Dodol, salah satu makanan khas Betawi, ternyata diproduksi melalui proses yang tidak mudah. Salah satu tahapan dalam pembuatan dodol adalah mengaduk seluruh bahan selama hampir 10 jam.
Hal itu diungkapkan pemilik toko Dodol Nyak Mai, Juwani (65). Ia mengatakan proses pembuatan dodol terdiri dari beberapa tahapan yang melibatkan sejumlah orang.
"Kalau yang gulung bertiga, kalau yang ngaduk berenam, sepuluh lah sama yang masak," ujar Juwani kepada wartawan di toko dodol miliknya di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (6/3).
Proses pembuatan dodol ini juga disorot Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Ia menilai proses tersebut mencerminkan konsep gotong royong yang kuat dalam budaya Betawi.
Pramono mengaku terkesan saat mengunjungi toko Dodol Nyak Mai, terutama ketika menyaksikan langsung proses pengadukan dodol.
"Saya terkesan sekali karena dodol ini bagi warga Betawi sebenarnya bagian dari konsep gotong royong," kata Pramono.
"Inilah kekhasannya, keunggulannya, kelebihannya dodol, yaitu yang kita sebut dengan gotong royong," sambungnya.
Pramono bahkan sempat mencoba mengaduk dodol saat berkunjung ke toko tersebut. Aksinya kemudian diikuti oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Wibowo, yang hadir sebagai Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi.
Biasanya, proses pengadukan dodol dilakukan selama sekitar 10 jam tanpa berhenti secara bergiliran oleh tiga hingga empat orang. Bahan yang digunakan pun cukup sederhana, yaitu gula merah, santan, tepung, dan garam tanpa tambahan air maupun bahan pengawet.
Pramono mengaku bersyukur dapat mengunjungi toko dodol yang telah berdiri selama 38 tahun tersebut. Saat ini, usaha Dodol Nyak Mai telah memasuki generasi kedua dan dikelola oleh Juwani, putri dari Nyak Mai.
"Secara pribadi saya bersyukur hari ini bisa bertemu langsung dengan Mpok Juwani dan Bang Udin, yang sekarang menjadi generasi kedua dari Dodol Nyak Mai," tutur Pramono.
Sebagai Gubernur DKI Jakarta, Pramono berharap proses pembuatan dodol dapat mengalami modernisasi, sejalan dengan keinginan Juwani yang ingin ada pembaruan dalam proses produksi. Meski begitu, ia menegaskan agar unsur tradisionalnya tetap dipertahankan.
"Harapannya dilakukan modernisasi, tetapi tidak menghilangkan tradisi yang ada di tempat ini. Tadi ketika Ibu menyampaikan ingin dimodernisasi dan dibantu, mudah-mudahan bisa dilakukan. Namun sekali lagi, jangan sampai yang lama ini dihilangkan," ujar Pramono.
Pramono juga berharap kuliner khas Betawi ini dapat ditingkatkan dari sisi pengemasan agar lebih menarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Jakarta. Ia bahkan mengatakan bahwa dodol Nyak Mai akan dipesan untuk acara di Balai Kota.
"Saya merasa kuliner tradisional seperti ini perlu kita perbaiki, terutama dari sisi packaging agar lebih menarik. Sehingga siapa pun yang berkunjung ke Jakarta bisa mencoba dodol Nyak Mai. Nanti saya juga minta untuk acara-acara di Balai Kota bisa pesan di tempat ini," kata Pramono.
Pramono juga menyatakan akan mendukung upaya modernisasi produksi dodol yang dilakukan Juwani. Ia mengatakan hal tersebut akan dikoordinasikan dengan Dinas UMKM DKI Jakarta.
"Mengenai peralatan yang disampaikan Bu Juwani, tentunya kami akan mendukung. Jika memang perlu modernisasi atau pemberdayaan UMKM lainnya, nanti saya minta Kepala Dinas UMKM, Bu Ratu, untuk mempelajari dan menyiapkannya," ucap Pramono.
Toko Dodol Nyak Mai sendiri menjual dua varian dodol, yakni original dan wijen. Harga dodol dibanderol Rp 115 ribu per kilogram, dan biasanya naik menjadi Rp 120 ribu per kilogram saat Idul Fitri.
Menurut Juwani, penjualan dodolnya tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga dari luar daerah.
"Paling banyak dari Bandung," ujar Juwani.





