI karena sudah tumbuh bersama teknologi. Itu sebabnya, dalam program ini, pihaknya lebih fokus membekali guru dan tenaga pendidik.
”Guru itu, kan, umurnya dari 20 sampai 60-an tahun. Literasi dasar digital saja belum optimal. Bahkan, ada guru-guru yang tidak tahu cara buka e-mail,” ungkap Meka. Padahal, dalam pembelajaran berbasis digital, seperti learning management system (LMS), e-mail sangat dibutuhkan.
”Literasi digital ini yang menjadi tantangan terbesar. Tapi, kami tetap berproses dengan memberikan literasi dasar dulu lalu sampai ke workshop soal AI,” ujar Meka. Jika guru dan tenaga pendidik di pesantren sudah mahir memanfaatkan AI, mereka akan menjadi teladan bagi santri.
Hingga kini, sebanyak 27.000 guru dan tenaga pendidik telah mengikuti program AI Teaching Power di sejumlah provinsi. Selain belajar tentang dasar-dasar AI, peserta juga dibekali model bahasa besar (large language model/LLM) hingga etika AI.
Manfaat dari program pelatihan AI di ponpes pun mulai terlihat. Ia mencontohkan salah satu guru di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, yang memanfaatkan AI untuk menganalisis dan menilai pelafalan, tajwid, dan struktur bacaan setiap hafalan santri.
”Di sana, para santri diwajibkan setoran surah (hafalan). Bayangkan, guru harus menilai semua hafalan santri yang jumlahnya banyak. Ini cukup melelahkan. Dengan AI, proses pembelajarannya bisa lebih efektif,” ujarnya. Penggunaan AI juga dapat dikembangkan untuk pelajaran matematika hingga bahasa Arab.
Arief Suseno, AI Skills Director Microsoft, mengatakan, selama ini banyak program pelatihan AI yang digelar berbagai pihak. Namun, pondok pesantren belum sepenuhnya tersentuh. Itu sebabnya, pihaknya fokus untuk mendorong pesantren mengadopsi AI meski kuotanya masih 50.000 guru dan tenaga pendidik.
”Memang kuotanya tidak cukup banyak, tapi kami usahakan untuk bisa terus berkembang. Kami tidak hanya melihat kuantitas, tetapi dampak dari pelatihan itu, seperti yang terlihat di sejumlah pesantren,” ujarnya. Apalagi, menurut dia, ketersediaan talenta digital masih menjadi problem di Indonesia.
Memang kuotanya tidak cukup banyak, tapi kami usahakan untuk bisa terus berkembang. Kami tidak hanya melihat kuantitas, tetapi dampak dari pelatihan itu, seperti yang terlihat di sejumlah pesantren.
”Memang, kayaknya semua orang itu sudah pegang gadget. Tapi, kalau ke daerah-daerah, ternyata masih banyak yang belum kenal e-mail, mouse. Jadi, memang sangat besar gap (talenta digital) antara daerah dan pusat, barat dan timur,” ujarnya. Itu sebabnya, pelatihan AI menjadi salah satu upaya membangun talenta digital.
Dalam beberapa kesempatan, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengakui, Indonesia masih kekurangan talenta digital, termasuk terkait dengan AI. ”Kita butuh sekitar 9 juta talenta (hingga 2030), dan kita juga harus berpikir bukan talenta yang cuma sebagai users, tapi (juga) sebagai deployer sekaligus developer,” ujarnya dalam rilis beberapa waktu lalu.
Kementerian Komunikasi dan Digital berupaya mencetak talenta digital di dalam negeri, antara lain melalui AI Talent Factory, program pelatihan agar talenta menciptakan solusi AI. Pihaknya juga telah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Uni Emirat Arab untuk mencetak 10 juta talenta coder (ahli koding) dalam tiga tahun ke depan.
Berbagai pihak pun perlu berkolaborasi membangun talenta AI, termasuk di pondok pesantren. Tradisi lama yang baik tetap terjaga di pesantren, tetapi juga terbuka untuk tradisi baru yang membawa kemaslahatan. Pemanfaatan AI untuk pembelajaran salah satu contohnya.





