Musim kemarau di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diprediksi mulai terjadi pada April hingga awal Mei 2026. Pada periode tersebut, sebagian wilayah DIY diperkirakan mulai memasuki peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau.
Kepala Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Reni Kraningtyas, mengatakan awal musim kemarau di wilayah DIY umumnya memang terjadi pada dasarian ketiga April hingga dasarian pertama Mei 2026. Adapun puncak musim kemarau sendiri diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
“Umumnya di DIY awal musim kemarau terjadi pada bulan April Dasarian III hingga Mei Dasarian I 2026. Puncak kemarau di DIY terjadi pada Agustus 2026,” kata Reni dihubungi Pandangan Jogja, Jumat (6/3).
Kategori di Bawah Normal
Selain periode kemarau, sifat musim kemarau tahun ini di DIY juga diprediksi berada pada kategori di bawah normal. Hal ini berarti jumlah curah hujan selama periode kemarau diperkirakan lebih sedikit dibandingkan rata-rata klimatologis pada tahun-tahun sebelumnya.
Reni menjelaskan kondisi tersebut berpotensi membuat musim kemarau terasa lebih kering dari biasanya di wilayah DIY.
“Sifat musim kemarau di bawah normal artinya curah hujan selama periode musim kemarau diperkirakan lebih sedikit dari kondisi rata-rata klimatologisnya. Dengan kata lain, kondisi musim kemarau berpotensi lebih kering dari biasanya di wilayah DIY,” jelasnya.
Pihaknya mengingatkan masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini. Pengelolaan sumber daya air dinilai menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan selama periode kemarau mendatang.
Reni mengatakan masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam menggunakan air, terutama di wilayah yang selama ini rawan mengalami kekeringan saat musim kemarau berlangsung. Selain itu, sektor pertanian juga diminta untuk menyesuaikan pola tanam agar dampak kekeringan dapat diminimalkan.
“Masyarakat diimbau untuk menghemat penggunaan air, terutama di daerah yang rawan kekeringan, serta bagi petani agar menyesuaikan pola tanam dan pengelolaan irigasi. Selain itu, masyarakat juga perlu mewaspadai potensi kebakaran lahan atau hutan selama periode kemarau,” katanya.





