Rasa Aman Perempuan yang Masih Terhadang di Ranah Personal dan Publik

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Perempuan di dunia didukung untuk terus maju sesuai suara hati dan potensi dirinya. Namun, berdasarkan kajian World Economic Forum di Laporan Kesenjangan Gender Global 2025, dunia masih membutuhkan sekitar 135 tahun untuk mencapai kesetaraan ekonomi penuh.

 Langkah maju perempuan untuk menciptakan kesetaraan masih terhadang rasa aman yang belum tercipta di ruang personal hingga ruang publik. Selain itu, akses terhadap peluang yang setara, serta dukungan yang memungkinkan mereka berkembang tanpa hambatan struktural, masih menjadi tantangan. 

Perayaan Hari Perempuan Internasional menjadi ajakan bagi negara-negara di dunia untuk meyakini, ketika perempuan maju, dampaknya akan dirasakan jauh lebih luas. “Karena hidup perempuan tidak mudah. Ada akar penyebab seperti budaya patriaki, penyalahgunaan relasi kuasa, dan kekerasan berbasis jender  yang membuat perempuan menjadi tidak berdaya. Jadi, harus ada dukungan dan kolaborasi untuk menciptakan lingkungan yang memampukan perempuan untuk berkarya,” kata Pelaksana Tugas Direktur Eksekutif Yayasan Pulih Livia Iskandar, Kamis (5/3/2026).

Livia mengatakan mendukung perempuan untuk bisa setara berarti memberikan rasa aman sebagai fondasi kemajuan. Namun, bagi banyak perempuan, kekerasan berbasis jender masih menjadi ancaman.

“Rasa aman dari kekerasan dalam kehidupan sehari-hari masih  dialami banyak perempuan.  Bahkan dalam ranah personal pun, banyak perempuan tanpa sadar jadi korban keekrasan. Lalu, di ranah publik, perempuan juga masih rentan terhadap keekrasan berbasis jender,” kata Livia dalam diskusi media bertajuk "Beauty That Moves: International Women's Day" yang digelar L’Oreal Indonesia di Jakarta,

Baca JugaPerempuan Indonesia Masih Mengalami Kekerasan dan Keterbatasan Akses Teknologi

Data Catatatan Tahunan Komisi Nasional Perempuan 2024 mencatat 445.502 kasus kekerasan berbasis jender terhadap perempuan (KBGtP) sepanjang 2024. Jumlah ini meningkat lebih dari 43.000 kasus dibanding tahun sebelumnya.

Bentuk kekerasan yang dilaporkan pun beragam. Kekerasan seksual paling banyak dilaporkan sebesar 36,43 persen; kekerasan psikis 26,94 persen; kekerasan fisik 26,78 persen, dan kekerasan ekonomi 9,84 persen.

Kekerasan di ruang personal

Mayoritas kasus terjadi di ranah personal dengan 309.516 kasus, disusul ranah publik atau komunitas sebanyak 12.004 kasus. Di tengah perkembangan dunia digital, kekerasan berbasis jender juga semakin marak terjadi di ruang online. Hal ini memperluas risiko yang dihadapi perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jika diibaratkan pohon, kekerasan yang terlihat hanyalah daun. Akar persoalannya ada pada kurangnya edukasi, ketimpangan relasi, dan sistem yang belum sepenuhnya berpihak pada korban. Karena itu, pencegahan harus menyasar akar melalui edukasi, dukungan yang berpihak, dan akses bantuan yang mudah dijangkau,” ujar Livia.

Psikolog Agata Paskarista mengatakan kekerasan yang paling mudah disadari jika meninggalkan luka fisik. Padahal, ada juga kekerasan psikis yang berdampak jangka panjang sehingga butuh terapi untuk melepaskan beban emosional dan trauma kekerasan.

Kekerasan psikis bisa dibungkus sebagai perhatian, kontrol, atau candaan, padahal dampaknya sangat serius. Karena itu, edukasi tentang tanda kekerasan menjadi kunci agar kekerasan dapat dikenali lebih dini.

“Misal manipulasi, ini kekerasan yang dilakukan ke orang yang rentan. Dalam hubungan relasi personal pun banyak terjadi karena kepintaran pelaku memutarbalikkan korban. Karena tidak  dipukul,  tidak didorong, atau tidak disakiti secara fisik, ini sering lambat disadari, tanpa sadar korban sudah di bawah kontrol pelaku, mulai dari waktu, keuangan, hingga kebebasan yang sangat dibatasi,” kata Agata.

Baca JugaPerempuan Masih Rentan Jadi Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga

Menurut Agata, banyak terjadi dalam relasi pasangan, istri merasa kebingungan apakah yang ia alami kekerasan atau bukan. Perempuan merasa suami baik, tidak berselingkuh, atau tidak mabuk-mabukan, namun istri sangat dikontrol secara berlebihan.

Yang juga ramai diperbincangkan belakangan ini terkait manipulasi kepada minor yaitu child grooming. Si anak perempuan mulai dikasih hadiah yang membuatnya merasa senang dan pelaku mendekati keluarga/orangtua.

Jika kepercayaan anak sudah berhasil didapat, agenda pelaku mulai berjalan. Korban dieksploitasi, ada yang sampai diisolasi dari orang terdekat.

Dampak dari korban yang sampai mengalamai kekerasan psikis, kata Agata, tidak sepele. “Karena ada kebingungan emosional, kebingungan identitas diri, kehilangan percaya diri, perasaan cemas yang tinggi. Satu  pelaku yang memperlakukan itu ke diri korban, namun korban bisa merasa dunia mengancam dirinya,” ujar Agata.

