Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,62% ke level 7.699,68 pada perdagangan akhir pekan, Jumat (6/3/2026). Saham ENRG, BBCA, hingga PTRO turun ke zona merah.
Berdasarkan data RTI Infokom, sebanyak 168 saham menguat, 555 saham melemah, dan 94 saham stagnan. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada kisaran 7.500-7.700. Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp13.654 triliun.
Saham PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) tercatat melemah sore ini, dengan turun 13,10% ke level Rp1.825 per saham.
Demikian juga saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang melemah 1,41% ke level Rp7.000 per saham.
Saham PT Petrosea Tbk. (PTRO) juga melemah 5,07% ke level Rp4.960 per saham.
Sementara itu, sejumlah saham melemah sore ini, dengan MEDC yang turun 3,02% ke level Rp1.765, saham BBRI turun 2,13% ke level Rp3.670, dan saham BUMI turun 4,17% ke level Rp230 per saham.
Baca Juga
- Trump Bawa Sentimen Negatif untuk IHSG, Investor Ritel Awas 'Tergocek' Volatilitas Pasar
- IHSG Dibuka Melemah, Saham BMRI, BUMI, hingga PTRO Jatuh ke Zona Merah
- IHSG Hari Ini (6/3) Diprediksi Bergerak Terbatas, Cek Saham TAPG hingga ESSA
Tim riset Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan IHSG tertekan oleh sentimen global. Bursa regional Asia bergerak variatif dengan pasar masih tertekan konflik yang semakin memanas di Timur Tengah. Konfrontasi bersenjata antara aliansi AS-Israel melawan Iran telah berlangsung selama satu minggu, dengan pihak Tehran membalas melalui serangan rudal dan pesawat tanpa awak secara masif di kawasan Teluk.
Ketegangan geopolitik global melonjak tajam setelah Presiden Trump menyatakan niatnya untuk mengintervensi pemilihan kepemimpinan di Iran secara langsung dan penolakan DPR AS terhadap resolusi damai, yang memberikan lampu hijau bagi Trump untuk melanjutkan kebijakan militernya.
Dampak dari perang ini telah mengerek harga minyak dunia, yang pada gilirannya memicu kekhawatiran inflasi global. Akibatnya, ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga oleh Federal Reserve kini bergeser mundur ke bulan September atau Oktober, karena tekanan ekonomi yang membebani negara-negara importir energi.
Sementara itu, dari dalam negeri, semakin memanasnya konflik di Timur Tengah memberikan dampak bagi penguatan harga energi global yang tidak terhindarkan dengan potensi konflik jangka panjang.
Pilarmas Sekuritas menilai situasi konflik melibatkan Iran dan AS-Israel merupakan mimpi buruk bagi negara importir minyak seperti Indonesia.
“Dampaknya tidak hanya terasa di sektor energi, tetapi merambat ke seluruh sendi ekonomi domestik melalui jalur fiskal dan moneter,” tutur Pilarmas Sekuritas.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