Agata menegaskan pentingnya membangun keberanian untuk bertindak dengan cara yang aman dan tepat. Hal ini tidak selalu berupa konfrontasi.

Terkadang kebebasan tersebut terhambat dengan adanya hubungan personal yang mengekang dan merenggut kebebasan tadi, seringkali tanpa sadar.

Langkah sederhana tetapi penting yaitu memastikan korban merasa aman, mengalihkan situasi, atau mencari bantuan. Selain itu yang terpenting, jangan menyalahkan korban.

”Kekerasan bukan kesalahan korban, dan victim-blaming hanya memperparah trauma serta membuat korban semakin enggan melapor,” katanya.

Terkait kekerasan pada perempuan di ranah personal, YSL Beauty bekerja sama dengan Yayasan Pulih menghadirkan program global Abuse Is Not Love untuk meningkatkan kesadaran mengenai kekerasan dalam hubungan berpasangan. Melalui kampanye Abuse Is Not Love, YSL Beauty mengedukasi masyarakat mengenai 9 tanda kekerasan dalam hubungan agar orang dapat mengenalinya sejak dini, yaitu: mengabaikan, meremehkan, mengontrol, memanipulasi, mengancam, mencemburui, mengintrusi, mengisolasi, dan mengintimidasi.

 “YSL Beauty adalah brand yang merayakan liberation atau kebebasan. Namun, terkadang kebebasan tersebut terhambat dengan adanya hubungan personal yang mengekang dan merenggut kebebasan tadi, seringkali tanpa sadar,” kata Venesia Rizani, Business Unit General Manager YSL Beauty & Armani Beauty.

Perempuan berharga

Adapun untuk mencegah kekerasan pada perempuan di ruang publik, L’Oréal Paris menghadirkan program Stand Up Melawan Kekerasan Seksual di Ruang Publik. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran sekaligus membekali masyarakat dengan langkah intervensi yang aman.

“Semua perempuan harus menyadari bahwa dirinya berharga, terbebas dari berbagai bentuk pelecehan yang sayangnya masih menjadi isu utama perempuan di dunia maupun Indonesia. Kami percaya bahwa ruang publik yang aman adalah fondasi agar perempuan dapat beraktivitas, berkarya, dan berkembang secara optimal,” ujar Rosyanti Chijanadi, Brand General Manager L’Oréal Paris.

Lewat program Stand Up  diperkenalkan metodologi 5D  untuk melwan keekrasan di ruang publik. Ada lima langkah sederhana yang dapat dilakukan siapa pun dengan aman; mulai dari Dialihkan, Ditegur, Dilaporkan, Ditenangkan, dan Dokumentasikan.

Sementara itu, Chief of Corporate Affairs, Engagement & Sustainability L’Oréal Indonesia Melanie Masriel, mengatakan perayaaan Hari Perempuan Internasional menjadi momen refleksi dan komitmen perusahaan untuk terus mendorong kesetaraan yang lebih nyata. “Karena itu, kami berupaya menghadirkan tiga hal yang kami yakini penting bagi kemajuan perempuan: rasa aman sebagai fondasi, peluang yang nyata untuk berkembang, serta pengakuan atas kontribusi dan potensi mereka,” ujar Melanie.

Setelah membangun rasa aman sebagai langkah awal, kata Melanie, perempuan harus diberi kesempatan.  Tanpa akses terhadap pendidikan, pekerjaan formal, dan jalur pengembangan karier yang jelas, potensi yang dimiliki perempuan kerap terhenti di tengah jalan.

Data Badan Pusat Statistik  2025 menunjukkan perempuan di Indonesia masih mewakili 36,66 persen pekerja formal. Di sisi lain, sekitar 40 persen perempuan pernah mengambil jeda karier untuk menjalankan peran pengasuhan dan tanggung jawab keluarga.

“Ketika akses perempuan terhadap peluang ekonomi terbatas, kontribusi yang seharusnya bisa dioptimalkan bagi keluarga, komunitas, dan pertumbuhan ekonomi ikut terhambat,” kata Melanie. 

Baca JugaMembantu Perempuan Kembali ke Dunia Kerja

Menjawab kebutuhan tersebut, L’Oréal Indonesia menghadirkan dukungan komprehensif melalui berbagai inisiatif yang dirancang untuk memperkuat kemandirian dan keberlanjutan karier perempuan. Ada program Beauty for a Better Life yang menyediakan pelatihan tata rambut dan tata rias bersertifikat secara gratis bagi perempuan dengan keterbatasan sosial ekonomi.

Bagi perempuan yang ingin kembali bekerja setelah jeda karir karena melakukan pengasuhan  keluarg  disediakan program Career Reconnect Program. Program ini dirancang khusus untuk membantu perempuan yang mengambil jeda karir untuk membangun kembali kepercayaan diri profesional dan terhubung kembali dengan dunia kerja.

“Ketika kesempatan benar-benar dibuka dan kontribusi benar-benar diakui, perempuan tidak hanya mengubah hidupnya sendiri, tetapi juga menciptakan dampak yang lebih luas bagi keluarga, komunitas, dan masa depan Indonesia,” kata Melanie.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tinggal Hitungan Bulan Jelang Kick-off, Pemerintah Meksiko Temui FIFA Bahas Keamanan Piala Dunia 2026
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Jadwal Buka Puasa Wilayah Maluku Hari Ini, Jumat 6 Maret 2026
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Putri KW ke Perempat Final All England 2026, Jonatan Christie Tersingkir
• 23 jam lalurepublika.co.id
thumb
UEA Bebaskan Denda Overstay Visa bagi Turis Terdampak Penutupan Wilayah Udara
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Orang Indonesia Memang Belum Siap Melihat dan Menerima Perbedaan
• 4 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.